(politik) SASTRA, BAHASA, LOGIKA dan DIALEKTIKA (I) : Debat Nuruddin Asyhadie & Shiny.ane el’poesya; “Is There something a logical?”

LOGIC 3

 

Nuruddin Asyhadie Wrote

“Kita memerlukan ketahanan sastra,” kata saya. Kami, saya dan beberapa teman–Windi, Megi, Idaman, Hendi, Eva– sedang ngopi di Pancong, berbicara banyak hal, dari big data dan Hadoop, sampai politik sastra. “Apa itu?” tanya Megi. “Kemampuan mengonsumsi/memproduksi sastra (puisi, fiksi, drama, esai), misalnya di tingkat konsumsi saja, mampu mengenali atau menilai suatu produk sastra bermutu atau tidak, layak dibaca atau tidak, mampu mengenali dan menunjukkan kelemahan dan kelebihannya secara tepat, berbukti, dan berargumentasi solid,” jawab saya. “Kita mengakses dunia pakai apa? Bahasa. Bahasa adalah satu2nya alat memaknai dan menyampaikan makna. Karena inilah maka sastra disebut McLuhan batas peradaban. Jika kemampuan berbahasa, yang sastra merupakan representasi terbaiknya, lemah, maka peradaban kita lemah. Lihat misalnya, ketika sastrawan kita menerima berita seorang penulis A dari negeri X memenangkan nobel tahun ini, mereka langsung takjub, kagum, mereka tak sedikitpun mengerenyitkan dahi, mengangkat alis, dan memeriksa apakah semua klaim dan argumen yang diberikan bagi kemenangan itu tepat atau tidak. Mengapa? Karena mereka tak tahu bagaimana mengetahui kualitas suatu produk sastra, mengetahui kualitas argumen, mengetahui kualitas makna. Apa artinya? KERBAU DICOCOK HIDUNG BELAKA. Jika kita memiliki KETAHANAN SASTRA, berbagai KLAIM, berbagai POLITIK PENGANGKATAN yang tak tepat, siapapun yang melakukannya, TAK AKAN BERPENGARUH, TAK MUNGKIN BERPENGARUH.”

 

Comment :

Frigidanto Agung : like

Nuruddin Asyhadie : Jempolmu ambrol, Gung.

Frigidanto Agung : wkwkwkwkwkw…….

Sulhanudin Attar : ketahanan sastra ini diperlukan bagi siapa saja, cak.

Nuruddin Asyhadie : ya, bagi siapa saja. kan dibilangan batas peradaban. kalau setiap hari kalian mengonsumsi atau dijejali sastra buruk, sementara kalian tak tahu itu sastra buruk dan mengiranya sastra bagus, apa ndak jadi idiot kalian dan anak2 kalian?

Sugi Siswiyanti : Tolong sebutkan beberapa judul sastra bagus yang sekarang ada di toko buku

Nuruddin Asyhadie : permintaan goblok

Sugi Siswiyanti : Huh digoblokin

Nuruddin Asyhadie : Lha bagaimana tak goblok, pada status yang membicarakan pembangunan kemampuan membaca, menilai, sehingga lepas dari sesat pikir appeal to authority, malah minta rekomendasi buku apa yang bagus. *ngelus dada*

Sugi Siswiyanti : Qiqiqi…bisa juga bikin pak guru ngelus dada

Nuruddin Asyhadie : bukan dadamu tapinya.

Sugi Siswiyanti : Owh tentu tidak

Wina Bojonegoro : ngene iki aku trus ketok guoblok frown emoticon salam buat ams Idaman Andarmosoko

Dar Syah : apa ukurannya produk sastra bermutu atau tidak?

Nuruddin Asyhadie : Jika tahu apa itu tulisan, maka aksn tahu ukuran kualitas sastra. Cari di mesin pencari fb, apa itu esensi tulisan, mengapa hal itu adalah esensi tulisan, dam bukan yg lainnya.

Shiny Ane El’poesya : Sayangnya bahasa juga (bisa) bermakna main2.

Nuruddin Asyhadie : apakah yang dimaksud bahasa juga (bisa) bermakna main2? dan mengapa jika bahasa juga (bisa9 bermakna main2, maka ia “sayangnya”, “sayangnya” terhadap makna bahasa sebagai apa?

Shiny Ane El’poesya : Dalam status di atas mengasumsikan bahwa bahasa memiliki fungsi memaknai dan menyampaikan makna. Makna ada dengan asumsi bahwa si “penutur” menyampaikan maksudnya melalui bahasa secara monofonik. Sayangnya, sekali lagi sayangnya, kadang orang menyampaikan sesuatu dengan menggunakan ambiguitas; sedang di sisi lain, makna tak jarang hanyalah abstraksi dari si “penangkap” bahasa itu sendiri.

Sebenarnya, status di atas masih kurang tegas dalam membedakan bahasa sebagai alat komunikasi yang konvensional, dengan sastra yang unsur ambiguitas dan individualitasnya yang tak jarang tinggi; bukankah bahasa juga digunakan secara berbeda bagi setiap masyarakat dalam (komunitas) kebudayaannya?

Politik sastra, sebagaimana dicontohkan dalam status di atas, justru adalah praktik real dari adanya “permainan” bahasa itu sendiri–setiap komunitas akan “membaca” yang lain dan membahasakan identitas dirinya sesuai kepentingannya masing-masing: politik, ekonomi, dsb.

Artinya, bagi saya praktik politik sastra jadi bermakna bukan karena tingkat keseragaman makna yang bisa dikomunikasikan oleh sebuah “peradaban” tertentu, tapi puncaknya jutru dilihat dari unsur retoris yang bisa dihasilkan sebanyak mungkin pihak yang berkepentingan dalam memproduksi makna di dalam kontestasinya.

Lebih jelas lagi– Penghargaan Nobel adalah sebuah “simbol” smile emoticon bahasa) yang digunakan oleh komunitas tertentu untuk “menguasai” jalannya permainan bahasa yang digunakan kepada publiknya–komunitas lain yang hendak turut serta. Tentunya dengan kenyataan bahwa diskursus tentang Nobel tidak tuun dari langit, tapi dibentuk sepanjang waktu oleh pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya. Dan hakikatnya, kita–penyair-penyair kita, diberi kebebasan untuk ikut bermain ataupun tidak, mengabaikan bahkan bisa menganggap Nobel tidak penting sama sekali. Sama seperti bebasnya saya memutuskan untuk menganggap status di atas penting atau tidak penting.

Dar Syah anggaplah saya awam soal sastra. sekali lagi kalo menurut mas nuruddin apa ukuran produk sastra bermutu atau tidak bermutu? mohon jawab bila berkenan berbagi ilmu sama yg awam

Oya 1 lagi, Big Data. Kehadirannya dalam dunia IT, justru menunjukkan bahwa ia adalah semacam “meta program” yang membawahi lebih dari satu jenis bahasa algoritma. Bukankah seperti itu?

Mas Sugi Siswiyanti bolehkah saya mencoba menjawab pertanyaan di atas terkait dengan buku sastra yang bagus?

Sebenarnya pertanyaan demikian kurang tepat dalam konteks pembicaraan di atas. Sebab praktik politik sastra hakikatnya “tidak sedang” mencari karya yang bagus, tetapi yang ia tuju adalah kesadaran publik yang mawas terhadap praktik-praktik kepentingan dalam dunia sastra. Pada akhirnya, ketika kesadaran itu terbentuk, maka si pembaca akan mampu untuk memilih mana karya yang sesuai dengan kepentingan (komunitas)nya. Kepentingan bisa diukur misalnya melaluisejauh apa karya tersebut relevan bagi komunitas yang kita hendak bentuk, dan memiliki urgensi sejauh apa bagi lingkungan kebudayaannya. Dan tentunya, sekali lagi, setiap masyarakat punya permainan bahasanya masing-masing!

Semoga komentar-komentar kecil saya bisa lebih menjelaskan dengan clear ketimbang statusnya sendiri.

Selamat malam.

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya apa yang membuat keberadaan makna mengasumsikan si “penutur” menyampaikan maksudnya melalui bahasa secara monofonik? Apakah menyampaikan maksud melalui bahasa secara polifonik berarti absennya makna? Apakah bermain-main ambiguitas berarti menghapus bahasa sebagai alat memaknai dan menyampaikan makna?

Dar Syah apa jawabanku dalam komentar sebelumnya?

Shiny Ane El’poesya : Bahasa yang digunakan oleh penutur sebagai alat menyampaikan makna, berarti bahasa pada saat itu juga menjadi sarana konseptual. Maka makna yang ada di dalamnya adalah makna konseptual-esensial. Sedangkan ambiguitas makna terletak pada selain potensi bahasa yang diapakai secara berbeda-beda oleh kebudayaan yang berbeda, juga bisa berasal dari kesemana-menaan penggunaan bahasa itu sendiri. Dan makna reseptif yang dicapai oleh pembaca adalah makna esensial yang melalui proses abstaksi. Ambiguitas tidak serta merta menghilangkan makna, sebab makna bisa dicapai melalui proses abstraksi meskipun oleh penuturnya sudah diniatkan untuk tidak menyampaikan konsep apapun dalam “igau”annya. Contoh, karya Sutardji tetap masih bisa kita cari makna hermeneutisnya, makna eksistensialnya, makna politisnya dsb. Dari sanalah sastra kita juga dibangun, dari diskursus, meskipun penuturnya tidak hendak menyampaikan apa-apa. Termasuk cara bang Nurudin “mencaci” puisi2 yang tak bermakna di facebook, di saat yang menuturkan pun tidak sedikit yang tidak berniat untuk memberikan makna konseptual bagi kesusastraan kita dalam karya-karya “curhatnya.” Kesusastraan kita itu ada karena kita sama-sama membayangkannya ada, dalam bentuk terentu. Orang yang tidak ikut membayangkannya, ia tidak menyumbangkan makna konseptualnya bagi hakikat sastra kita.

Memaknai dan menyampaikan adalah kata kerja, dia harus dilakukan oleh subjek. Subjek yang tidak menyadari apa yang dia lakukan, dia tidak sedang melakukan itu; ia terhegemoni oleh struktur konseptual bahasa masyarakatnya. Pada saat itu, bahasa tidak menjadi alat menyampaikan makna bagi subjeknya.

Nuruddin Asyhadie : “kadang orang menyampaikan sesuatu dengan menggunakan ambiguitas”–> ini aktivitas memaknai dan menyampaikan makna bukan?

Shiny Ane El’poesya : Menyampaikan ambiguitas bisa bertujuan retoris, juga bisa bertujuan konotatif. Yang pertama bisa menjadi tidak bermakna sama sekali. Contohnya adalah ketika kita menciptakan bahasa algoritma. Bahasa dalam konteks ituntak bermakna–konseptual, dan digunakan sebagai bahan “main-main” meskipun para pemainnya bisa saja memaknainya secara konseptual tergantung tingkat abstaksi intelektual yang dia miliki. Sedang yang kedua ambiguitas masih bermakna konseptual, ia ambigu tapi tetapi berniat menyampaikan makna konseptual.

Nuruddin Asyhadie : yang pertama itu adalah menyampaikan ambiguitas dengan tujuan retoris?

Shiny Ane El’poesya : Secara praktis retorika pernah digunakan oleh kaum sofis untuk mempengaruhi orang. Tapi secara teoritik, apa yang dilakukan oleh kaum sofis adalah kebalikan dari apa yang kemudian dilakukan oleh Socrates dalam menggunakan bahasa sebagai yang menjadi basis dari makna abstrak dan koseptual bagi “kebenaran.” Artinya, kaum sofis pada dasarnya secara radikal mengantisipasi penggunaan bahasa sebagai basis dari metafisika dan segala usaha kinseptual atasnya; sekali lagi, bahasa sebagai main2, dengan menggunakan ambiguitas bahasa sebagai wujud yang telah real hadir di tengah2 masyarakat.

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya pertanyaannya sederhana, menggunakan bahasa polifonik, ambigu, bahkan kabur adalah menggunakan bahasa untuk menyampaikan makna atau bukan?

Shiny Ane El’poesya : Sudah saya jelaskan.

Nuruddin Asyhadie : komentar manakah yang dapat kamu tunjuk sebagai bukti dari sudah dijelaskan?

Shiny Ane El’poesya : Terimakasih, dan selamat malam. Semoga komentar-komentar saya lebih bermanfaat bagi temen2 yang lain.

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya apa yang membuat komentarmu lebih bermanfaat, jika salah semua? Belajar lebih giat, berhati-hati, dan jangan tergesah berbicara.

Shiny Ane El’poesya : Benar, komentarku jadi tidak bermanfaat, jika salah semua.

Nuruddin Asyhadie : Maka mari kita lihat komentarmu salah semua atau tidak, apakah kamu memahami istilah2 yang kamu gunakan, seperti “sayangnya”, “makna2”, “abstraksi “, “konseptual”, dan banyak lagi tepat atau tidak. Mari kita lihat apakah penjelasan2mu jelas atau vague, atau bahkan tak bermakna sama sekali. smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Jadi, kalau penjelasanku benar, maka ia–bahasa yang saya gunakan akan bermakna, dan artinya saya memiliki kemungkinan benar selama mas Nurudin memahami betul nemenklatur bahasa yang saya gunakan. Kalau pernyataan2 saya ternyata salah, artinya ia jadi tak bermakna, maka saya pun benar, sebab itu membuktikan pernyataan-pernyataan saya di atas tentang ketidak-bermaknaan

Lebih jauh, baik benar atau pun salah premis-premisku itu, silahkan mas Nurudin buktikan dan ukur dan uji dengan konsep2, definisi2 yang ada di kepala mas Nurudin kedua-duanya. Silahkan tunjukkan secara detail satu persatu.

Jangan suruh orang lain belajar, dan bang Nurudin sering menggunakan kalimat2 arogan seperti itu. Buktikanlah.

Nuruddin Asyhadie : aku arogan? smile emoticon dalam definisi apa aku bisa disebut arogan? jika apa yang kukatakan tepat apakah bisa disebut arogansi? apakah aku tak sedang membuktikan? apa arti membuktikan dengan konsep2 di kepalaku sendiri? tahu siapa yang sebenarnya bersikap arogan, Shiny Ane El’poesya?

Shiny Ane El’poesya : Saya persilahkan sekali lagi untuk mas Nurudin menyusun premis demi premis berserta argumentasinya. Kenapa terus bersembunyi di balik pertanyaan demi pertanyaan?

Nuruddin Asyhadie : apa fungsi pertanyaan2 itu Shiny Ane El’poesya?

Ketika kita menilai suatu opini, maka kita menyusun premis2 kita sendiri atau menguji kecukupan proposisi2 yang diajukan dalam opini itu dan relasi-relasinya?

sudah paham siapa yang sebenarnya arogan?

Shiny Ane El’poesya : Benar, bertanya bisa bermakna mengejar kejelasan. Tapi terus bertanya tanpa memberikan argumen berarti? silahkan mas Nurudin jawab sendiri.

Dan diskusi bukanlah interogasi, bukan?

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya apakah aku tak sedang mengajukan argumentasi? apakah mengajukan pertanyaan2 untuk memperjelasn dan mendemonstrasikan kevaguanmu, keirrelavanan jawabanmu, kontradiksi2mu, bukan argumentasi? smile emoticon

Nuruddin Asyhadie Sejak kapan diskusi tak merupakan interogasi? Apakah diskusi adalah berbicara sendiri2? smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Sedangkan di atas saja ada beberapa orang yang meminta penjelasan, tapi apa jawaban mas Nurudin? Memberikan penjelasan kah?

Silah dicek kembali, komentar2 balasan mas Nurudin, mana yang berupa argumen dan mana yang lebih cenderung hanya “terus” bertanya.

Nuruddin Asyhadie : Permintaan yang tak tepat tak dituruti. kenapa pertanyaan dar syah tak dijawab langsung? Relevankah pertanyaannya untuk status ini? Kenapa sugi harus dipukul kepalanya? sudah dijelaskan di atas. smile emoticon Aku tak suka ngawur seperti dirimu.

Shiny Ane El’poesya : Kalau cuma buat bilang “anda” ngawur, irrelevan dsb. saya juga bisa. Coba saya ajukan Logika pembuktian terbalik pada mas Nurudin, jadi silahkan jelaskan secara demonstratif kenapa saya ngawur, dan irrelevan.

Nuruddin Asyhadie : Apa yang kamu maksudkan dengan “penjelasan secara demonstratif”?

Shiny Ane El’poesya : Argumen yang rasional dan tersusun berdasarkan aturan-aturan logika deduktif.

Jadi silahkan ajukan argumennya

Nuruddin Asyhadie : apakah jika berdasarkan logika induktif maka tak demonstratif? permintaanmu harus tepat, baru kuturuti. tak ada tempat bagi kengawuran.

Shiny Ane El’poesya : Logika Induktif adalah instrumen pembuktian “lain” di luar rumusan demonstrasi rasional yang ada dalam pembicaraan logika aristotelian. Model pembuktian yang kemudian dirumuskan lebih jauh oleh F.Bacon dalam novum organum. Apakah perlu saya bilang yang perlu dilakukan oleh mas Nurudin adalah bentuk demonstrasi Ilmiah yang sudah disempurnakan oleh Kant? masih ada yang ingin dipertanyakan lagi?

Nuruddin Asyhadie : Jadi metode bacon adalah deduktif? smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Novum organum bicara tentang rumusan logika Induktif. Yasudah, sepertinya memang tidak berniat untuk berdiskusi dengan baik. Saya sudahi saja. Saya akan share komentar2 di atas sebagai bahan pelajaran teman-teman yang lain. Thanks.

Nuruddin Asyhadie : dari mana kamu menyimpulkan bahwa aku tak mau berdiskusi, sementara aku menginterogasimu, mengajukan pertanyaan2 yang proper? smile emoticon Apakah kamu kira permintaan dan responmu tepat?

Shiny Ane El’poesya kamu memintaku “jelaskan secara demonstratif” mengenai kengawuranmu. Bagaimana cara paling tepat mendemonstrasikan kengawuranmu? 1) apakah menanyakan apa yang kamu maksud sebagai demonstratif bukanlah demonstrasi dari pembuktian kesalahanmu? apa yang dihasilkan dengan pertanyaan ini? 2) ketika kamu menjelaskan bahwa yang demonstratif adalah deduksi, maka aku bertanya apakah yang induktif tak masuk demonstratif? Jika yang induktif masuk demonstratif, kenapa kamu hanya menjelaskan yang demonstratif hanyalah deduktif? ini bukan kengawuran? 3) dapatkah deduktif demonstratif? smile emoticon jika deduksi tak lebih konfirmitas, bagaimana ia dapat demonstratif? apakah ini bukan kengawuran?

Kemudian kamu malah sibuk memberi penjelasan irrelevan mengenai induksi bacon untuk menjawab pertanyaan apakah yang induktif masuk demontratif atau tidak. apakah irrelevan tak termasuk kengawuran?

Shiny Ane El’poesya apa fungsi dari pertanyaan “apakah yang dimaksud bahasa juga (bisa) bermakna main2? dan mengapa jika bahasa juga (bisa) bermakna main2, maka ia “sayangnya”, “sayangnya” terhadap makna bahasa sebagai apa?”

Tahu jawabanmu?

“Dalam status di atas mengasumsikan bahwa bahasa memiliki fungsi memaknai dan menyampaikan makna. Makna ada dengan asumsi bahwa si “penutur” menyampaikan maksudnya melalui bahasa secara monofonik. Sayangnya, sekali lagi sayangnya, kadang orang menyampaikan sesuatu dengan menggunakan ambiguitas; sedang di sisi lain, makna tak jarang hanyalah abstraksi dari si “penangkap” bahasa itu sendiri.

Sebenarnya, status di atas masih kurang tegas dalam membedakan bahasa sebagai alat komunikasi yang konvensional, dengan sastra yang unsur ambiguitas dan individualitasnya yang tak jarang tinggi; bukankah bahasa juga digunakan secara berbeda bagi setiap masyarakat dalam (komunitas) kebudayaannya?”

Apa kamu memahami pertanyaan dan fungsi pertanyaan yang kuajukan? Tidak. Jawawbanmu tak menjelaskan apapun mengenai relasi-relasi dan fungsi makna dari “sayangnya bahasa (juga) bermakna main2”.

Nuruddin Asyhadie : Ooo Nuredan sungguh ngawur. Dipakai otaknya, Shiny Ane El’poesya, dan jangan tergesah berbicara.

Shiny Ane El’poesya : Kalau mas Nuruddin tidak bisa menjelaskan kengawuran-kengawuran saya di atas, maka mas Nurudin sebenarnya tidak mempunyai argumen yang jelas dan runtut semenjak awal untuk mengatakan bahwa saya ngawur. Apakah pernyataan ini juga tidak ngawur: “Bagaimana cara paling tepat mendemonstrasikan kengawuranmu?” apakah bukan berarti mas Nurudin sedang mempertanyakan statement mas Nurudin sendiri mengenai kengawuran saya?

Demonstrasi adalah argumen rasional yang berlandaskan logika formal, terutama logika deduktif. Adapun induktif adalah satu bentuk penyimpulan dengan menekankan pada penyimpulan yang general. apakah ketika saya mengatakan butuh penjelasan rasional berkali-kali sehingga saya menekankan sisi deduktifnya adalah merupakan penegasian dari proses pembuktian berdasarkan pengambilan kesimpulan induktif? bahkan saya sudah menjelaskan lebih lanjut, apakah saya perlu “meminta”secara detail hingga saya mesti menjelaskan dulu logika ilmiah dari A sampai Z?

jadi silahkan jelaskan, dan sekiranya hal-hal yang sudah dianggap wajar tidak usah dipertanyakan lagi seolah-olah mas Nurudin sedang berdiskusi dengan anak “TK”

Atau apa perlu saya bertanya seperti ini: “maksud dari kata ‘apa’ dalam setiap pertanyaan yang diajukan oleh mas Nurudin itu apa?” Bukankah diskusi kita akan jadi tambah aneh?

Kalau mas Nurudin hanya punya satu kata yaitu kata “ngawur.” Yasudah

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya pertama-tama kutunjukkan kengawuranmu, aku tak berasumsi, setelah kamu terbukti ngawur, ngawur lagi, dan semakin ngawur, maka kamu disimpulkan ngawur. Itu induktif atau deduktif? kamu justru memintaku membuktikan kengawuranmu dengan terlebih dahulu berasumsi bahwa kamu ngawur lalu menunjukkan kengawuran2mu.

Shiny Ane El’poesya : Silahkan diajukan, dibagian komentar yang mana mas Nurudin menggunakan model pembuktian induktif itu? siilahkan sekali lagi buktikan

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya karena kamu tak dapat memahami kengawuran2mu yang telah kutunjukkan, maka aku perlu tanya lagi, apa yang kamu pahami atau imajinasikan sebagai kengawuran?

Shiny Ane El’poesya : Silahkan ajukan

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya “apakah yang dimaksud bahasa juga (bisa) bermakna main2? dan mengapa jika bahasa juga (bisa) bermakna main2, maka ia “sayangnya”, “sayangnya” terhadap makna bahasa sebagai apa?”

Shiny Ane El’poesya : Argumennya kalau itu ngawur? saya mau tahu

Nuruddin Asyhadie : Apa jawabanmu terhadap pertanyaan2 itu?

Shiny Ane El’poesya : Apakah saya belum menjawabnya di atas?

Nuruddin Asyhadie : apakah jawabanmu tepat, relevan? smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Apakah pertanyaan itu merupakan argumen? untuk kengawuran saya? Silahkan diajukan argumen mas Nurudin kalau itu tidak relevan. Apa alasannya?

Nuruddin Asyhadie : Pertanyaan2 itu adalah bagian dari argumen, ia pembuktian dari kesalahan2mu. .

Shiny Ane El’poesya : Pertanyaan bagian dari argumen? dan pembuktian kesalahan?

Nuruddin Asyhadie : apa guna pertanyaan itu+

Shiny Ane El’poesya : Sekarang jawab dulu pertanyaan saya Mas, bener tuh buat pernyataan seperti itu? kalau pertanyaan adalah bagian dari argumen dan pembuktian?

Nuruddin Asyhadie : Ya.

Shiny Ane El’poesya : Saya juga sudah menjawab pertanyaan tentang guna pertanyaan di atas.

Pertanyaan kok bagian dari argumen dan pembuktian. #aneh

Nuruddin Asyhadie : maka ditanya apa fungsi dari pertanyaan itu. fungsinya adalah menunjukkan kesalahan2 komposisionalitasmu, dengan mengajak langsung dirimu memeriksa pernyataanmu.

Shiny Ane El’poesya : Semenjak awal saya menuntut mas Nurudin untuk membuktikan ke”salahan”ku. Mana? kalaupun ada kesalahan “komposisional” jelaskan, silahkan. Biar yang lain bisa membacanya, dan saya bisa membenarkannya atau mengajukan argumen selanjutnya.

Nuruddin Asyhadie : Apakah penggunaan kata sayang di sana tepat? Tidak mungkin tepat. Apakah apa yang kau sebut bahasa bisa bermakna main2 adalah kontras, berlawanan, dengan menggunakan bahasa sebagai alat memaknai dan menyampaikan makna? Tidak mungkin tepat. Lihat sendiri jawaban-jawabanmu belepotan. Kamu bilang main2 bisa bermakna, main2 bisa tak bermakna. Tak bermakna karena abstraksi dan mempertentangkan abstraksi dengan konseptual. Lha itu kalau ditanya, apakah konseptual, apakah abstraksi bisa dilawankan yang konseptual? Mampus lagi. Karena abstraksi adalah proses konseptual.

Menciptakan ambiguitas = tak bermakna? Haloo, periksa arti makna. Dalam proses penciptakan suatu teks ambigu pun kamu harus menciptakan koordinat2 sehingga teks tersebut dapat ditangkap keambiguannya–> ini makna

Mau sengaja vague dengan melakukan pemotongan2 kata pun adalah suatu usaha menciptakan makna. Puisi nonsense yang diintensikan untuk menjadi puisi nonsense pun adalah usaha menyatakan makna.

Itu belum persoalan memaknai. ketika kamu ingin menciptakan suatu teks ambigu, kamu memaknai ambiguitas, melalui dan dalam apa? bahasa.

Apapun yang kamu jelaskan di komentar2 di muka salah kaprah.

Shiny Ane El’poesya : Apakah ada saya bilang abstraksi adalah proses konseptual? mana buktinya? abstraksi adalah tahap selanjutnya dari tahap penalaran setelah benak kita menangkap yang konseptual.

Nuruddin Asyhadie : “Karena abstraksi adalah proses konseptual.” — apakah aku menyebutkan itu kalimatmu? Justru kamu membedakan antara yang konseptual dengan yang abstraksi dalam biasa makna vs tak makna

Shiny Ane El’poesya : Saya sudah mengatakan bahwa ambiguitas bisa bermakna dalam pengertian ketika yang ambigu itu ditangkap secara reseptif sebagai yang abstrak: bisa memunculkan makna dalam bentuk hermeneutis dsb. dan ketidak bermaknaan esensial sebab orang yang menggunakan bahasa itu tidak sebagai baha dalam pengertian yang “konseptual,” seperti misalnya algoritma dalam sistem IT yang digunakan hanya sebagai bahasa “perantara.”

Abstraksi tak bisa dilakukan sebelum adanya konsep di kepala. Dan dalam pengertian ini, proses abstraksi mengikut sertakan konseptualisasi objeknya–bahasa. Tapi abstraksi bukanlah konsep itu sendiri.

Nuruddin Asyhadie : periksa kamus soal abstraksi atau wikipedia soal abstraksi.

aku tunjukkan lebih dalam kegoblokanmu dalam komentar ini:

Shiny Ane El’poesya : Silahkan tunjukkan kegoblokan saya, semua saya catat kok dan tak dikurangi sedikitpun. Dan silahkan ajukan konsep2 yang ada di kepala mas Nurudin. Ga perlu takut, dan silahkan baca kamus dan wikipedia dulu kalau perlu.

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya sudah kukatakan, aku bukan orang ngawur, ketika membicarakan suatu teks, maka aku berpegang pada teks tsb, kesalahan2nya berpegang pada teks tersebut. Kamu mau mengajakku menjadi sebodoh dirimu dengan menyuruhku mengajukan konsep2ku sendiri saat menilai teksmu? .grin emoticon

Shiny Ane El’poesya : Ga berani kan?

Yasudah saya cukupkan sampai di sini. Selamat menjelang pagi, dan Assalamulaikum.

Nuruddin Asyhadie : Jadi bagimu itu urusan keberanian? Apakah itu tepat?

Itulah bahayanya kebodohan Shiny Ane El’poesya, mengajak orang berbuat kesalahan.

sudah paham kengawuran2mu Shiny Ane El’poesya?

Shiny Ane El’poesya : Katanya menggunakan logika induktif, tapi ketika mengajukan argumen mengatakan “mengajak anda”. Kalau cuma mengajukan fakta saja namanya belum argumen mas.

Nuruddin Asyhadie : Apakah yang kamu lakukan ketika diajak?

itu satu hal. kamu belum kutanyain lagi apakah fakta?

Shiny Ane El’poesya : Saya hanya sedang ingin mengukur juga koherensi argumen mas. Nurudin.Dan ternyata?

Saya tanya mas Nurudin, “‘Apa’ itu apa?”

Nuruddin Asyhadie : Apa adalaha pertanyaan definisional

Shiny Ane El’poesya : Buka saja kamus mas

Nuruddin Asyhadie : Aku tak perlu membuka kamus seperti dirimu.

Percuma mencoba revenge. Itu justru membuktikan kebodohanmu. revenge adalah pola disasosiasi.

Shiny Ane El’poesya : Kalau mas Nurudin berasumsi saya membuka kamus, kenapa masih suruh saya membuka kamus? #kontadiksi tuh

Nuruddin Asyhadie : kapan aku berasumsi kamu membuka kamus? Kamu menghayal?

Shiny Ane El’poesya : tuh liat komentar barusan di atas.

Nuruddin Asyhadie : Yang mana? Bahwa aku tak perlu membuka kamus seperti dirimu? Dapatkan diinterpretasikan bahwa aku mengasumsikan kamu membuka kamus, atau aku sedang menyatakan kamu perlu buka kamus, aku tak, aku tahu yang kukatakan, beda dengan dirimu.

Lihat bagaimana kamu punya problem dalam pemahaman. Kik kik kik. Satu lagi bukti kengawuran bukan?

Shiny Ane El’poesya : Freak

 

 

Note: 5 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s