WAWASAN TENTANG LOGIKA & DIALEKTIKA (Tradisional),–sekilas saja

hand-923436_640

Hampir semua orang menyebutnya–logika, adalah sebuah hukum; The Aristotelian Law of The Human Modus. Tapi semenjak awal kaum Sofis sudah mengantisipasinya sebagai hanya sebuah retorika temporal-budaya, sebelum Socrates menekankan dialektika sebagai mekanisme “ragu-meragukan” yang logic itu.

Di tangan Socrates, dialektika diarahkan kepada kesimpulan-kesimpulan yang berbentuk general-induktif. Dialektika tidak diarahkan kepada sebuah sintesa yang ringkih, sebagaimana kaum Sofis melakukannya secara skeptik. Socrates meretas jalannya sendiri dan naik ke Kuil Delphi sebagai “orang bijak.”

Keteguhannya sebagai “orang bijak” inilah yang membuat muridnya–plato, terkesan, kagum dan kemudian menulis sebuah traktat-dialog tentang dunia “IDEA.”

Di”angkatnya” nilai-nilai kebenaran setinggi-tingginya ini, ternyata membuka ruang untuk Aristoteles–murid dari Plato, mencoba memecahkan masalah diskursif mengenai metodologi untuk pertama kali: Bagaimana cara menjelaskan kebenaran tersebut? Bukan hanya melulu mencapainya. Di sinilah Logika sebagai sebuah instrumen demonstratif lahir di luar jalur “Dialektika-bidan”nya Socrates, dan “Anamnesis”nya Plato yang cenderung “Deduktif-Mistik.”

Apakah ini sebuah kemajuan?

Yang perlu kita fahami di awal adalah, apa yang dilakukan baik oleh Plato maupun Aristoteles, adalah sebuah pencapaian, dari “kekurang-jelasan” atas apa yang dilakukan oleh Socrates dalam meraih kebenaran di tengah kehidupan “sehari-hari.” Dan karena itu adalah sebuah pencapaian, maka paling tidak baik Plato maupun Aristoteles bisa memilah-milah secara lebih proporsional posisi Logika sebagai kerja deduktif ataupun mana sebagai kerja induktifnya.

Dalam Organon, misalnya Aristoteles menurunkan hampir 7 Bab tentang pemahaman asas-asas menjelskan (yang sekarang kita kenal dengan istilah Logika). Melalui asas-asas pemahaman inilah kemudian Aristoteles masuk kepada bab-bab berikutnya: tentang Seni, Etika, Biologi, Fisika, Metafisika, Politik, Poetic, Bahasa dsb.

Dalam dialognya, Plato mengilustrasikan proses pencapaian kebenaran melalui “meditasi” dan “matematika.”

Pertanyaannya, sekali lagi, apakah ini sebuah kemajuan?

Jelas, ini adalah sebuah pencapaian baik Ideal, Esensial maupun Eksistensial yang berhasil mereka lakukan di atas problem filsafat yang ditawarkan oleh Socrates, sebagai “orang bijak”.

Lalu (Socrates) sebagai seorang sofis?

Nanti dulu… nanti dulu…

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah logika dan cara mempertanyakan berhenti berkembang? dan monofonik? Wah saya kira sudah jauh kemana-mana. Atau, jangan-jangan masih dalam orbit filsafat yang ditawarkan oleh Socrates?

Jawabannya bisa kita lalukan dengan cara mempertanyakan dan mengecek sendiri sejauh mana kita sudah mempertanyakan konsep-konsep dan pengetahuan yang telah kita miliki, dan bagaimana cara kita menjelaskan, menyusunnya sebagai sebuah “ilmu.” Apakah itu terkait dengan Sains, Agama, Kehidupan Sosial, Politik, Seni, Bahasa dsb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s