Ibn Sina: Etos Ilmiah Sang Bapak Para Dokter—(novum) Orgnanum dan Filsafatnya

Samanid_Avicenna_Qanun_MedicineOleh: Shiny.ane el’peosya

“Karim, Mirdin, kuharap hidupmu diabdikan untuk kemajuan ilmiah.” Pesan Ibn Sina kepada dua muridnya dalam film The Physician

 

Latar Belakang

Kehidupan modern—khususnya fenomena globalisasi yang terjadi pada abad 21, adalah bentuk pola kehidupan yang termasuk baru dalam sejarah umat manusia. Kecepatan budaya dan perkembangan ritme kehidupan sosial, politik, ekonomi, semakin tidak bisa dikendalikan berkat akses teknologi (informasi) yang semakin maju dan maksimal. Sekali lagi, bahwa ini akibat dari sebuah revolusi teknologi yang terjadi di akhir abad 20; Teknologi Informasi yang menghubungkan dunia ke dalam satu jaringan global melalui sistem (tidak hanya transportasi yang semakin dipercanggih, tapi juga melalui sistem) inter-networking.

Kehidupan model demikian mengasumsikan sebuah pola kontak budaya yang terjadi dengan lebih tanggap. Bayangkan misalnya, satu penemuan ilmiah yang berhasil ditemukan dalam satu wilayah yang jauh di sana, dalam hari yang sama, bahkan hanya dalam hitungan menit, bisa langsung diakses dan bisa untuk dilanjut-kembangkan di tempat lain pada saat itu juga.

Tapi sayangnya, kemungkinan efektifitas ruang dan waktu yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dengan baik demi perkembangan budaya dan peradaban, nampaknya masih belum jadi perhatian serius mayoritas masyarakat kita; khususnya generasi muda.

Sebagai acuan, menurut hasil riset yang dilakukan oleh Pew Research[1] terhadap populasi pengguna internet Indonesia, dikatakan bahwa penggunaan internet di Indonesia sudah mencapai angka 60 juta pengguna, dan bahkan dilaporkan menurut Penyelenggara jasa Internet Indonesia (APJII) dan PusKakom UI menyatakan bahwa jumlah itu mencapai angka 88,1 juta pengguna—mencapai sepertiga lebih penduduk Indonesia. Tapi berita buruknya adalah, Pew Research memberikan data lanjutannya yang memperlihatkan komposisi angka yang cukup memprihatinkan: 86% pengguna Internet di Indonesia hanya menggunakannya untuk bermedia sosial, dan hanya 3% saja yang menggunakannya sebagai media belajar online, sisanya bisa dikatakan untuk kepentingan bisnis dan karir. Artinya hanya sekitar 2 Jutaan saja yang menggunakan fasilitas Internet untuk pengembangan kualitas pendidikan bangsa kita.

Padahal kita ketahui, bahwa kehidupan dengan segala jenis perkembangannya tidak pernah bisa lepas dari sebuah resiko alam yang dihasilkan dari kemajuan teknologisnya. Artinya, bahwa semangat ilmiah yang terjadi di satu tempat—di negara-negara dunia pertama yang telah berteknologi maju, secara tidak langsung mesti juga memberikan konsekwensi semangat kemajuan yang juga setara berlaku di tempat lain sebagai jawaban bagi kemungkinan terjadi dampak lingkungannya.

Satu contoh lagi misalnya, beberapa hari yang lalu (8-9 Oktober 2015) penulis turut mengunjungi sebuah bazar IPTEK (Indonesia Science Expo) yang diadakan di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersamaan dengan diadakannya Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional dengan tema: “Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam membangun Kemandirian serta Kedaulatan Bangsa dan Negara di tengah Perubahan Global”. Dalam acara bazar tersebut, boleh dikatakan meskipun terlihat satu-dua kampus yang coba membawa hasil uji praktikumnya untuk dipamerkan, tidak banyak hasil temuan-temuan yang terlihat dihadirkan (dan) bisa didemontrasikan sebagai sebuah penemuan yang benar-benar baru bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan penulis tidak melihat katalog penemuan yang sekiranya bisa membangkitkan animo pengunjung; Di sana hanya terdapat beberapa penemuan seperti penemuan Bunga Lipstik Merah (?) dari bidang ilmu biologi-kehutanan, dan penemuan Pengawet serta Pemualiaan Tanaman seperti padi dan gula dari bidang biologi-pertanian, dan Bandul Ular (?), Celah Hiperbola (?), Baskom Air Mancur (?), Baterai Tangan (?) dari bidang fisika-energi, dan display semacam Panel Cahaya dan Laser dari bidang fisika-optik, peragaan Nitrogen Cair dari bidang Kimia, Workshop (?) Big Data Berbasis Komputasi Tingkat tinggi yang bekerja sama dengan perusahaan SuSe Linux Indonesia dari bidang IT, dan sebuah penemuan Mobil Listrik—disponsori oleh Intel, di bidang industri otomotif yang mendapatkan penghargaan setelah mendapatkan penghargaan sebelumnya dari Intel-ISEF di Pittsburgh Pennsylvania 5 bulan sebelumnya dengan kategori Material Science dan Mathematical Science. (?) Yang mungkin sedikit menarik perhatian penulis adalah tersedianya sebuah Jurnal Antariksa yang berisi tentang laporan penerbangan satelit A2—yang akan diikuti dengan penerbangan A3, A4, A5 dsb di tahun-tahun berikutnya, dari Lembaga Antariksa Nasional. A2 adalah semacam satelit mikro yang diterbangkan untuk kepentingan pengamatan permukaan bumi dan pemantulan kapal laut.

Fakta lain yang tak kalah mirisnya adalah, bahwa dalam acara bazar tersebut—khususnya di hari pertama dan hari kedua, bisa dipastikan dengan hitungan beberapa jari, ternyata tidak terlihatnya kalangan anak-anak muda (baca: setingkat mahasiswa atau setingkat sekolah menengah atas) yang turut meramaikan acara tersebut kecuali memang mereka yang kebetulan diundang mebuka Stand sebagai perwakilan untuk kampusnya; dan beberapa Sekolah setingkat Menengah Atas yang hadir di hari ketiga pameran; Apakah sebab ketidak merataan informasi yang berhasil disebarkan, atau memang alasan teknis yang lainnya, tapi yang jelas apa yang (tidak) saya lihat dalam dua-tiga hari di tempat itu sangat memprihatinkan.

Sebagai seorang muslim misalnya, ini akan sangat berbeda sekali ketika saya mencoba membandingkannya dengan realitas yang pernah terjadi di masa lalu—khususnya dalam konteks pembicaraan ini apa yang pernah terjadi di zaman klasik islam (abad 9-14M), dimana etos keilmuan dan semangat mengembangkan ilmu pengetahuan seolah sudah menjadi pola kehidupan favorit masyarakat melek huruf, apalagi setelah mereka mengetahui bahwa mereka mendapatkan warisan budaya dan intelektual dari berbagai tradisi peradaban dunia melalui buku-buku terjemahan yang mereka bisa akses pada masa itu (abad 9)[2].

Salah satu contoh yang akan saya hadirkan dalam pembahasan ini adalah Ibnu Sina. Ibnu sina adalah seorang yang dikenal secara luas—baik oleh masyarakat Islam sendiri maupun oleh masyarakat Eropa, sebagai seorang dokter yang ulung. Sumbangannya dalam ilmu kedokteran tidak bisa diragukan. Banyak penemuan yang berhasil ia temukan berdasarkan hasil pergumulannya di bidang ini. Al-Qanun atau dikenal juga dengan nama The Canon of Medicine yang di dalamnya berisi tentang ensiklopedi ilmu kedokteran, berhasil membuatnya dijuluki sebagai The Father of Doktors di hari 1000 tahun kelahirannya di Iran.[3]

Disebutkan pada usia 18 tahun ia telah menguasai semua sains yang berkembang pada zamannya.[4] Pada usia yang sama pula ia terjun ke lapangan sebagai seorang dokter parktik. Disebutkan pula bahwa ketika Ibnu Sina ditawari berbagai hadiah besar oleh Sultan, ia hanya meminta untuk diizinkan membaca buku-buku dan manuskrip-manuskrip ilmiah yang terdapat di perpustakaan di lingkungan istana; di perpustakaan Khana. Bahkan ketika mulai semakin maraknya didirikan Observatorium Fisika di berbagai wilayah kekuasaan Islam seperti di Raqqah, di Syiraz, di Toledo, dan Sevilla, Ibnu Sina, karena kecintaannya juga terhadap Ilmu Astronomi, ia dihadiahi oleh Pangeran Persia secar sebuah observatorium di Hamadan.[5]

Di masa pencarian ilmunya, konon Ibnu Sina sering membuat guru-gurunya kewalahan. Dan karena hal tersebut, bahkan Ibnu Sina sempat mengalami kebingungan untuk memenuhi hasratnya dalam mencari pengetahuan dan memuaskan kehausan belajarnya[6]. Konon juga beliau banyak diceritakan telah mengulang-ulang naskah Aristoteles sebanyak 40 kali sebelum ia kelak benar-benar memahaminya setelah menemukan ringkasan yang ditulis oleh Al-Farabi yang membahas dan mengomentari pemikiran Aristoteles.[7] Hal tersebut menunjukkan betapa rasa keras ingin tahunya, dan kecintaannya terhadap pengetahuan yang terdapat dalam diri Ibnu Sina, sehingga begitu tidak mudah menyerah ketika menghadapi sebuah subjek pengetahuan yang belum benar-benar ia bisa kuasai.

Dengan berbekal keingin-keras-tahuannya, semenjak usia dini, Ibnu Sina diketahui terkenal mempelajari berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, dari mulai ilmu-ilmu bahasa seperti ilmu gramatika dan sastra, juga ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, teologi dan ilmu-ilmu alquran lainnya—diceritakan pula ketika umur 10 tahun Ibnu Sina telah berhasil menghafal alquran[8], belajar ilmu matematika, logika, hukum dan metafisika, meskipun beliau benar-benar menjadikan dirinya berhasil secara menakjubkan di bidang yang paling ia geluti—Ilmu Kedokteran.

Dalam tinjauan epistemologis, Ibn Sina adalah memang orang kedua setelah Al-Farabi yang banyak dikenal sebagai komentator dan penerus logika (baca: Organon) yang dirumuskan Aristoteles. Baik Al-Farabi maupun Ibn Sina—bersama Ibn Rusyd kelak, banyak menggunakan metode demonstratif sebagai metode untuk memecahkan permasalahan-permasalahan metafisika,[9] tetapi di sisi lain dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter Ibn Sina sangatlah juga terlihat tidak mengabaikan Observasi sebagai sebuah metode untuk mencapai kebenaran—bahkan turut juga mengembangkannya.[10]

Dalam Film The Physician (Sang Tabib/Sang Hakim/Sang Dokter)yang dibesut oleh Philip Stolzt dari sebuah Novel karya Noah Gordon, diceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari Ibnu Sina—yang digambarkan amat mencintai sekali Ilmu Pengetahuan, mengajarkannya kepada murid-muridnya di sebuah madrasah di Isfahan, dengan sikap yang sangat terbuka terhadap segala kemungkinan kebenaran, terutama yang diperoleh melalui proses “trial-error,” “percobaan”, dan obesrvasi.

(salah satunya) Diceritakan di puncak konflik dalam film tersebut, Isfahan dikirimi sebuah wabah Pes oleh tentara Turki mamluk yang bersekutu dengan pada Mullah yang amat membenci Ilmu Pengetahuan, dan Ibn Sina bersama murid-muridnya memutuskan untuk tetap tinggal di dalam benteng selama berminggu-minggu untuk mendapatkan pemecahan masalah (kematian) yang menimpa warga Isfahan.

Meskipun pada awalnya Ibn Sina menggunakan metode deduktif dengan mencoba mencari-cari rujukan teoritik yang pernah ditulis oleh Hipocrates untuk memecahkan masalah wabah Pes, Ibn Sina pada akhirnya menyuruh Jesse—salah seorang murid terbaiknya, untuk mencoba membedah seekor anjing sebagai bahan penelitian. Meskipun dalam film tersebut Jesse sempat meragukan asumsi gurunya bahwa anjing adalah model makhluk mamalia yang diasumsikan memiliki struktur organ mirip dengan manusia; Ibn Sina menolak membedah tubuh manusia sebab pada saat itu Ibn Sina menganggap hal tersebut bertentangan dengan ajaran monotheisme: Islam, Kristen maupun Yahudi.

Kegagalan “menemukan” struktur organ yang tepat sehingga gagal juga untuk mendiagnosa secara tepat gejala Pes yang menjangkiti setiap korban, tak mengurungkan Ibn Sina untuk memecahkan masalah tersebut. Bersama dengan Jesse Ibn Sina melakukan penelitian lapangan berhari-hari, di mana ternyata wabah tersebut menyebar melalui seekor kutu yang dibawa oleh tikus-tikus liar; Ibn Sina kemudian mencatatnya, menggambar ulang bentuk kutu tersebut dengan bantuan penggunaan sebuah optik untuk dibandingkan dengan gambaran literatur-luteratur yang sudah ada dalam rujukan kedokteran dari zaman Yunani, dan membuat racikan racun tikus serta menyebarkannya di seluruh sudut kota, serta membakar mayat-mayat korban.

Bahkan tidak berhenti sampai di situ, kecintaan dan etos ilmiah yang dimiliki oleh Ibn Sina nampaknya sudah sangat mendarah daging hingga satu ketika Ibn Sina dan Jesse diputuskan untuk dihakimi hukum pancung—oleh pengadilan agama para Mullah, sebab ternyata Jesse secara sembunyi-sembunyi (bahkan dari Ibn Sina) telah melakukan pembedahan mayat untuk menjawab rasa penasarannya, di dalam penjara, Ibnu Sina bertanya-tanya dan meminta Jesse untuk menjelaskan serta mengoreksi ulang materi kelasnya mengenai bagaimana sebenarnya bentuk detail organ tubuh manusia; Jesse mengatakan bahwa apa yang diajarkan di kelas hampir semuanya keliru, dan berbeda dari yang sebenarnya. Ibn Sina tidak marah sama sekali, bahkan terlihat antusias mendengarkan murid terbaiknya terus menjelaskan.

Dalam Film tersebut dengan mudah kita bisa melihat Ibn Sina digambarkan sebagai sosok yang sangat terbuka pada kebenaran ilmiah, bahkan ketika kebenaran tersebut datang melampaui batas-batas keyakinan agama, dan bahkan rasa marah dan kesalnya terhadap muridnya yang melakukan percobaan laboratorium di luar batas etis yang ia gariskan.[11]

Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Ibn Sina amat sangat mencintai pengetahuan dan kebenaran adalah betapa hasil dari apa yang ditulisnya sebagai sebuah data ilmiah—kedokteran, menunjukkan tidak hanya kepekaan analisis, tetapi juga disertai dengan kejelasan pengamatan—indrawi. Berikut adalah penggalan tulisan Ibn Sina:

“Cairan tubuh (humor) adalah subtansi fisik yang cair dan lembab, bahan hasil transformasi makanan kita. Bagian makanan yang dapat ditransformasikan menjadi zat tubuh, baik secara sendiri atau berkombinasi dengan benda lain, adalah cairan yang sehat. Ia menggantikan zat-zat tubuh yang hilang. Residu makanan atau ampas adalah cairan buruk dan dibuang secara tepat.

Sebagian cairan adalah primer, dan sebagian lagi adalah sekunder. Cairan tubuh yang primer adalah: cairan merah darah, cairan berupa serum, cairan empedu, dan cairan empedu hitam. Cairan merah darah (yang dominan dalam darah) bersifat panas dan lembab. Ia biasanya merah tanpa bau yang tak enak dan sangat manis rasanya. Cairan serum bersifat dingin dan lembab, terdapat dalam jenis yang normal dan abnormal.

Cairan empedu bersifat panas dan kering, dalam bentuk normal merupakan buih darah, merah menyala, jernih, pedas. Cairan itu terbentuk dalam hati, ia beredar dengan darah atau mengalir ke kandung empedu. Yang mengalir ke peredaran darah berguna memungkinkan darah memberi makanan kepada jaringan-jaringan atau organ-organ yang membutuhkan sejumlah cairan empedu dan sekaligus berguna mengencerkan darah yang memungkinkan darah menjelajahi saluran-saluran kecil ke seluruh tubuh. Bagian yang mengalir ke kandung empedu bertujuan untuk membuang sel-sel tubuh yang telah rusak, memberi makan dinding kandung empedu, dan membersihkan sisa makan dan cairan serum yang melekat dari dinding usu dan menstimulasi otot usus dan anal untuk membuang kotoran.[12]

Selain kitabnya Al-Qanun, Ibn Sina juga menulis sejumlah buku yang sangat berpengaruh seperti: As-Syifa yang berisi tentang uraian tentang filsafat—ketuhanan, fisika, matematika, dan logika, Al-Najat yang berisi ringkasan dari kitab As-Syifa, yang ditulis secara khusus sebagai persembahan untuk kaum terpelajar yang ingin mengetahui dasar-dasar ilmu hikmah secara lengkap, Al-Isyarat wa Al-Tanbihat yang berisi tentang uraian logika dan himah. Terakhir adalah Al-Qanun[13]. Buku Qonun itu sendiri terdiri dari lima bagian pokok, yaitu:

  1. Prinsip-prinsip umum kedokteran yang meliputi filsafat kedokteran, anatomi, fisiologi, pemeliharaan kesehatan (higienis) dan penanganan penyakit-penyakit;
  2. Obat-obat yang sederhana
  3. Gangguan-gangguan organ dalam dan luar tubuh;
  4. Beragam penyakit yang memengaruhi tubuh secara umum, tidak terbatas pada satu organ tubuh; dan
  5. Obat-obat persenyawaan kompleks.[14]

Ibn Sina juga konon dikabarkan beliaulah yang pertama kali mengamati faktor musim sebagai salah satu yang dapat mempengaruhi kesehatan dan penyakit yang terjadi dalam tubuh seseorang. Juga bahaya tersebarnya melalui air dan angin; Ibn Sina dikatakan sebagai perintis awal teori kesehatan publik melalui hasil penelitiannya tersebut.[15]

Pandangan Filsafatnya[16]

  1. Rekonsiliasi Filsafat dan Agama

Upaya penyerasian antara filsafat dan agama adalah usaha yang telah lama dilakukan sebelumnya oleh filsuf Islam pertama, yaitu al-Kindi. Ibn Sina adalah pembahas ketiga setelah al-Kindi dan al-Farabi. Sebagaimana berkembangnya konsep ketuhanan dan emanasi, konsep al-taufiq bayn al-falsafah wa al-din (penyerasian antara filsafat dan agama) juga mengalami perkembangannya di tangan Ibn Sina.

Pekerjaan filsuf adalah mencari kebenaran. Sumber kebenaran ini adalah satu, yakni Malaikat Jibril atau Akal Aktif. Namun, ada perbedaan antara filsuf dan Nabi dalam media dan cara memperoleh kebenaran. Nabi, oleh karena dia adalah orang pilihan Tuhan, maka dia memperolehnya dengan al-hads al-qudsiy atau akal suci, sedangkan filsuf mendapatkannya dari al-aql al-mustafad atau acquired intellect, yaitu akal manusia dalam levelnya yang tertinggi, ia sudah bisa memikirkan hal-hal abstrak tanpa usaha dan upaya. Meski mempunyai level intelektual yang tinggi, tapi filsuf tidak akan mencapai level kenabian. Yang didapat Nabi disebut wahyu sedangkan yang diterima oleh filsuf disebut ilham.[17]

Ibn Sina mengklasifikasi manusia secara intelektual menjadi dua, yaitu kalangan awam dan terpelajar. Menurutnya, wahyu yang diterima oleh Nabi adalah diperuntukkan bagi kaum awam, sedangkan ilham yang diterima oleh para filsuf diperuntukkan kaum terpelajar.[18]

  1. Emanasi

Sebagaimana dikatakan oleh Majid Fakhry, para filsuf Neo-platonis seperti Ibn Sina dan al-Farabi dikendalikan oleh logika kebaikan Tuhan untuk menerangkan konsep emanasi dunia dari Tuhan sebagai suatu keniscayaan.[19] Berikut adalah teori emanasi Ibn Sina.[20]

Wujud Niscaya

¯

Akal Pertama           ý al-‘aql al-awwal [malaikat pertama atau cherub]

¯

Akal Kedua              ý Jiwa [malaikat langit pertama]           / tubuh langit pertama

¯

Akal Ketiga               ý Jiwa [malaikat langit kedua]   / tubuh langit kedua

bintang-bintang tetap atau tanda-tanda zodiak

¯

Akal Keempat          ý Jiwa [malaikat langit ketiga]    / tubuh langit ketiga

¯

Akal Kelima             ý Jiwa [malaikat langit keempat]           / tubuh langit keempat (Jupiter)

¯

Akal Keenam           ý Jiwa [malaikat langit kelima] / tubuh langit kelima        (Mars)

¯

Akal Ketujuh                       ý Jiwa [malaikat langit keenam]            / tubuh langit keenam (Matahari)

¯

Akal Kedelapan      ý Jiwa [malaikat langit ketujuh]            / tubuh langit ketujuh (Venus)

¯

Akal Kesembilan    ý Jiwa [malaikat langit kedelapan]       / tubuh langit kedelapan (Merkuri)

¯

Akal Kesepuluh      ý Jiwa [malaikat langit kesembilan]     / tubuh langit kesembilan (Bulan)

pemberi petunjuk (wahib al-shuwar); Malakiat Jibril

¯

Dunia Yang Fana (Generation and Corruption)

 

Dalam teori emanasinya, Ibn Sina mengembangkan teori yang telah diulas oleh filsuf muslim sebelumnya, yakni al-Farabi. Menurutnya, Alam semesta lahir dari kontemplasi dan akan kembali melalui ke asalnya melalui pengetahuan.[21]

  1. Filsafat Jiwa

Dalam membahas filsafat jiwa, Ibn Sina banyak mengkombinasikan elemen-elemen filsafat Plato dan Aristoteles.[22] Ruh atau Jiwa (nafs) pada dasarnya adalah awal kesempurnaan. Manusia terdiri dari dua entitas yang berbeda; tanah bumi dan roh suci atau jiwa. Awal mula manusia diciptakan adalah dari tanah bumi tersebut. Pada tahap ini ia hanya berbentuk sebongkah tubuh yang tak berdaya. Kemudian dimasukkanlah entitas ilahi yang berupa ruh ke dalam tubuh tersebut. Jadi, jiwa adalah awal kesempurnaan yang ada pada diri manusia.

Dalam tradisi keilmuan Islam, manusia dipandang sebagai mikro kosmos (al-‘alam al-shaghir) yang di dalamnya terkandung semua unsur kosmik; mineral, tumbuhan, hewan dan berbagai unsur lainnya. Dalam pada itu, Ibn sina membagi daya jiwa menjadi tiga bagian yang masing masing saling terkait[23]:

  1. Jiwa Nabati: Jiwa ini mencakup daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri dari:
  2. Fakultas nutritif (al-ghadiyah), yaitu daya yang ada pada manusia untuk mengkonsumsi makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan nitrisi tubuh
  3. Fakultas perkembangan (al-munmiyyah atau growth), yaitu daya yang menjadikan manusia mampu tumbuh sebagai konsekuensi logis dari makanan dan minuman yang dicernanya.
  4. Fakultas reproduktif (al-muwallidah), yaitu daya yang dimiliki oleh manusia yang digunakannya untuk berreproduksi dan berembang biak.
  5. Jiwa Hewani yang mencakup daya-daya yang terdapat pada manusia yang terdiri dari:
  6. Pengindraan (sensation). Sensasi ini terbagi menjadi dua area yaitu, (i) Indra lahir atau fisik yang tidak lain adalah panca indra yang dimiliki oleh manusia yang bermanfaat untuk bertindak, sumber ilmu dan alat untuk bertahan hidup. (ii) Indra batin yang terdiri dari:
  • al-hiss al-musytarak (indra bersama) yang mengoordinasikan data-data yang diperoleh dari indra lahir atau panca indra sehingga didapat sebuah gambaran objek yang utuh (rasa, bentuk, raba, aroma dan suara).
  • al-khayyal (retentive faculty) yang bertanggung jawab dalam menyimpan gambaran objek yang diterima oleh panca indra sehingga bisa diingat seperti mengingat wajah keluarga dan teman.
  • al-wahm (estimative faculty) yang dapat memperkirakan apa yang membahayakan dan apa yang bermanfaat.
  • al-mutakhayyilah (imaginative faculty) yaitu daya imajinasi kompositif yang dapat memisahkan image dari fisiknya dan juga dapat menggabungkan berbagai citra-citra yang mungkin tidak akan dijumpai bentuk riilnya seperti saat seseorang berimajinasi tentang kuda pegasus yang mempunyai tanduk dan sayap.
  • al-quwwah al-hafidzah (recollection) yang bertugas menyimpan dalam memori setiap hasil dari estimasi yang dilakukan oleh daya al-wahm sehingga dalam menjalani hidup dia akan selalu waspada.
  1. Gerak (al-harakah atau locomotion), jika gerak yang dihasilkah oleh sel-sel sensoris disebut al-hiss (sensasi), maka gerak yang dihasilkan dari dari sel-sel motorik disebut al-harakah. Ibn Sina membagi gerak (al-harakah) ini menjadi dua bagian:
  • al-nafs al-syahwiyyah yaitu gerak yang mengarah pada hal-hal yang bermanfaat seperti makan dan minum.
  • al-nafs al-ghadhabiyyah yaitu gerak yang mengacu pada penghindaran terhadap objek-objek yang berbahaya.
  1. Jiwa Rasional, cakupannya adalah daya-daya istimewa dan khusus yang terdapat hanya pada manusia. Jiwa melaksanakan tugasnya berdasarkan pada entitas akal. Jiwa rasional ini terbagi menjadi dua:
  2. al-aql al-amilah (akal praktis) yang bertugas mengatur tindakan bebas manusia.
  3. al-aql al-alimah (akal teoritis) yang menjalankan fungsi kognitif sehingga dia bisa merumuskan ilmu pengetahuan. Akal ini mempunyai beberapa tingkatan:
  • al-aql al-hayulani yaitu akal yang masih potensial namun belum dilatih walaupun sedikit sebagaimana akal yang dimiliki oleh seorang bayi yang baru dilahirkan. Akal ini akan hanya tetap potensial dan tidak akan aktual jika dia tidak tersentuh oleh akal aktif (al-aql al-fa’al).
  • al-aql al-malakah yaitu ketika akal sudah berlatih untuk berpikir hal-hal yang abstrak.
  • al-aql bi al-fi’l yaitu ketika akal telah sudah mampu berpikir tentang hal-hal yang abstrak.
  • al-aql al-mustafad (acquired intellect) yaitu akal yang sudah dapat memikirkan hal-hal yang abstrak tanpa daya dan upaya atau ketika akal sudah mampu mengadakan kontak dengan akal aktif.

Ibn Sina meletakkan ilmu psikologi atau kejiwaan di antara fisika dan metafisika. Dalam arti, ilmu psikologi adalah pelajaran yang dikaji secara fisika sekaligus metafisika. Dikategorikan dalam ilmu fisika oleh karena sekalipun jiwa bersifat imateril, selama ia berada pada diri manusia maka ia tetap ada dalam kategori ilmu-ilmu kealaman fisika (al-ulum al-thabi’iyyah). Dilihat dari konteks metafisika karena jiwa merupakan pancaran langsung dari akal samawi atau yang kerap disebut sebagai akal aktif.

Jiwa manusia bersifat immateri, ia mempunyai tempat asal dan pada gilirannya nanti akan kembali ke tempat asalnya tersebut sebagaimana diutarakan oleh Ibn Sina dalam syairnya:[24]

Dari kahyangan turun padamu
Bidadari gemulai berlagak malu

Yang dimaksud dari syair tersebut adalah terpisahnya jiwa dari badannya menuju keabadian.[25]

  1. Ketuhanan

Jika di Barat, para filsuf banyak yang memusnahkan Tuhan, lain halnya dengan di dalam dunia filsuf dan ilmuwan Islam. Dalam pandangan dan kajian mereka, Tuhan adalah segalanya karena Dia adalah penyebab awal segala sesuatu atau al-‘illat al-ula. Semesta alam, semuanya tidak bisa dibayangkan hadir tanpa-Nya. Jika dalam kajian metafisik, Tuhan sering dijauhkan dari sains modern beda halnya dengan perlakuan yang ada di dunia Islam; Tuhan menjadi objek kajian yang paling mulia atau the noblest object. Karena itulah ilmu ini kerap disebut dengan ‘ilmu ilahi’ yang tidak lain adalah derajat ilmu paling tinggi. Selain itu, mengkaji ilmu ketuhanan akan membawakan kebahagiaan pada diri manusia dan bahkan kesempurnaan.[26]

Pada masa sebelum Ibn Sina, Tuhan dipersepsikan sebagai sebab akan segala sesuatu. Munculnya pandangan ini beranjak dari realitas bahwa sesuatu akan terjadi karena gerak dari sesuatu yang lain. Demikian halnya dengan alam semesta, ia mewujud dengan sebuah sebab yang pasti. Dalam hal ini, baik para filsuf Yunani –terutama Aristoteles- dan filsuf Islam, terutama al-Kindi, menyatakan kesamaan pendapat.

Namun dalam level tertentu antara kejadian dan perubahan yang muncul darinya atau dengan kata lain antara perubahan dan murajjih-nya (sufficient reason atau alasan yang memadai) akan mengalami henti agar tasalsul (runtutan sebab-akibat) berhenti pada penggerak yang tidak bergerak (uncaused cause). Dalam hal ini, penggerak yang tidak bergerak itu adalah Tuhan. Dia wujud tanpa sebab apapun yang mewujudkanNya (causa prima). Maka di sinilah rantai tasalsul berhenti.[27] Al-Kindi setuju dengan Arsitoteles bahwa Tuhan adalah penggerak yang tidak bergerak, namun Al-Kindi di satu hal tidak menyetujui konsep Aristoteles yang menyatakan bahwa penggerak yang tidak bergerak tersebut adalah berbentuk fisik. Kemudian, oleh filsuf Islam selanjutnya, al-Farabi, dikembangkan lagi bahwa Tuhan bersifat wajib al-wujud, sedangkan segala hal selain Dia adalah mumkin al-wujud. Dan berikut adalah uraian mengenai perkembangan pemikiran filsafati berikutnya oleh penerus mereka, yakni Ibn Sina.

Ibn Sina kerap disebut sebagai filsuf wujud. Dialah yang menjadi puncak filsafat peripatetik Islam. Dia melontarkan kritiknya terhadap pandangan tersebut di atas. Bahwa menyatakan dan mempersepsikan Tuhan sebagai penggerak yang tidak bergerak hanya akan menjelaskan bagaimana alam ini terbentuk dan tercipta, tetapi tidak secara otomatis memenuhi kekurang-jelasan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta ini. Kemudian dibedakanlah antara wujud murni dan eksistensi alam. Dia membagi ‘wujud’ menjadi tiga macam, yaitu[28]:

  1. Wajib al-Wujud (wujud yang niscaya), yaitu eksistensi yang pasti ada dan tidak mungkin tidak ada. Sifat kewujudannya adalah niscaya dan mutlak. Dengan kata lain, jika ia tidak ada maka ia akan berlawanan total dengan realitas yang lain.
  2. Imtina` al-Wujud (wujud yang tidak mungkin), yaitu eksistensi yang mustahil adanya. Eksistensinya tidak akan terjadi karena akan berlawanan dengan realitas.
  3. Mumkin al-Wujud (wujud yang mungkin), yaitu eksistensi yang berada di luar dua hal tersebut di atas. Sifatnya bisa ada dan bisa juga tidak.

 

Pembagian ini merupakan pemikiran yang paling fundamental dalam sejarah filsafat. Lebih dari itu, pemikiran ini banyak mempengaruhi para filsuf dan teolog di masa-masa berikutnya. Selanjutnya, pada abad pertengahan ia mempengaruhi banyak pemikir baik dari kalangan Islam, Yahudi maupun Kristen.[29]

Awal dari segala eksistensi adalah wajib al-wujud atau Tuhan itu sendiri. Tuhan, dalam kontemplasinya (ta’aqqul) memancar dan mewujudkan eksistensi lainnya. Dari kontemplasi yang dilakukannya muncullah Alam semesta ini. Sebelum mewujud, alam semesta di sebut mumkin al-wujud, karena ia potensial untuk meng-ada namun belum terrealisasi. Barulah ketika ia mewujud ia dinamakan wajib al-wujud lighairihi (niscaya adanya tapi relatif). Relatif di sini berarti bahwa ia bukan timbul dengan sendirinya melainkan dengan ketergantungan pada wajib al-wujud.

Penutup

Di abad 21 ini mungkin perkembangan ilmu kedokteran sudah jauh lebih maju ketimbang apa yang telah dikerjakan di zaman Ibn Sina. Ilmu kedokteran modern bahkan telah memperoleh peralatan teknologis yang sudah jauh sekali canggih, tapi akan sangat jarang sekali kita menemukan semangat seorang dokter sebagaimana pernah dimiliki oleh Ibn Sina; yang menyatukan antara disiplin pengetahuan observasi dan disiplin pengetahuan rasional sekaligus pengetahuan tentang metafisika yang dalam, bahkan tak jarang memproblematikannya: antara Iman, Akal dan Penemuan. –sekian

 

[1] Laporan riset ini dimuat dalam GoodnewsfromIndonesia.org April 2015

[2] Pada masa itu, tentunya sarana penyebaran ilmu pengetahuan barulah melalui buku-buku yang berhasil ditulis dalam bentuk manuskrip-manuskrip yang kemudian dikumpulkan dalam perpustakaan, di mana mesin cetak yang bisa digunakan sebagai sarana menggandakan pengetahuan hingga bisa disebarkan ke tempat yang lebih luas dan sudut-sudut negara baru ditemukan oleh Gutenberg di era Renaissans. Kontak budaya sebagai awal dari penyebaran ilmu pengetahuan dicerminkan melalui aktivitas penerjemahan karya-karya dari pusat-pusat peradaban yang tersebar di berbagai penjuru. Dan tentunya hal ini, semakin dipermudah setelah terjadinya kontak budaya yang lebih luas lagi ketika terjadi revolusi teknologi—pelayaran dan transportasi kemudian revolusi, Teknologi Informasi.

[3] Lih., Husen Heriyanto, Menggali Nalar Saintitik Peradaban Islam, tentang Ibnu Sina. (Mizan: 2011)

[4] Ibid, hal.199

[5] Lih., hal.92

[6] Baca, Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filsuf dan filsafatnya, tentang Ibnu Sina. (Rajawali Press: 2015)

[7] ‘Majid Fachri, Sejarah Filsafat Islam, diterjemahkan oleh Mulyadi Kertanegara (Pustaka jaya: 1987)

[8] Ibid, hal.199

[9] Ibid, hal.57

[10] Ada satu adigium yang mengatakan, bahwa filsafat Yunani adalah bagaikan taman kebun semerbak baunya tapi tak berbuah. Hal tersebut disebabkan oleh kecenderungan filsafat Yunani yang lebih mengedepankan bentuk penalaran rasional dan matematis ketimbang metode observasi dan percobaan. Dalam buku Pengantar Epistemologi Islam Mulyadhi Kertanegara (Mizan: 2003), dijelaskan bahwa para filsuf muslim seperti Ibn Haitsam dan Albiruni telah mengintrodusir penggunaan metode observasi dalam bidang Astronomi dan Ilmu Bumi jauh-jauh hari sebelum F.Bacon mendeklarasikannya sebagai metode ilmiah di abad modern. Bahkan Al-Biruni mendapatkan julukan sebagai The Master of observation sebab pembuktian-ilmiahnya terhadap panjang radius keliling bumi.

[11]Organon—Menyederhanakan sebuah masalah adalah kewajiban bagi (kerja) filsafat, begitu pun membuat sesuatu yang rumit menjadi terlihat lebih mudah untuk difahami, sebab yang demikian adalah salah satu urgensi dari (ber)filsafat, di mana berfilsafat merupakan sebuah kerja “abstraksi” terhadap perkara-perkara yang partikular ke yang universal. Tetapi permasalahannya adalah, proses penyederhanaan kadang memberikan konsekwensi untuk me”minggir”kan dan “menyisih”kan banyak hal yang tidak bisa dirampatkan dalam satu bagunan penyederhanaan tertentu. Banyak hal yang mesti “dibuang” dari pembicaraan, guna memberikan sebuah gambaran yang “menyeluruh” dan—sekali lagi, (untuk seolah-olah) mudah difahami; Tapi permasalahannya adalah, dalam skala yang labih makro—misalnya ketika kita hendak melakukan sebuah analasis historis mengenai satu peristiwa, kita akan “dibuat” dengan “paksa” meninggalkan banyak fakta-fakta yang bisa jadi malah justru penting dan menentukan[11]; Dan permasalahannya adalah, ternyata relitas sebenarnya (“hadir”-“bergerak”) tidak sesederhana itu: ia kompleks, detail, partikulir, terpecah-pecah, atomistik, “kusut,” dan untuk memahaminya dengan lebih baik, tak jarang kita mesti memasuki “khazanah-kerumitan” tersebut.

Salah satu contohnya adalah, ketika saya mencoba untuk memahami dengan lebih baik tentang Ilmu Alat (Organon/Organum) dalam bidang logika. Penyederhanaan yang berhasil dilakukan oleh banyak sarjana—dalam bentuk tulisan-tulisan sekunder terhadap karya babon Organon, ternyata masih lebih banyak, bahkan terjebak pada isu-isu maenstreem yang terlalu umum. Misalnya, bahwa Organon saat ini (hanya) telah terdiri dari tiga arus besar: Organum milik Aristoteles, Novum Organum milik Francis Bacon, dan Tertium Organum milik Outspensky, seperti yang digambarkan oleh Jonathan Bennet dalam cuplikan pengantar tulisannya yang dibuat dengan judul The New Organon or: True Directions Concerning the Interpretation of Nature (2005)[11] yang (mereka) masih mewakili pandangan maenstreem tersebut. Hal demikian—proses penyederhanaan masalah, memang membantu memberikan peta pemahaman di awal, tetapi bisa jadi malah menjebak kita dalam pemahaman yang simplistik bahkan dalam bentuk ekstrimnya reduksionis, tak mendalam dan tak utuh—dalam konteks (saya) ini pemahaman tentang Organon.

Nyatanya, dalam pelacakan singkat tentang riwayat hidup Ibn Sina di atas, juga melalui pengalaman hidup Ibn Sina sebagaimana diceritakan dalam film The Physic, model penalaran deduktif selalu memiliki “kebuntuan”nya tersendiri ketika dihadapkan dengan satu masalah yang bahkan masalah tersebut adalah masalah yang sederhana dan konkrit di depan mata; juga sebagai sebuah pelacakan sejarah ilmu alat (organon) ternyata simplifikasi tersebut sempat membuat kita tidak bisa memahami secara utuh dan lebih jernih permasalahan yang ada.

[12] Ibn Sina dalam kitabnnya Al-Qanun, dikutip dari buku Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. hal. 203

[13] Ibid. hal.94

[14] Ibid, hal.202

[15] Ibid. hal.205

[16] Tulisan pada bagian ini–sementara diambil dari makalah milik Halim Miftahul Khoiri (Sebagai Kontributor)

[17] Sirajuddin Zar, Ibid, h. 95

[18] Ibid, 96

[19] Majid Fakhry, Etika Dalam Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 43

[20] Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan; Sebuah Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 40-41

[21] Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam; Manifestasi, (Bandung: Mizan, 2003), h. 536

[22] Majid Fakhry, Etika Dalam Islam, Ibid, h. 104

[23] Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu, (Bandung: Arasy Mizan, 2006), h. 184-191

[24] Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu, Ibid, h. 178-179

[25] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Ibid, h. 66-67

[26] Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan, Ibid, h. 78-79. Bahwa mengkaji ilmu ketuhanan akan membawa manusia kepada level kesempurnaan telah ditulis oleh al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din; khashiyat al-insan al-‘ilmu wa al-hikam, wa asyrafu anwa’ al-‘ilm ulum al-ilahiyyah, fabihi kamal al-insan (keistimewaan manusia adalah ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, adapun ilmu yang paling mulia adalah ilmu ketuhanan, dengan ilmu ketuhanan tersebut terwujudlah kesempurnaan manusia). Dalam ulasan beberapa ulama’, ilmu ketuhanan di sini diartikan bukan hanya mengetahui secara teoritis tetapi juga mengerti dan mengenal dengan benar dalam pengalaman spiritualnya.

[27] Mulyadhi Kartanegara, Gerbang Kearifan, Ibid, h. 79-81

[28] Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Ibid, h. 535

[29] Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Ibid, h. 536

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s