Totto-chan[1], Novel Gadis Cilik di Jendela; Sebuah Pendekatan Kritis-Keaktoran dan Analisis Kuasa-Pengetahuan atas Dunia Pendidikan Anak

200px-Totto-chanTotto Chan : Gadis Cilik di Jendela Karya : Tetsuko Kuroyanagi Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2007 (Juni, Cetakan XIII) Tebal : 272 halaman Cover: First Asian edition cover (English)

Pendahuluan

Akhir-akhir ini banyak media masa yang memberikan perhatian khusus kepada dunia pendidikan, dengan cara menyoroti secara “rutin” masalah-masalah di seputarnya. Terlebih pasca terbentuknya kabinet Jokowi-JK yang mempunyai keinginan mendasar terkait dengan revitalisasi kebudayaan nasional (baca: Revolusi Mental), untuk mengimbangi rangkaian agenda reformasi birokrasi-kelembagaan yang telah dicanangkan kabinet-kabinat sebelumnya satu dekade terakhir.

Tak kebetulan juga, bertepatan dengan hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei kemarin. Dalam momen ini, banyak isu yang naik kepermukaan. Baik itu yang “digarap” oleh para pengamat, aktivis, maupun oleh para praktisi pendidikan sendiri. Bahkan (“menarik”) ada salah satu iklan produk susu yang turut menggunakan isu pendidikan (baca: indonesia mengajar—yang telah menjadi brand mentri pendidikan kita) sebagai tema “jualan”nya; Forum Anti-Korupsi dan Transparansi Anggaran (FAKTA) mendekati dunia pendidikan melalui isu transparansi, prestasi dan orientasi pengelolaan dana pendidikan[2], Rita Widyasari Bupati Kukar mengetengahkan isu kenaikan intensif bagi guru-guru yang mau mengajar di tempat-tempat terpencil[3], Isu perbaikan sistem ujian nasional (UN), perombakan kurikulum, ketertimpangan akses, isu fasilitas dan infrastruktur, bergulirnya wacana pendidikan komunitas, Reswanto seorang pemuda asli Sakai berjuang bersama kelima rekannya membangun sebuah Madrasah Tsanawiyah, sekaligus mendorong anak-anak dari generasi baru kampungnya untuk “keluar” dari pola kehidupan adat yang kurang kompetitif dengan cara membekali diri dengan menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya, dan terakhir, pada hari tulisan ini dibuat, juga diberitakan pada salah satu televisi swasta terkait penuntutan sejumlah mahasiswa terhadap biaya sekolah gratis hingga jenjang setinggi-tingginya minimal SMA.

Jauh-jauh hari, bahkan semenjak era Ki Hajar Dewantara,[4] Soeharto, hingga era reformasi sebelum kabinet Jokowi-JK, isu pendidikan adalah selalu jadi isu yang utama untuk dibicarakan dalam rangka agenda membangun bangsa. Karena itu maka wajarlah apabila hingga saat ini masih banyak keinginan-keinginan untuk diperlukannya adanya penataaan ulang sistem/model pendidikan Indonesia sampai pada tahap yang paling idealnya, di mana—masih sama—pendidikan lewat sekolah merupakan (jadi) salah satu lokus utama untuk memulai revolusi mental-kebudayaan. Dengan bahasa lain, dimulai dengan anak-anak sekolahan. Mereka harus mengalami proses pedagogis yang efektif sehingga—sebagai wakil dari representasi masyarakatnya yang telah mendapatkan kesempatan untuk bisa menikmati berbagai fasilitas pendidikan—mampu membuat etos warga negara ini bisa terlihat lebih baik, dan siap dalam menghadapi masa depan yang semakin maju, kompetitif juga cerah; mulai dari pembekalan pengetahuan diskursif (discursive knowlegde), pengetahuan praktis (practical knowledge), sampai penanaman kesiapan pendasaran sikap mental dalam menanggapi fakta kenyataan hidup yang real, lingkungan, dan situasi yang berada disekitarnya.

Dalam konteks inilah (baca: kesibukan diskursus tentang pendidikan konvensional-formal), sebagai sebuah diskursus alternatif prihal dunia pendidikan, ke muka, saya coba hadirkan kembali salah satu Novel yang—nungkin—sudah begitu dikenal di kalangan mahasiswa-mahasiswa yang notabene studi/bergelut dalam isu pendidikan; Novel Totto-Chan: Gadis cilik di jendela karya Tetsuko Kuroyanagi seorang Novelis kelahiran Nogisaka, Tokyo, dalam sebuah pembahasan.

Landasan Teori

Pendekatan dalam membahas Novel ini menggunakan pendekatan “kritis”, sebuah pendekatan kesusastraan yang dikembangkan berdasarkan bangunan tradisi teori besar analisis struktural-konflik Marxian, lebih khusus lagi pendekatan kritis atas pendidikan yang dikembangkan oleh Paulo Freire. Meskipun sebagai sebuah novel, Totto-chan sendiri adalah sebuah Novel yang secara tematik akan dengan mudah sekali difahami, bahkan oleh kaca mata “awam”; novel tersebut berisi tentang kisah dari “model” pendidikan alternatif yang hendak ditawarkan penulisnya. Namun, melalui pendekatan analisis struktural-konflik-keaktoran, saya akan mencoba masuk lebih dalam lagi kepada pembahasan terutama pada isu budaya “relasi kuasa-pengetahuan” antara nara didik dan pengajarnya.

Paulo Freire: adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen baik dari kalangan Protestan maupun Katolik yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Freire dilahirkan di Recife, Brasil pada 19 September 1921. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang oleh karena keadaan ekonomi nasional yang buruk saat itu, membuatnya juga merasakan bahwa dalam masyarakat yang seperti ini terjadi ketertimpangan antara struktur masyarakat “atas dan bawah”.[5]

Dengan latar belakang sosial budaya inilah kemudian kerangka pemikiran Paulo Freire—yang secara historis memiliki akar historis tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia saat ini—menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali kembali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia.

Garis besar pemikiran Paulo Freire:[6]

Untitled

Pendidikan “Gaya Bank”.

Dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Brasilia pada masa Freire, anak didik tidak dilihat sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi, murid/nara didik hanya menghafal seluruh yang diceritrakan oleh gurunya tanpa mengerti.

Nara didik adalah obyek dan bukan subyek. Pendidikan yang demikian itulah yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan “gaya bank”. Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada nara didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Nara didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya nara didik itu sendiri yang “disimpan”, sebab miskinnya daya cipta. Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia; Seorang nara didik yang lulus dengan (hanya) keahlian ilmu mekanika yang diajarkan oleh pengajarnya dan tanpa proses belajar lagi misalnya, sampai kapanpun akan menjadi seorang mekanik yang disusruh-suruh dan senantiasa berada dibawah struktur-kuasa-ekonomi dan sosial pemilik perusahaan di tempat ia bekerja. Di mana, si pemilik modal tersebut bisa membeli “produk-pengetahuan” (baca:manusia berkeahlian khusus) yang sudah disiapkan oleh makelar-makelar pendidikan melalui lulusan-lulusannya. Melalui akses kuasa-modal, bahkan suatu saat pemilik modal tersebut bisa memecatnya apabila merasa sudah tidak dibutuhkan lagi dalam struktur mekanisme-produksi sebuah perusahaan.

Pendidikan “gaya bank” itu ditolak dengan tegas oleh Paulo Freire. Penolakannya itu lahir dari pemahamannya tentang manusia. Ia menolak pandangan yang melihat manusia sebagai mahluk pasif yang tidak perlu membuat pilihan-pilihan atas tanggung jawab pribadi mengenai pendidikannya sendiri. Bagi Freire manusia adalah mahluk yang berelasi dengan Tuhan, sesama dan alam. Dalam relasi dengan alam, manusia tidak hanya berada di dunia tetapi juga bersama dengan dunia[7]. Kesadaran akan kebersamaan dengan dunia menyebabkan manusia berhubungan secara kritis dengan dunia. Manusia tidak hanya bereaksi secara refleks seperti binatang, tetapi memilih, menguji, mengkaji dan mengujinya lagi sebelum melakukan tindakan. Tuhan memberikan kemampuan bagi manusia untuk memilih secara reflektif dan bebas. Dalam relasi seperti itu, manusia berkembang menjadi suatu pribadi yang lahir dari dirinya sendiri. Bertolak dari pemahaman yang demikian itu, maka ia menawarkan sistem pendidikan alternatif sebagai pengganti pendidikan “gaya bank” yang ditolaknya. Sistem pendidikan alternatif yang ditawarkan Freire disebut pendidikan “hadap-masalah”.

Pendidikan “Hadap-Masalah”:

Pendidikan “hadap-masalah” sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitas disekitarnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi dan dididik untuk menghadapi dan berkreasi dalam realitas secara mandiri; Lebih jauh untuk membebaskan diri dari penindasan pendidikan ideologi maupun budaya, mampu mengambil keputusan dalam struktur ekonomi dan praktik-praktik politik-penindasan semacamnya.

Sinopsis

Totto-chan, adalah seorang gadis kecil yang dianggap nakal oleh guru-guru SD nya. Bahkan dia dianggap memiliki tingkahlaku yang aneh untuk anak seusianya. Padahal dia hanya memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Mulai dari kesukaannya membuka tutup laci-mejanya ketika seorang guru sedang memberikan pelajaran di depan kelas, berdiri berjam-jam di depan jendela ketika pelajaran sedang berlangsung untuk berbicara dengan burung, hingga memanggil penyanyi jalanan untuk mendekat ke arahnya. Dan hal inilah yang membuat mama Totto-chan dipanggil ke sekolah. Alhasil, karena kebiasaannya yang dianggap sebagai prilaku “kenakalan”nya tersebut, Totto-chan dikeluarkan lagi dari sekolah.

Di tenggah kegelisahaannya akan kebiasaan anaknya itu, mama Totto-chan untuk kesekian kalinya mendaftarkan Totto-chan di salah satu sekolah SD yang lain. Berbeda dengan sekolah-sekolah sebelumnya, Totto-chan justru diterima dengan senang hati oleh Pak Kobayashi–kepala sekolah di Tomo Gakuen—dengan kebiasaannya tersebut semenjak Pak Kobayashi bertemu Totto-chan untuk pertama kali di kantornya.

Ternyata, bahkan bagi Totto-chan sendiri, Tomo Gakuen adalah sekolah yang berbeda dengan sekolah-sekolahnya sebelumnya. Tomo Gakuen adalah sebuah sekolah yang benar-benar berbeda dari sekolah pada umumnya: Ruang kelasnya terbuat dari deretan gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai lagi, di sekolah tersebut murid-murid dapat bebas belajar apa saja tanpa terkekang oleh jadwal, mereka dapat memilih pelajaran apa saja yang disukainya: ada yang memulai dengan pelajaran fisika dahulu, menggambar dahulu, menghitung dahulu, musik dahulu dsb. Sekolah ini memiliki aktivitas yang berbeda-beda dan mengejutkan bagi murid-murid di sana setiap harinya. Seperti pergi berjalan-jalan ke atas bukit, ke pinggir sungai dan berkemah sambil melihat cahaya gerbong kereta yang baru, belajar tentang persahabatan, belajar untuk saling menghormati, dan menjadi diri sendiri. Hal tersebut memicu semangat bersekolah dan rasa ingin tahu Totto-chan serta seluruh murid-murid Tomo Gakuen lainnya.

Hari demi hari dilewati Totto Chan bersma Tai-chan yang mahir belajar Fisika dan Bahasa Inggris, Miyo-chan yang suka memuji rambut kepang Totto-chan, Sakko-chan yang selalu disiplin dalam belajar, Oe yang nakal dan suka menarik kepang Tottochan sampai Totto-chan membungkuk, semua dilewati Totto-chan dengan kegembiraan dan penuh peristiwa yang tak terduga berkat apa yang dicanangkan oleh Pak Kobayashi.

Namun sayang, sekolah itu tidak dapat bertahan lama. Perang pasifik pecah, Perang Dunia kedua yang mulai melanda Jepang membuat sekolah yang sangat mereka cintai hancur dan terbakar akibat bom yang dijatuhkan oleh pesawat sekutu di Tokyo. Seluruh murid Tomo Gakuen menangis melihat sekolahnya yang sudah menjadi abu. Mereka semua tidak mengetahui bagaimana perasaan Pak Kobayashi pada saat itu, tapi meskipun demikian Totto-chan sadar betul, bahwa dirinya merasa sesak sebab cita-citanya untuk menjadi kepala sekolah di Tomo Gakuen telah retak begitu saja malam itu.

Pembahasan

Novel Totto-chan dibuka dengan sebuah bab yang diberi judul Stasiun Kereta, beberapa dialog dan beberapa adegan di dalamnya menunjukkan sikap “nakal” Totto-chan. Tapi sebenarnya, novel Totto-chan baru benar-benar dimulai di bab kedua yang berjudul; Gadis cilik di Jendela.[8] Sebuah judul bab yang juga menjadi sub judul dari Novel Totto-chan tersebut.

Bab kedua adalah bab yang menunjukkan sebuah situasi konflik. Artinya, dalam novel ini, Tetsuko sudah semenjak awal ingin menunjukkan kepada kita akan situasi konflik yang berada dalam dunia pendidikan, yang menjadi tema besar novelnya.

Bab kedua berisi hampir seluruh keluhan seorang guru—mewakili guru-guru Totto-chan lainnya—yang memaparkan ketidaknormalan-ketidaknormalan prilaku Totto-chan kepada mama Totto-chan. Dalam kerangka struktural-konflik, guru tersebut bisa kita “baca” sebagai mewakili simbol guru-guru konvensional pada umumnya. Para guru-guru yang menurut pandangan Paulo Freire disebut sebagai guru model “gaya bank”. Guru yang mencintai kondisi normal, kondisi yang “bisu”, kondisi murid-murid yang “diam”, taat pada kondisi didaktik dan poltik-kuasa-pengetahuan yang satu arah:

Putri Anda mengacaukan kelas kelas saya.”

Meskipun dalam dialog selanjutnya, guru tersebut menyatakan bahwa kasabarannya sudah benar-benar habis, (yang) seolah ingin menunjukkan bahwa ia sudah berusaha bersabar. Namun, dalam kerangka struktural-konflik, sikap demikian bukanlah (pernyataan) sikap yang bisa dengan begitu saja diterima sebagai (pernyataan) sikap moral, tetapi khas (pernyataan) sikap, sekaligus kelemahan secara umum guru-guru model “gaya bank” yang pada dasarnya selalu memiliki kegagapan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya; dalam kasus ini, adalah masalah kehadiran Totto-chan, murid yang unik, yang memiliki kecenderungan psikologis yang berbeda dari teman-temannya yang lain di sekolah tersebut, sehingga mengasumsikan memerlukan sebuah pendekatan yang benar-benar khusus.

“Yah, misalnya, dia membuka dan menutup mejanya rastuan kali. Saya sudah menjelaskan bahwa murid-murid tak boleh membuka atau menutup mejanya kecuali untuk mengambil dan memasukkan sesuatu.

Dalam kelas konvensional yang berguru “gaya bank”, sebuah perintah adalah sesuatu yang wajib ditaati. Ketaatan adalah bagian dari pra-syarat bagi prose pentransferan ilmu dari satu tempat ke tempat lainnya; dari guru ke murid. Jika hal ini tidak bisa dipenuhi, maka proses transfer-pengetahuan secara tidak langsung akan terganggu—untuk tidak mengatakan tidak mungkin terjadi. Kondisi kelas yang “tenang”, dan “mandek”, adalah prasyarat yang mutlak. Sedangkan dalam dialog di atas, lagi-lagi menunjukkan satu tindakan/prilaku Totto-Chan yang dalam kacamata pendidikan model konvensional—boleh dikatakan—sebagai tindakan subversif (baca: berontak) atas kondisi “adem-ayem” tersebut. Totto-chan melakukan sebuah tindakan yang dianggap membuat “risih”, dan mengganggu, bahkan “menggugat” eksistensi sang guru, sebagai guru, yang berada di depan kelas memimpin jalannya kegiatan belajar mengajar pada umumnya; Totto-chan melakukannya berulang-ulang kali, seolah dengan sengaja ia ingin menolak guru sebagai “pusat”, sebagai sumber aktifitas pendidikan. Sedangkan bagi Totto-chan, sebagaimana ia katakan kepada mamanya, meja baru yang memiliki laci di bagian pintu di atasnya itu—berbeda dengan meja yang terdapat di rumahnya—adalah merupakan sebuah sumber aktifitas pengetahuan lain dalam struktur hasrat ingin tahunya.

Sekolah Asyik sekali! Mejaku di rumah ada lacinya yang bisa ditarik, tapi meja di sekolah ada tutupnya yang bisa dibuka ke atas…”

Seolah Totto-chan dengan bahasanya yang masih kanak-kanak ingin mengatakan bahwa meja di kelasnya adalah sebuah “masalah” baru yang dihadapinya dengan berhasil membandingkan maja “baru” tersebut dengan meja “lama” yang berada di rumahnya. Dalam moment tersebut, Totto-chan mesti memecahkan masalahnya sendiri, masalah yang (mungkin) hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. rasa penasarannya, juga sekaligus ketertarikannya untuk memuaskan rasa ingin tahunya itu. Dan dengan modal penalarannya, meskipun Totto-chan terbilang masih kanak-kanak, tenrnyata Totto-chan berhasil menemukan jawabannya secara alamiah:

“…Meja itu seperti peti, dan kita bisa menyimpan apa saja di dalamnya. Keren Sekali!”

Sudah bisa dipastikan bahwa anak seusia Totto-chan belum pernah belajar, dan bahkan gurunya yang di depan kelas tidak mungkin mengajarkan bagaimana prosedur berfikir logis kepada murid seumuran Totto-chan. Tapi bahwa pada faktanya, pada saat itu Totto-chan bisa dibilang sudah dengan alamiah mampu berfikir sesuai prosedur dasar logika-induktif dalam memecahkan kasusnya, itu adalah satu hal yang tidak bisa ditolak; Totto-chan berhasil membuat sebuah generalisasi sederhana terhadap fakta-fakta yang berhasil ia temu-kumpulkan: Meja di rumahnya, Meja di kelasnya yang baru dan sebuah peti mati.

Hal lain yang membuat gurunya menjadi teramat jengkel adalah, tindakan “anaraki atas model pendidikan sistematis berbasis kelas” yang dilakukan Totto-chan.

Dia berdiri, selama jam pelajaran!”

Salah satu kebiasaan lain yang dilakukan oleh Totto-chan adalah berdiri di depan jendela selama jam pelajaran berlangsung. Totto-chan nampaknya lebih menyukai susasa “di luar” jendela ketimbang suasana di dalam kelas. Di mana suasana di luar yang “terbuka” bisa membuatnya lebih kerasan ketimbang suasana di dalam kelas yang “tertutup”. Di luar Totto-chan bisa mendapatkan banyak hal dari kemungkinan-kemungkinan realitas yang tak terduga, baru, bahkan di luar kebiasaan-kebiasaan hidup yang ditemui dan membosankannya.

Totto-chan berdiri di depan jendela, dan berkata seolah para filsuf di Yunani zaman dulu kala ketika mendapatkan eudonomia (baca: semacam pencerahan pengetahuan) dari alam semesta. Sambil berteriak kepada teman-temannya:

Mereka datang! Mereka datang!

Sikap terbuka Totto-chan pada dunia yang sebenarnya penuh dengan keter”buka”an, adalah merupakan penyataan tidak langsung sebuah sikap atas realitas dalam melawan sistem “realitas-tertutup” yang dibayangkan dan inheren berada di balik sistem superstruktur kuasa-pengetahuan pendidikan “gaya bank”; sebagaimana sempat disinggung di muka, bahwa sistem pendidikan “gaya bank” adalah sisitem pendidikan yang secara struktural telah memiliki ralasi-kuasa-ekonominya dengan sebuah sistem “politik-kepentingan” yang lebih besar yang terdapat di luarnya; Dunia pendidikan itu, pada akhirnya hanya menjadi makelar budaya di mana para pendidiknya sebagai agen dari proses produksi kebudayaan tertentu; Pendidikan sebagai pabrik dari lingkaran setan untuk menciptakan kelas penindas dan kelas yang ditindas yang mereproduksi dirinya terus-menerus tanpa ujung; Teman-temannya berkumpul dan kemudian ikut bernyanyi bersama Totto-chan yang sedang asik “bertemu” dengan pemusik jalanan yang kumuh di jendelanya; rombeng dan tidak bermasa depan “pasti.” Gurunya hanya bisa menunggu dengan “sabar” sampai kegaduhan selesai. Sambil berkata:

Sekarang anda pasti bisa membayangkan betapa kelakuannya membuat kelas menjadi kacau, kan?

Kadang Totto-chan membuat kegaduhan yang serupa dengan cara mengajak bicara burung-burung yang kebetulan sedang berada di balik jendela kelasnya, atau sekedar melihat-lihat keadaan alam seolah sedang menunggu sesuatu, tanpa sama sekali mengerti kenapa kemudian dia dianggap telah berbuat sesuatu yang “salah?”

Totto-chan juga digambarkan dengan sosok yang sering membuat gambar yang selalu keluar dari batas kanvas yang disediakan. Oresannya selalu melewati batas yang seharusnya tidak dilewatinya. Rupanya, sosok Totto-chan dalam Novel ini, oleh penulisnya memang benar-benar dimunculkan sebagai sosok yang benar-benar “tidak sepakat” dalam banyak hal dengan model pendidikan konvensional yang memiliki kecenderungan “mengekang”, “mengontrol” dan “merekayasa” murid-muridnya berdasarkan sebuah “cetakan” tertentu.

Dalam bab kedua ini, pendidik “gaya bank”, sudah begitu jelas sekali digambarkan sebagai pendidik yang paling banyak punya kemungkinan untuk tidak bisa mendidik nara didiknya secara benar dan manusiawi. Pendidik “gaya bank” bahkan memiliki akar kelemahannya justru pada dirinya sendiri yang tidak menyadari akan betapa pentingnya model pendidikan “hadap-masalah” yang itu menuntut kesadaran aktif dan kritis akan kehadirannya di tengah-tengah realitas di sekitarnya yang mereka hadapi” maka wajar, apabila kalimat yang bernada mengekslusi (kerap) keluar dari mulut mereka:

Putri Anda mengacaukan kelas kelas saya. Saya terpaksa meminta Anda memindahkannya ke sekolah yang lain.”

Nada yang pesimistis demikian, bahkan cenderung sarkastis sebenarnya adalah sebuah sikap apologetik yang naif dari seorang pendidik, dan—sekali lagi—merupakan satu bukti ketidakberdayaan model pendidikan “gaya bank” dalam menciptakan kondisi pendidikan yang kondusif bagi proses reproduksi generasi manusia yang—tidak hanya compatibel, tetapi juga—lebih cekatan dalam menghadapi tantangan.—

Bab ketiga, keempat, kelima, keenam hingga bab-bab selanjutnya sebelum bab yang bercerita di bagian-bagian akhir tentang pengeboman kota Tokyo yang menimpa Tomo gakuen, merupakan bab-bab di mana pada akhirnya Totto-chan berhasil mendapatkan sekolah yang baru, dan benar-benar baru dalam hidupnya; di sekolah yang dikepalai oleh Pak Kobayashi itu, totto-chan tidak mendapatkan sesuatu yang sama dan itu-itu saja setiap harinya. Totto-chan terlihat begitu senang dan gembira. Semua kegelisahan-kegelisahan dan sikap distraktifnya di depan pola pendidikan konvensional, seolah telah mendapatkan jawaban-jawabannya sendiri dari hari ke hari. Tapi, apakah dengan itu masalah dalam dunia pendidikan bisa kita anggap selesai begitu saja? Sebentar dulu, sebentar dulu…

Kesimpulan Sementara

Paulo Freire mendambakan “model” pendidikan-idealnya, dengan berangkat dari kritiknya atas pendidikan “gaya bank” dan konsepnya mengenai pendidikan “hadap masalah”. Melalui metode pendidikan hadap-masalah, bagi Paulo Freire, manusia (baca: pendidik) akan membawa manusia pada hakikat kemanusiaan yang sebenarnya dalam proses pendidikan; dari mulai manusia yang berkesadaran magis, apatis-naif, kritis, hingga memiliki kesadaran yang transformatif. Dari mulai nara didik yang hanya bisa “bisu” di depan pengajar dan alam sekitarnya, ke nara didik yang pada akhirnya (mampu) aktif, bisa membaca lingkungannya dengan bebas dan mandiri, solutif dan kreatif.

Dari sudut pandang paradigma pendidikan yang kritis, dan keinginan akan berlangsungnya secara massif pembangunan “mentalitas-bangsa” yang hendak dipersiapkan bagi kehidupan masa depan yang lebih maju, kreatif, dan kompetitif, serta berkecenderungan kebudayaan yang dinamis dan serba cepat berubah, dalam konteks itulah, maka membaca (kembali) Novel Totto-Chan: Gadis cilik di jendela karya Tetsuko Kuroyanagi yang lahir di tahun 30-an, adalah bukan sesuatu yang ahistoris. Bahkan bisa jadi sangat-sangat diwajibkan dan direkomendasikan. Apakah itu bagi para pengajar, maupun para nara didik. Terlebih salah satu kelebihan dari novel ini, selain halnya sebab adalah aktor yang diangkat adalah seorang Totto-chan, aktor yang sedang dan masih berusia pendidikan sekolah dasar (SD), novel ini ditulis dengan bahasa yang sangat-sangat ringan, mudah dicerna dan menurut saya begitu “story-tellingable”, sehingga sangat memungkinkan sekali untuk dijadikan bahan bacaan, atau bahan dongengan anak sebelum tidur disamping dongeng tentang Malin Kudang, Bawang Merah-Bawang Putih, atau Fabel Kerbau dan Si Gagak, Kancil dan Keong, atau Kancil dan Buaya misalnya.

Tetsuka Kuroyanagi pada awalnya adalah soerang artis. Tapi pada usianya menjelang ?, ia beralih menjadi seorang penulis. –sekian

[1] Kuroyanagi, tetsuko, Totto-chan: Gadis Cilik Di Jendela,Jakarta (2012), PT Gramedia Pustaka Utama.

 

[2] http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/05/02/nnq6a3-anggaran-pendidikan-di-aceh-disebut-rentan-penyelewengan

[3] http://www.rmol.co/read/2015/05/02/201116/Rita-Widyasari-:-Pendidikan-Pintu-Gerbang-Pembangunan-di-Kukar-

[4] Polemik Kebudayaan, Achdiyat Miharja

[5] Paulo Freire tentang Pendidikan Transformatif

[6] Paolo Frere tentang Pendidikan Kaum Tertindas

[7] Ibid.

[8] Ibid. hal 12

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s