Masangin/ Ziarah Dua Pohon “Kembar” dalam sajak-sajak “Pohon Cinta” karya Narudin

http://idialabprojects.org/BMwebsites/adam_and_eve.html

Adam and Eve, about 1701-1704 Antonio Molinari Italian, Venice (1655-1704) Sumber: http://idialabprojects.org/BMwebsites/adam_and_eve.html

“dataran melengkung yang kutapaki ini
adalah: waktu.
sementara batu-batu yang mengonggok
keras, bebal, dan memantul cahaya itu
adalah: kamu.
dan pasir yang menggenang dan mengembara
tanpa gelombang, itulah: aku.
gelap dan matahari menjadi pintu
kedua mataku, bahwa: kau di situ.
sejak dulu, sejak udara bergerak
memberiku ombak,
menciptakan perjalanan

… bagai daun
di udara: ia menyeret ombak ke tepian”

           Radhar Panca Dahana, LALU BATU: ZIARAH COGITO (1998)

#1

Ada satu kisah. Seperti ini kisahnya:

Suatu hari ada seorang yang hendak mencari sebuah bunga yang indah. Ia berjalan dari pagi sampai sore, mengelilingi taman. Bahkan, konon, ia pergi dari satu taman, ke taman yang lainnya. Ia berjalan menuju taman yang pertama, di sana ia menemukan sebuah bunga yang cantik. selang beberapa menit ia memandanginya, indah, kemudian ia berjalan terus untuk mencari bunga yang lebih indah. Sampai pada bunga yang kedua, rupanya ia menemukan satu tangkai bunga yang lebih indah ketimbang bunga yang pertama. Lalu ia berhenti selang beberapa menit. Setalah itu ia kemudian pergi ke bunga yang ketiga. Hal yang sama ia alami. Kemudian ia pergi ke bunga yang keempat, kelima, keenam dan ke taman-taman berikutnya dengan keinginan yang sama. Tetapi, msalahnya kali ini adalah, bahwa pada bunga yang keempat, kelima, dan seterusnya, ia menjadi kesulitan untuk mendapatkan bunga yang lebih indah dari bunga-bunga yang sebelumnya. Ia terus berjalan jauh sekali, hingga berhari-hari, atau mungkin bahkan berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Dan konoon, sampailah ia sedikit putus asa, dan menyesal. “Kenapa, aku tidak berhenti saja pada bunga yang pertama?” gumamnya. Tapi kata Narudin, “jangan tengok ke belakang, karena pohon takkan pernah menangisi kepergianmu …”

4)

Sesudah segala kejadian
sementara usai.
tempuh lagi perjalanan
di antara rumput-rumput gemetar,
beburung mengerjap di sana sini
di kejauhan:
mendaki gunung, menyebrangi lautan,
melewati awan,
keluar dari semesta alam!

   (Narudin, POHON CINTA: 4)

5)

Tapi, dengan syarat.
jangan tengok ke belakang
karena pohon takan pernah menangisi kepergianmu,
karena hujan dan matahari
hanya hiasan
sebelum mimpi—

   (Narudin, POHON CINTA: 5)

Sekali lagi, kita temukan di bagian akhir dari dua sajak Narudin ini, (yang) menyimpan nada tragik: “mimpi –” tulisnya. Entah apa yang hendak diampaikan oleh penyairnya ketika “memplesetkan” “perjalanan kata-kata” ini. Yang seharusnya itu, tetapi jadi ini. Yang seharusnya ? –mungkin cinta, (saya lebih suka menggunakan “c” kecil dari “C” besar) tetapi jadi mimpi. Apakah ini semacam sebuah “keputus-asaan?” sebuah “pesimisme?”; pesimisme transendental (?). Atau sebuah kehati-kahatian?; kehati-hatian transenderntal. (?) Penulisnya pun seakan-akan “memotong” pembicaraan. dan kembali diam; “–“

Tetapi masalahnya, benar, kita akan melihat burung-burung akan segera mengerjap di sana sini, sambil mereka bertanya-tanya: … …

“Perjalanan”, dalam sajak ini, tentunya mengingatkan kita kembali pada cerita di atas. Ketidakpastian diangkat kembali, dibicarakan kembali, dan bahkan disajikan untuk dipertanyakan kembali. Ketidakpastian akan hidup, ketidak pastian pada hidup itu sendiri, ketidak pastian akan sebuah “pegangan,” ketidak pastian pada sebuah “tafsir” atas pegangan itu sendiri, ketidakpastian-ketidakpastian, bahkan kecurigaan-kecurigaan atasnya, pada semua itu, bahkan pada yang hidup dari semua itu; pada gema kerjap burung-burung yang sampai ke kita, pada rumput-rumput, yang sudah terkena gemetar angin dan sakit-menggigil!

“Perjalanan”, dalam sajak ini, seolah-olah membawa kita pada satu bayang-bayang yang itu bukan sebuah perjalan yang “mengasikkan”—semacam traveling di hari libur, atau musim malas di tengah-tengah udara —tetapi satu perjalanan di atas tanah yang berangkal, tanah yang melengkung, penuh duri, penuh lubang, penuh “jalan belok”, semacam satu “kembara” yang mendapatkan gambarannya yang “mencemaskan” dari penyairnya.

Tapi benar juga, pada dasarnya kita (selalu) tidak pernah tahu, apakah kita akan berjalan lurus atau tidak. Yang paling minimal, adalah kita (bisa) mencari-cari tahu, mana jalan yang lurus. Kita bisa mencari jalan untuk mendaki gunung—lalu turun lagi, keluar menyebrangi lautan, lalu: mati? Tidak, keluar dari alam, katanya. Kalaupun iya, kita dengan “terpaksa” berjalan menggunakan jalan itu. Tetapi!—sekali lagi, dengan syarat, jangan tengok ke belakang. Sebab, kalau kita “tidak yakin” pada langkah kita sendiri, pada sebuah tujuan, pada sebuah telos, pada sebuah “pertemuan”, maka semuanya kemudian akan jadi … (?). Karena baik hujan, atau matahari, pada kahirnya hanya menjadi hiasan. Dan pada akhirnya juga nasib gunung-gunung dan lautan itu, yang makan dari matahari, makan dari ratusan hujan-hujan: “Jangan tengok ke belakang (!).”

Tetapi, kita juga tidak mesti menganggap ini adalah sebuah “kata-kata” yang “serius” (baca: lurus). Sebab ini adalah sebuah pesangon, dan pesangon, biasanya minyimpan ambiguitasnya tersendiri. Menyimpan misterinya, atau juga hanya merupakan sebuah “kerinduan” yang datang dari tempat yang lain, yang jauh di sana, yang menurut kakek-kakek kita, itu adalah sebuah “jimat” yang justru mesti sesekali ditengok oleh kita, dan anak cucu kita kelak selama perjalanan. Sebab, kita juga kelak (boleh) akan bertanya: apakah benar, bahwa pohon akan setegar itu? yang tak akan pernah menangisi “kepergian?” dan bahkan kita pun bisa memilih, akan menjawab pertanyaan ini dengan secara emosional, ataupun rasional—kalau-kalau, di gunung, kita justru menemukan pertanyaan itu muncul dari seekor burung ketika kita melewati sebuah pemakaman; burung-burung senjakala, burung hantu, yang senang sekali mengerjapkan matanya dengan mata yang menjegil, berkediap-kedip, dengan kepala yang di”miring(-miring)”kan. (?) Baik, kita tunda dulu, dan kita simpan baik-baik seraya kita masukkan ke dalam kantung pesangon itu.

Tetapi, masalahnya adalah, tidak ada sebuah perjalanan yang “tak serius,”, bila itu diawali dengan “pesangon.” Dulu, hanya seorang pengembara yang akan keluar-masuk ke hutan, naik gunung, dan turun ke lautan. Menyebrang ke pulau-pulau, dan bermalam di samudra-samudra, yang—oleh karenanya, anak itu—memerlukan sebuah “jimat.” Kalau tidak seserius itu, maka segera mereka akan bependapat untuk apa kami—“orang tua”—merasa perlu menciptakan puisi? ,

Perjalanan dalam sajak-sajak Narudin ini (juga), tentunya perjalanan yang (secara “Naratif”) berbeda dengan Narasi perjalanan yang “pernah” dilakukan oleh baik Adam, maupun oleh Hawa. Perjalan mencari the “Secret Garden,” mencari “Pohon Rahasia” pasca kejatuhannya. Sebab dalam pencarian Adam, meskipun sambil terus bermunajat, ia sekaligus terus juga mencari “hujan itu,” “matahari itu,” “mimpi itu” dengan penuh mati—maaf, mungkin maksudnya hati: Hawa

“Perjalanan”, dalam sajak ini, apapun. Dan, seorang kesatria memang sebaiknya mesti bepergian:

“Sesudah segala kejadian
sementara usai.
tempuh lagi perjalanan …”

#2

“Tiga puluh menit” sebelum perjalanan; di bawah pohon:

1)

Di bawah pohon cinta
yang tak berbunga
dan tak berbuah,
kau jangan bertanya,
“Untuk apa
pohon yang tak berbunga
dan tak berbuah?”
Setidaknya, aku dapat
menjadi tempat
untuk berteduhmu sementara

   (Narudin, POHON CINTA: 1)

2)

Di luar jendela kaca,
hujan tak kenal cuaca
menegur pohon di mana
kau bernaung di bawahnya.
bila kau kena basah,
tak perlu resah karena
kau tak pernah menyuruh Tuhan (di sana)
agar tak menciptakan “basah.”

   (Narudin, POHON CINTA: 2)

Pada akhirnya kita bisa saja menduga, bahwa perjalanan yang sesungguhnya, hakikatnya adalah sebuah “perjalanan-yang-tak-pernah-dilakukan.” Kalau perjalanan yang begitu lama, adalah perjalanan yang kita mesti mengejar atasnya, kadang justru perjalanan dalam ke”menunggu”an adalah perjalan yang jauh lebih lama lagi. Sebab, meskipun bisa kita lihat perhitungan jaraknya, tapi dalam menunggu, tiba-tiba saja seolah melengkung jarak itu. dan kita tak jarang, menempuh “perjalanan” yang sebenarnya dekat, tapi dengan perasaan berlari-lari, berkejar-kejaran, bahkan dengan perasaan “menunggu.”

Membaca dua sajak di atas, adalah membaca sesuatu yang menurut saya membaca sebuah “momen” yang sangat indah. Di mana ke-lama-menungguan, ke-lama-luguan, sebagaimana dituturkan tadi, ternyata bisa diobati dengan cara yang sangat romantis.

“Di luar jendela kaca,
hujan tak kenal cuaca
menegur pohon di mana
kau bernaung di bawahnya.
bila kau kena basah,
tak perlu resah …”

Bahkan dalam larik selanjutnya, penyairnya mampu menunjukkan sikap keterbukaan pada proses, dengan begitu “tabah.” Kita “seolah-olah,” sedang melihat dua sepasang kekasih yang sedang berpelukan di luar hujan, sambil mengatakan:

“tak perlu resah karena
kau tak pernah menyuruh Tuhan (di sana)
agar tak menciptakan ‘basah.’”

Takdir memang seperti itu. Tak pernah mau mengenal cuaca. Ia punya hukumnya sendiri, yang selalu melibatkan “yang lain”, dan yang hidup. Dan kita dibuat tidak lebih hanya untuk bisa bicara seperti itu. Sebab dengan melawannya, kita mesti hidup. dan ketika kita hidup dan “bersentuhan” dengannya, kita menjadi Takdir yang kita “lawan” itu sendiri. Menjadi “yang lain”, yang bergerak bagi hujan, atau juga bagi musim hujan lagi.

Tetapi, kalau hanya “menunggu,” kenapa penyairnya mesti membubuhkan kata “(di sana)” dalam larik kedua dari bawah dalam sajaknya yang kedua? Itulah yang mungkin tadi kita duga sebagai “perasaan ‘lari-lari’an” yang tumbuh dalam “mengejar” sesuatu yang begitu dekat.

Dari yang dekat itu, ada jarak. Ada satu realitas yang kita lemparkan ke depan–atau ke belakang? Dalam “kebingungan” ini, layaklah kalau kita bertanya sambil melepaskan pandangan kita menghadap ke jendela yang tengah terkena hujan. Dan di luar jendela—yang berkabut itu, biasanya ada bayang-bayang.

Dan rupanya, ketabahan tadi tak sampai hanya di situ. Sebab sementara hujan turun, sementara itu pula, “batu-batu ternyata memantulkan cahaya.” Inilah yang mungkin kita sebut tadi sebagai yang lugu dalam hujan. Lalu penyairnya pun mengatakan: “Setidaknya, aku dapat.” Kemudian disuruhlah kekasihnya itu berteduh. Tanpa mesti bertanya, “untuk apa?”

Tapi sekali lagi, untuk apa? Dan akhirnya penyairnya pun menjawab:

“Di bawah pohon cinta
yang tak berbunga
dan tak berbuah,
kau jangan bertanya,
‘Untuk apa
pohon yang tak berbunga
dan tak berbuah?’
Setidaknya, aku dapat
menjadi tempat
untuk berteduhmu sementara.”

Sampai di sini, mungkin saya tidak akan membahas lebih jauh lagi tentang pertautan hujan dan cahaya ini. dan mungkin sekali lagi, saya hanya akan menutup mata seperti orang yang hendak melakukan Masangin di depan dua pohon (cinta) yang kembar, dan kemudian mencoba berjalan sambil berdoa, “semoga perjalananku, tidak bengkok.” Biar bisa segera melanjutkan keperjalanan berikutnya. Yang jikalau menurut orang-orang Jawa, Itu, biar kita bisa segera boleh ke pelaminan. –semoga …

Atau, “Lebih baik, pergi saja!” tuturnya. Sebelum “hujan hafal bagaiaman reda.” (!)

#3

Dalam sajak ketiga ini, rupanya “kecemasan” akan hidup kembali muncul dalam “diri” penyairnya. “ketidakpercayaan” pada sesuatu yang romantik kembai retak. Kepercayaan pada sesuatu yang romantis, kembali putus. Dan kemudian, “rasa menunggu” yang ternyata kadang-kadang perlu di saat-saat seperti ini untuk memperlambat jalannya waktu, justru tidak muncul.

Kali ini, kekhawatiran, keretakan, dan ketidakpastian musim, seolah nampak muncul dengan begitu chaotik dalam “imaji” penyairnya. Musim hujan, jadi hanya seperti aliran air keran yang linglung. Musim semi, seolah-olah oresan-oresan di atas kavas yang segera kembali kacau balau di depan proses yang begitu cepat, ekspresif, tak terkontrol. Atau …

3)

Lebih baik, pergi saja!
Sebelum hujan hafal bagaimana reda.
meninggalkan yang terlupa,
dan yang baru rencana–
diganti matahari yang teriknya
hampir-hampir membakar kakimu
walau kepalamu terlindung amat sempurna.

   (Narudin, POHON CINTA: 3)

 

EPIMENA

Membaca sajak-sajak Pohon Cinta ini, adalah seperti membaca Alegori Fariduddin Al-attar. Pengalaman membaca yang sama seperti itu muncul: Merasakan kesempatan mencari-cari yang tak segera bosan. Sebab di tengah-tengah perjalanan, banyak sekali tedapat imajisme, citraan yang menemai sang “’Ak-Ku’nya (ini)’–(ma’ar: I)”. Bukankah benar, bahwa tidak selalu fatamorgana itu adalah sepenuhnya ilusi, dan hanya melulu sebuah lambang? Tetapi juga selalu merupakan sebuah pengalaman eksistesial yang hakikatnya itu (juga) nyata?; Kafilah-kafilah yang berjalan di gurun pasir, biasanya (berhasil) melakukan “terapi” dengan fatamorgana, dengan bayang-bayang, bermain-main, lari-larian, kejar-kejarandengan pertemuan antara cahaya, pasir, debu dan bayang-bayang itu? bahkan tak jarang saling menggoda dan merayu: “Aku tidak menyanyikan ini, agar orang membawanya dan mengulang-ulangnya pula, akan tetapi, untuk meletakkan buku itu di telapak kaki, dan terbang bersamanya.” (Jalaluddin Rumi, Matsnawi: Mukaddimah)

Bukankah, orang yang mencintai Cinta dan kebenaran sejati, memang seharusnya ia siap untuk meutuskan berteduh, juga siap untuk meninggalkan. –atau

Justru tidak harus (selalu) seperti itu. seperti Adam misalnya. Petik satu, lalu di bawa sepanjang perjalanan, atau Ibrahim, yang memetik satu putri atau bunga atau dalam bahasa arabnya: Sarah, “Lalu (satu) Batu.” … entahlah.

Iklan

One response to “Masangin/ Ziarah Dua Pohon “Kembar” dalam sajak-sajak “Pohon Cinta” karya Narudin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s