Lia: “Namanamana?” ; Surat terbuka untuk Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri: Menggugat Kredo Puisi!

Mungkin kita semua sudah mengetahui bahwa salah satu peristiwa penting dan ‘terbesar’ dalam sejarah kesusastraan Indonesia Modern adalah diangkatnya Sutardji Calzoum Bachri sebagai Presiden Penyair Indonesia. Pada saat itu melalui Kredo-puisi ala Derrideriannya, Sutardji membela kata sebagai Mantra, ketimbang sebagai (pipa-bagi) pesan:

“Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.” Tujuannya adalah, Melalui Kredo puisi ala derrideriannya tersebut, Sutardji hendak mengatakan bahwa kreativitas dimungkinkan muncul apabila bebas dari “penjajahan pengertian.” Tetapi di luar itu, pada faktanya Sutardjipun bahkan mesti lebih dulu menulis sebuah kredo (baca: kredo filsofis) untuk menyampaikan maksudnya. Kredo yang tidak hanya berbunyi, melainkan –juga, untuk ‘memaksa’ pembaca sajak-sajaknya masuk ke dalam sebuah pesan yang kira-kira bermaksud, “diskursus tanpa diskursus.” (?)

Dalam sajak #10Huruf karya Lia di atas, penulis menemukan sekaligus mendapatkan satu contoh yang menarik, yang bisa dijadikan acuan bagi diskusi mengenai ini. Kenapa? Pertama, karena sajak yang ditulis oleh Lia di atas dibuat dengan –sama, ‘bergaya mantra.’ Dan yang Kedua sajak tersebut memiliki kekuatan yang setara dengan sajak milik Sutardji lainnya yang berjudul ‘Kucing.”

Sajak “Namanamana?”adalah sebuah sajak yang apabila kita renungkan lebih jauh akan mengantarkan kepada kita sebuah cerita mengenai proses pencarian seseorang akan sesuatu. Menariknya, sajak “Namanamana?” diakhiri dengan tanda tanya. Artinya sebuah pencarian yang dilakukan oleh penulisnya adalah sebuah kerinduan akan sesuatu yang sebenarnya tidak ia kenal (benar); Sesuatu yang “entah.” (bahkan mungkin) Entah ada atau tidak ada di luar sana. Tetapi proses itu mengalir terus menerus di atas kesadarannya. Kita bisa bandingkan dengan (kutipan) sajak Kucing milik Sutardji:

“Kucing dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu ngiau dalam aortaku dalam rimba darahku dia besar dia bukan harimau bukan singa bukan hiena bukan leopar dia macam kusing tapi bukan kucing ngiau dia lapar dia merambah rimba afrikaku dengan cakarnya dengan amuknya dia meraung dia mengerang jangan beri dia daging dia tak mau daging jesus jangan beri dia roti dia tak mau roti….. berapa juta lapar lapar kucingku berapa abad dia mencari mencakar menunggu tuhan mencipta kucingku tanpa mauku dan sekarang dia meraung mencariMu.” (Pen: Tanpa titik dan koma)

Kredo Sutardji ditutup dengan kalimat: “Pada mulanya adalah kata. Dan Kata pertama adalah mantra.” Sudah pasti bahwa dalam kalimat terakhir dari Kredo tersebut –tentunya dengan mempertimbangkan narasi dalam sajak kucingnya, Sutardji (sedang) merenungkan proses pernciptaan sebagaimana tercatat dalam Bible. Maka pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Apakah mantra (selalu) bebas dari makna? Dari sesuatu yang bisa dirujuk? Sebagaimana ketika Sutardji membayangkan bahwa Mantra adalah “Bendera” bagi Kredonya. (?)

Mungkin penulis akan lebih dulu sepakat bahwa salah satu ciri dari “mantra” adalah sesuatu (baca: Kata) yang mempunyai ‘kekuatan’ di dalam, dan muncul dari dalam dirinya sendiri tanpa mesti mencari-cari dari yang bukan dirinya -ketika diucapkan. Adapun ‘kekaliruan’ Sutardji adalah ketika mengatakan bahwa “Kata pertama adalah mantra” sebagai kelanjutan, bahkan antisimpul dari penjelasan kredonya mengenai kata yang “bebas dari pesan” –yang akhirnya berujung pada bebas dari pengertian, dari makna.

Saya membayangkan pada saat itu Sutardji membayangkan bahwa ketika Tuhan menciptakan “alam semseta” adalah melalui “Kata pertama.” Dalam Tradisi islam misalnya diwakili dengan kata “Kun.” Dalam tradisi agama Mesir misalnya ketika dewa Ra mengatakan “Ptah.” Kata pertama tersebut adalah kata pertama yang bersih, suci, artinya bebas dari segala macam apapun selain yang berasal dari dirinya. Hal ini bisa difahami, sebab alam semasta pada saat itu belum ada. Sekali lagi (yang disebut) alam semesta pada saat itu belum ada. Belum tercipta. Apalagi segala macam agenda-agenda kebudayaan, pesanan-pesanan moral yang ‘berat’, dan tentunya –yang mungkin disindir oleh Sutardji adalah, kepentingan-kepentingan politik yang picik. Tetapi yang perlu dijawab oleh Sutardji (lagi) adalah: Untuk kepentingan, untuk makna apa Tuhan mencipta?

Secara umum (telah) kita “fahami” bahwa Tuhan ber’Kata’ untuk dikenali. Lebih serius lagi para Filsuf islam misalnya Al Farabi mengatakan bahwa Tuhan mencipta sebab ia memikirkan dirinya sendiri. Artinya, kata pertama adalah tidak begitu saja ‘bebas’ dari makna (baca: Tuhan tidak sedang ‘batuk-batuk.’). Bisa jadi dalam ‘Kata pertama’ tersebut, yang ‘terucap’ adalah sebuah sebutan pertama dari Tuhan untuk Tuhan itu sendiri. Ini bisa kita (sekali lagi) fahami dan kita bisa lacak ketika Tuhan sendiri (punya ke-)ingin(an untuk) dikenali, maka sebelum dikenali dengan semestinya Ia sudah “mengenali,” “memanggil,” dan “menyematkan” identitas pada dirinya sendiri. Dengan kalimat yang lebih mudah, penulis ingin menyatakan bahwa “Kata pertama” adalah kata yang muncul ketika Tuhan memanggil, menyebut, sekaligus merindukan dirinya sendiri. Dengan kata lain, kita boleh mengatkan bahwa kata pertama adalah sebuah kesadaran Tuhan-akan-Tuhan. Sebuah Kesadaran tertinggi dan paripurna.

Secara demonstratif, tentang “Nama” dan “Kesadaran tertinggi ini” misalnya penulis tangkap dalam cerita Mitologis tentang perdebatan Tuhan dan Iblis dalam kitab suci umat islam, Al-quran, surat Al-Baqarah ayat 30-35. Di sana diceritakan -pada saat itu, Iblis ‘menggugat’ Tuhan tentang keutamaan Adam ketimbang Iblis yang digadang-gadang sebagai (diraja) malaikat yang paling “getol” menyembah Tuhannya, tetapi tidak mengenal “Asma.” Asma sendiri yang dalam bahasa Arab bisa diartikan selain dengan “Nama,” tetapi juga “Sesuatu yang Tertinggi yang merujuk pada kesadaran.” Kata Asma dalam bentuknya yang lain “Samaa” juga digunakan dalam Al-quran untuk menyebut Langit. Pada saat itu adam diajarkan untuk mengenal “Asmaa” (baca: Nama paling tinggi) sehingga ketika Adam berhasil menyebut, mengenal, memanggil hakikat akan diri dan (ke)Tuhan(an)nya, kemudian berhasil mengajarkannya kepada yang lain, maka diperintahkanlah seluruh makhluk oleh Tuhan untuk sujud kepada Adam.

Kembali kepada telaah sajak di atas. Maka Dalam kasus ini, sajak “Namanamana?’ milik Lia, menurut penulis jauh lebih berhasil, baik itu untuk “membela,” “menggugat” bahkan “memenuhi panggilan” Kredo-puisi yang Sutardji tulis, ketimbang sajak-sajak Sutardji sendiri semisal “Sepisaupi,” “Winkasihka,” “O,” atau “Pingpong” dan sebagainya yang terkenal itu. Sebab sajak Lia tidak “hanya melulu” bicara sebagai “mantra” dengan kata yang kosong.(!) Tetapi juga proses, ketidak-pastian, ketabahan, dan semangat yang tidak mau kalah dalam mencari, terus menerus dalam kepasrahan, serta kerinduan yang tak putus-putus pada daging, pada roti yang bisa jadi tak mungkin dia dapat ketika lapar sampai ke ujung tenggorokan.

Dalam puisi yang pernah saya tulis pada tanggal 3 November 2013 dikatakan seperti ini:

Aku
Ragu apakah benar ayah atau ibuku telah mati
Yang aku tau aku dibuang ke sebuah panti berkali-kali
Sajak, esai dan puisi
Buku, percetakan, atau sekedar blog-blog pribadi

Dan tanpa pretensi aku diadopsi
Lalu ketika suasana tiba-tiba telah menjadi sepi
Sesekali ke”malu”anku disetubuhi

Terkadang orang-orang melakukannya dengan penuh berahi
Tak jarang juga melakukannya dengan rendah hati

Kini aku sampai disini
Untuk terbuang kembali
Lusuh, tiri

Apakah kau juga berniat hendak ikut menikmati?
Namaku, rindu!
Barangkali.-

“Pada mulanya adalah kata. Kata itu bersama-sama dengan Allah. Dan dalam Allah ada hidup ada degup! Dan degup itu adalah terang bagi manusia.” (Yohannes 1:1). Maka Tuhanpun mengajarkan “Kata.” Mengajarkan Namanama -na?! sebagai Mantra, sebagai pesangon bagi Adam untuk menundukkan alam semesta. “Alif, Laamm, Miemm.” -sekian

*sajak #10huruf adalah merupakan “sayembara sajak” yang diadakan di group FORSASINDO (ForumSastraIndonesia)_ dengan diikuti hampir 1000 sajak ‪#‎salamSastra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s