(politik) SASTRA, BAHASA, LOGIKA dan DIALEKTIKA (II) : Debat Nuruddin Asyhadie & Shiny.ane el’poesya; “Is There something a logical?”

LOGIC 3

Nuruddin Asyhadie Wrote

Saya pernah mengatakan bahwa sangat sulit berbicara dengan intelektual2 Indonesia. Saya tak paham hampir semua istilah yang digunakan. Beberapa waktu lalu, ada yang mempertanyakan ketika saya menunjuk pertanyaan2 stasis yang saya ajukan, juga fakta2, merupakan bagian dari argumentasi. Tampaknya argumentasi terbiaskan dengan alasan, eksplanasi, dan fakta tereduksi sebagai realitas, sehingga kehilangan indeks maknanya sebagai “relasi”. Kik kik kik. Itu masih cukup pelik. Soal kata “diskusi” saja, kebanyakan dari kalian mengira atau mengimajinasikannya sebagai adu monolog “ini opiniku”, sehingga interogasi, pengajuan pertanyaan, suatu transendensi yang merupakan syarat fundamental dan utama suatu diskusi, dialog, pun percakapan, kalian pikir tak masuk di dalamnya. Gak kenemenan tha goblokmu, cuk?

Shiny Ane El’poesya : Singkat saja.

Fakta menjadi argumentasi apabila fakta tersebut disampaikan oleh seorang subjek ketika ia mengajukan sebuah fakta dengan interpretasinya. Hal tersebut hanya mungkin minimal ketika ia menyajikan fakta tersebut dengan relasinya bersama fakta-fakta yang lain dalam bentuk proposisi yang lain. Sedangkan fakta tidak menjadi argumen ketika fakta yang dihadirkan adalah fakta dari lawan bicaranya dengan hanya bertanya “maksudnya apa?” tanpa dibarengi dengan cara dia menyajikan fakta kepada lawan bicaranya. Diskusi bukanlah sebuah monolog, memang benar. Tapi diskusi yang tidak dibarengi dengan terlebih dulu saling monolog kemudian saling “adu monolog” dan berdialektika di dalamnya, adalah justru akan membaca sebuah perbincangan kepada monolog yang sebenarnya. Ia hanya akan menjadi opini satu orang yang “terus diinterogasi.”

Hal yang lain perlu difahami adalah, apabila bertanya terus menerus seperti apa yang dilakukan Socrates kepada warga Athena, yang dianggapnya sebagai sebuah dialektika, adalah sebuah kenaifan dalam berdiskusi. Sebab yang dilakukan oleh Socrates ternyata bukanlah sebuah dialetika dan pertanyaan dialektis yang sebenarnya. Mengapa? sebab Socrates hanya terus bertanya sampai orang tersebut ragu dengan pendapatnya sendiri, dan ketika ia ragu maka ia “menyelundupkan” keyakinan pribadinya mengenai sesuatu kepada lawan bicaranya. Ini merupakan bentuk Dialektika yang naif dan justru retorik, yang cenderung curang dan culas. Sedang dialektika yang sebenarnya–yang ilmiah, adalah terjadi justru ketika lebih dulu adanya 2 Tesis di muka yang saling dipertentangkan berhadap-hadapan, sehingga dimungkinkan untuk terjadinya sintesis. Status di atas terkesan aneh, ketika ungkapan “ini opiniku” dianggap sebagai sesuatu yang hanya tertutup. Ini opiniku dan mana opinimu justru adalah awal dari terjadinya diskusi yang sehat.

Bahkan, ketika mengajukan sebuah “keberatan-keberatan” dalam diskusi terkait dengan argumen yang coba dibangun oleh lawan bicara, misalnya dengan melalui pertanyaan demi perrtanyaan, maka pertanyaan-pertanyaan tersebut harus segera dilengkapi dengan pengajuan antitetsanya. Kalau tidak, maka lagi-lagi, diskusi bisa dipastikan hanya akan mengarah kepada 2 hal: Interogasi, atau Dialektika yang naif!

Nuruddin Asyhadie : dua tesis bertentangan itu categorial mistake atau bukan? smile emoticon retorika cenderung culas? apakah retorika? dialektika dengan retorika itu sama atau berbeda? grin emoticon

Izzuddin Abdurrahim : Nyimak dulu browwww…..

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya tahu apa yang kamu omongkan salah semua?

Shiny Ane El’poesya : Dilektika dengan Retorika jelas berbeda. Satu tesis harus dibalas dengan tesis yang lain yang diasumsikan bertentang.

Silahkan fahami benar-benar pendapat saya. Dan silahkan ajukan pendapat mas Nurudin. Saya tidak pernah bosan untuk berdiskusi.

Artinya, komentar saya adalah tanggapan dari status di atas. Jadi kalau sekiranya Mas Nurudin tidak sependapat seilahkan berikan argumen balik. Jangan (lagi2) ujug2 bilang salah dan ngawur.

Nuruddin Asyhadie : aku tak akan mengikuti ajakan bodoh yang membawa pada melihat A dari B, aku akan melihat A dari A, menilai a dari A, tak akan melakukan sesat kategoris maupun kekerasan epistemologis seperti yang kebodohan yang kau lakukan dan tuntutkan. smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Hukum identitas hanya berlaku bagi fakta yang “tertutup.”

Nuruddin Asyhadie : apakah fakta tertutup?

Shiny Ane El’poesya : Justru ketika mas Nurudin menganggap bahwa A hanya dinilai dari A, maka jika A adalah sebuah fakta atau fakta dalam preposisi yang hendak diajukan, maka fakta tersebut tidak bisa dinilai oleh fakta di luarnya. Tidak terjadi dialektika dengan fakta yang lain, atau bahkan tidak akan terjadi interpratsi lain terhadap fakta tersebut. dengan kata lain, hanya akan ada monolog VS (usaha) dekonstruksi. Pendapat demikian akan bertentangan dengan status di atas, yang hendak mengajukan bahwa fakta justru tidak tertutup, sebab fakta adalah juga sekaligus sebuah interpretasi terhadap realitas yang dituju.

Nuruddin Asyhadie : Apakah dialektika?

Shiny Ane El’poesya : Tesis- Antitesis-Sintesis.

Nuruddin Asyhadie : Apakah yang dimaksud dialektika dalam jargon Hegelian adalah A dinilai dari B?

Shiny Ane El’poesya : A harus bisa dinilai oleh B. Dan A, tidak A dinilai dengan A, jika A adalah A. A harus bisa dinilai oleh A jika hanya A bukanlah A yang sama dalam gerak, ruang dan waktu.

Nuruddin Asyhadie Pertama-tama menyangkut apa dialektika Hegelian? Bagaimana relasi dialektika hegelian dengan logika identitas? smile emoticon

Saya sudah sampaikan, A bukanlah A. Maka tidak ada A dinilai dengan A.

Nuruddin Asyhadie : Yang bukan A untuk mendefinisikan A itu hubungannya sama A bagaimana? smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Dialektika menjelaskan A bukan dengan A sebagimana hukum identitas dalam logika formal. A hanya bisa dijelaskan dengan yang bukan A sebagai antitesisnya.

Nuruddin Asyhadie : A dijelaskan oleh yang bukan A, dan yang bukan A adalah antitesis A? Apakah antithesis?

Shiny Ane El’poesya : Dialektika menjelaskan A bukan dengan A sebagimana hukum identitas dalam logika formal. A hanya bisa dijelaskan dengan yang bukan A sebagai antitesisnya; A hanya bisa difahami dalam gerak dan perubahannya. Antitesis adalah hukum perubahan itu sendiri. Artinya, apapun yang saya ajukan–monolog itu, fakta itu, proposisi itu, harus dan niscaya bersifat terbuka oleh usaha konstruktif lawan bicaranya. Oleh karenanya saya selalu mengajukan, mana “opini anda.”

Nuruddin Asyhadie : A dijelaskan dan hanya bisa dijelaskan oleh yang bukan A, apakah dengan demikian yang bukan A adalah antitesis A? Jika antitesis adalah oposisi atau kontras langsung, pada apa antitesis definisi antitesis dicirikan, apa yang membuatnya bisa mendefinisikan A?

Izzuddin Abdurrahim : Masalahnya Shiny Ane El’poesya, fakta yang diajukan Nuruddin Asyhadie apakah benar sebagai fakta sebenarnya, ataukah hanya fakta yang dibangun oleh subjektifitas oleh seorang Nuruddin, sehingga dianggap bias dan hanya sebatas alasan, eksplanasi belaka?

Sebab dalam hubungan Aku dan Dia, subjek dan objek. Terkadang sesuatu yang subjektif digunakan dalil, seolah olah objektif. Padahal swbenarnya semua atas dasar perasaannya sendiri. Hahhaha.

Masalahnya saya tidak tahu, apa fakta yang dimaksud nuruddin pada statusnya di atas.

Shiny Ane El’poesya : Izzuddin Abdurrahim, Subjektif.

Nuruddin Asyhadie, A adalah simbol dari “identitas,” dan dalam logika formal, A dijelaskan dengan A melalui asumsi-asumsi kategoris yang dianggap benar dan tetap ada bagi dirinya–A. Sedangkan dialektika memandang hukum identitas tidak bersifat statis, sehingga cara mendefinisikan A bukanlah dengan A, tetapi dengan perubahan dan geraknya ( : negasinya). Artinya, dengan dialektika pada dasarnya Hegel hendak mengatakan bahwa hukum Identitas “tidak ada” sebab A selalu berubah, dan usaha pendifinisian adalah usaha untuk terus “menjelaskan A” dalam perubahannya.

Izzuddin Abdurrahim : Hahhaha subjektif, objektif, ekspresionisme, realisme terkadang sesuatu yang sesuatu banget…., kikiki

Nuruddin Asyhadie : Izzuddin Abdurrahim, apakah fakta?

Izzuddin Abdurrahim : Masalhnya lagi faktanya, kopiku entek….. ckckkc

Nuruddin Asyhadie : Shiny Ane El’poesya hegel bilang hukum identitas tak ada? jika demikian bagi hegel hukum identitas juga tak perlu?

Shiny Ane El’poesya : Identitas perlu sebagai sesuatu yang diasumsikan. Sebab perubahan juga tidak bisa difahami apabila (hukum) Identitas tidak dianggap ada lebih dulu. Oleh karenya, Tesis harus tetap diasumsikan ada; A harus dijelaskan dengan B sebagai lawannya, begitupun sebaliknya.

Izzuddin Abdurrahim : Fakta adalah segala yang objektif yang digambarkan seperti keadaan yang sebenarnya, tidak lebih tidak kurang, yang terlihat oleh mata.

Shiny Ane El’poesya : Definisi fakta yang demikian inilah yang ditolak oleh status di atas.

Nuruddin Asyhadie : bahkan dalam kamus umum, kolokial, tak ada definisi fakta seperti itu, apalagi jika bicara fakta dalam misalnya wittgenstian

Nuruddin Asyhadie : Izzuddin Abdurrahim, periksa kamus

Shiny Ane El’poesya, a harus dijelaskan dengan B sebagai lawannya? Apa relasi antara yang didefinisikan dan pendefinisi?

Shiny Ane El’poesya : Saling “mempertahankan” dan “menghancurkan.”

Nuruddin Asyhadie : apa maksud dari relasi antara yang didefinisikan dan pendefinisi adalah mempertahankan dan menghancurkan?

Izzuddin Abdurrahim : Maaf Nuruddin Asyhadie, sebagai tambahan pengetahuan dan ilmu kita boleh teksbook, nyontek. Itu namanya mempelajari. Belajar apa. Tapi saya tidak mau hanya belajar apa, tapi cara. Nyatanya kamu hanya belajar apa, sehingga kamu tidak bisa keluar dari keterkungkungan buku. Yang terjadi adalah kamu akan selalu bilang, kata prof. Ini prof. Itu. Kamus ini, kamus itu, buku ini dan buku itu. Kamu belajar sesuatu bukan caranya tapi hanya sekedar apanya, swhingga kamu tak mempunyai pendapat sendiri. Terserah ini kamu bilang subjektif, up to you.

Nuruddin Asyhadie : Ya terus saja ngawur, bukan urusanku.

Izzuddin Abdurrahim : Hahahhaa

Shiny Ane El’poesya : A secara alamiah akan terlihat seolah-olah mempertahankan A, dan B seolah-oleh akan terlihat menghancurkan A. tapi pada hakikatnya A sebagai identitas adalah diasumsikan, dan B sebagai sebuah “identitas” bagi negasinya juga diasumsikan, yang terjadi sebenarnya adalah perubahan terus-menerus; konstruksi terus menerus, penafsiran terus-menerus.

Izzuddin Abdurrahim : Shiny Ane El’poesya Nah ini jozzzz…. belajar cara ini, namanya,

Shiny Ane El’poesya : smile emoticon kita sama-sama belajar saja mas, silahkan ber”opini,” urusan mana yang benar mana yang salah, biar ditemukan dalam diskusi.

Nuruddin Asyhadie : Kita tak akan memperluas persoalan. Setiap penambahan penggunaan istilah darimu menyimpan problem. Jadi kita fokus pada apakah dialektika Hegelian dalam hubungannya dengan logika identitas.

Kita ulangi: “Definisi adalah yang mempertahankan sekaligus menghancurkan identitas sesuatu.”

Di manakah letak dialektika di sana?

Shiny Ane El’poesya : Secara sederhana saya hendak mengatakan bahwa dialektika ada dalam hukum perubahan.

Dari kemarin mas Nurudin hanya berpatok pada penggunaan istilah, tapi tidak juga mencoba untuk memahami secara keseluruhn kontek-teks yang saya gunakan. pantas saja yang dikejar hanya definisi demi definisi yang tidak akan pernah selesai, dan hanya mungkin selesai jika saya bisa menggunakan “kamus” yang di download dari kepala mas Nurudin.

Nuruddin Asyhadie : Jadi kamu mau menggunakan dialektika Hegelian dengan pengertian yang datang entah dari mana tanpa terkonfirm ke teks?

Jika relasi antara pendefinisi dan yang didefinisikan itu oposisional atau kontras, bagaimana pendefnisi dapat digunakan mendefinisikan yang didefinisikan? smile emoticon Mengapa pendefinisian memerlukan tautologi identik atau idempotence?

Shiny Ane El’poesya : Dari premis-premis yang saya bangun di atas, saya masih menekankan bahwa pada hakikatnya “Definisi” dalam konteks dialektika itu tidak ada–atau minimal hanya diasumsikan. Sebab hukum Identitas pada hakikatnya juga seperti itu. Dan peristilahan “Definisi” muncul dalam bangunan logika formal yang mengasumsikan di dalamnya ada hukum Identitas: adanya subtansi yang tetap dalam sebuah “objek” yang dituju, dalam kerangka kategorial.

Tautologi dan idempotance, hanya bisa diasumsikan bisa tercapai bagi pengguna logika formal. Sebab bagaimanapun, proses pendifinisian selain mengharuskan di dalamnya sesuatu yang hanya Identik dengan dirinya, juga menyertakan yang universal yang ada dalam dirinya; artinya tetap memerlukan Identitas tetap yang subtansial dari kategori-kategori yang diasumsikan benar adanya, sebelumnya.

Nuruddin Asyhadie : Pertanyaannya jika kamu bilang:

1) sesuatu didefinisikan oleh yang bukan sesuatu itu sendiri

2) yang bukan sesuatu itu sendiri adalah antitesis atau oposisional atau kontras dengan sesuatu yang ia definisikan.

Bagaimana sesuatu yang oposisional atau kontras itu dapat mendefinisikan oposisi atau kontrasnya?

Shiny Ane El’poesya : 1. Jika A didefinisikan oleh B

2. Dan A dan B di sumsikan sebagai “Identitas” yang melekat untuk menyimbolkan yang tetap A dan negasinya B–yang berubah

3. Maka sebenarnya definisi itu hakikatnya tidak ada; hanya diasumsikan sebagai proses yang mempertemukan antara A dan B dalam perubahannya–yang sebenarnya masih terus akan berubah dengan adanya A2, B2, C, D dst.

Nuruddin Asyhadie : Perhatikan baik2 apa yang dimaksud sebagai dialektika. Kita akan menggunakan kata “pharmakon”.

Pharmakon adalah obat, tetapi seperti yang digambarkan oleh simbolnya ia adalah racun, tetapi ia tak dapat dinyatakan sebagai racun, ia tetaplah obat, berfngsi sebagai obat. Ini dialektika. Dalam setiap kata, subyek, selalu ada apa yang disebut aporia, kontradiksi yang tak terjembatani. Dialektika berjalan pada aporia tsb. Relasi yang didefinisikan dan pendefinisi tetap tautologi identik atau idempoten.

Pernahkah suatu definisi menggunakan antitesis atau oposisi atau kontradiksi? Tidak. Definisi bermain dalam pars pro toto. Sebagian untuk semuanya. Esensi bukanlah semua ciri dari suatu benda, tetapi sesuatu yang tanpa itu A tak dapat menjadi A.

Shiny Ane El’poesya : #nyimak, kalau mas Nurudin sudah selesai dan dipersilahkan saya membalasnya.

Nuruddin Asyhadie : Dialektika antara A dan yang bukan A dalam suatu pendefinisian terjadi ketika pendefinisi A bukan A dan tak mungkin A, tetapi yang bukan A mampu menggambarkan A dan memiliki relasi tautologis idempoten.

Shiny Ane El’poesya : Masih nyimak smile emoticon

Nuruddin Asyhadie : Itu sudah cukup untuk menggambarkan bagaimana dialektika, baik sebagai term Hegelian mapun Plato atau Sokrates.

Shiny Ane El’poesya : oke saya akan balas komentarnya:

Nuruddin Asyhadie : Hal yang penting adalah itu tak dapat menjadi landasan bagi suatu kekerasan epistemologi atau sesat kategoris atau keserampangan, seperti misalnya melakukan interpretasi tanpa dasar, opini lawan opini, atau mendefinisikan dialektika sebagai perayaan sesat kategoris atau kekerasan epistemologis.

Dialektika Hegelian maupun Sokrates atau Plato tak pernah soal fix versus perubahan. Kik kik kik.

Shiny Ane El’poesya : Silahkan dilanjutkan dulu. Saya nyimak

Nuruddin Asyhadie : Coba jika bisa menyangkal. Kik kik kik.

Shiny Ane El’poesya : Saya akan mulai dari sini:

“Pernahkah suatu definisi menggunakan antitesis atau oposisi atau kontradiksi? Tidak. Definisi bermain dalam pars pro toto. Sebagian untuk semuanya. Esensi bukanlah semua ciri dari suatu benda, tetapi sesuatu yang tanpa itu A tak dapat menjadi A.”

Untuk “menjawab” pernyataan ini, saya kembali hendak mengatakan, bahwa dalam Dialetika pada hakikatnya tidak ada definisi, tapi yang ada adalah penegasan bagi terjadinya hukum perubahan untuk “menegasikan” adanya sebuah Identitas–identitas hanya diasumsikan. Maka ketika Identitas hanya diasumsikan, maka usaha pendefinisian–yang benar-benar menjelaskan hakikatnyapun jadi tidak mungkin, sebab segalanya berubah terus menerus. Bahkan sebelum “A” tersebut selesai di definisikan, A sudah berubah–kecuali dalam asumsinya.

Jadi saya hendak mengatkan, bahwa benar, dalam konteks pertanyaan itu, definisi tidak bisa dilakukan. Tapi dengan berpegang pada asumsi perubahan di atas, maka bagi saya, definisi yang “jadi” pun tidak akan pernah bisa dilakukan, sebab sesuatu yang membuat A menjadi sesuatu itu juga akan terus berubah; Tautologi hanya bisa dan mungkin dalam sebuah asumsi, sebab baik yang didefinisikan maupun yang mendefinisikan akan terus berubah.

Selanjutnya: Pharmakon dan Aporia

Saya sepakat bahwa dialetika terjadi dalam Aporia, tapi dengan sebuah asumsi sebagaimana saya sampaikan di atas, bahwa Dialektia itu terjadi dalam hukum kontradiksi yang terjadi dalam “A” yang tidak bisa diselesaikan sebab “A” hakikatnya tidak pernah “A” tetapi “A” selalu (berubah menjadi) bukan “A” ketika kita mencoba merengkuhnya sebagai “A.” Kasus ini terjadi dalam “Pharmakon.” Dalam Pharmakon terjadi kontradiksi dalam dirinya, kenapa? sebab Parmakhon sudah menjadi “definitif” sebelumnya dan pada faktanya ada “definisi” lain yang mencoba “mengganggu” identitasnya sebagai “Parmakhon.” Maka Pharmakon A (sebagi obat) dan Pharmakon B sebagai (racun), atau sebaliknya, seolah-olah menunjukkan adanya “Aporia.” padahal yang terjadi adalah proses perubahan. Sedangkan orang menganngapnya itu adalah Aporia, karena dalam fikirannya sudah tertanam (identitas) Pharmakon sebagai yang A.

Menanggapi yang ini: “Hal yang penting adalah itu tak dapat menjadi landasan bagi suatu kekerasan epistemologi atau sesat kategoris atau keserampangan, seperti misalnya melakukan interpretasi tanpa dasar, opini lawan opini, atau mendefinisikan dialektika sebagai perayaan sesat kategoris atau kekerasan epistemologis.”

Saya berpendapat, bahwa kita tidak bisa naif, jika berpendapat bahwa dialektika adalah sesuatu yang “suci.” Dialektika justru ingin menunjukkan pada kita, bahwa pada hakikatnya, dan realitasnya, kekerasan epistemologis itu terjadi dan bahkan tak jarang ditopang oleh “power” ; dalam gerak dan perubahan, di dalamnya (diasumsikan) ada proses “mempertahankan” dan “menghancurkan” sekaligus.

Nuruddin Asyhadie : Apakah artinya dialektika merupakan pembenar bagi kekerasan epistemologis atau peringatan untuk sedapat mungkin tak terjatuh ke dalam kekerasan epistemologis?

Shiny Ane El’poesya : Pertanyaan itu adalah pertanyaan moral. Yang tidak merubah sama sekali hukum perubahan dan dialektika itu sendiri.

Nuruddin Asyhadie : Mungkin tidak ada dialektika tanpa intensi pengidentitasan atau pencarian esensi atau definisi?

Saya sudah mengatakan di atas, istilah “Dialektika” sendiri adalah istilah yang lahir dari hasil negasi atas istilah hukum “Identitas.” Jadi yang ada adalah gerak dan perubahan. Dan dialektika dalam konteks itu hakikatnya tidak ada. Konsep Dialektika hanya mungkin difahami dan disebut ketika kita mengikutsertakan konsep-konsep sebelumnya yang sudah diperkenalkan dalam logika fomal: Identifikasi identitas, pencarian esensi dsb. Maka konsep dialektika, hanya bisa difahami, sekaligus selain sebagai antitesis dari prinsip-prinsip dasar yang ada dalam logika formal, juga berbarengan dengan penggunaan prinsip-prinsip itu.

Persoalannya bukanlah apa yang sudah kau katakan, kau katakan tak berarti apa2 jika ia salah. Apa maksudnya dialektika lahir dari hasil negasi atau istilah hukum identitas? Apakah dialektika hanya dikenal setelah hukum identitas?

Shiny Ane El’poesya : 1. Benar jika yang saya katakan salah, maka tak berarti apa-apa.

2. “Apa maksudnya dialektika lahir dari hasil negasi atau istilah hukum identitas?” Saya juga sudah coba jelaskan di atas, secara konsneptual bahwa prinsip yang ada pada (konsep) dialektika–perubahan, bermula dari negasi atas prinsip dasar dari prinsip identitas: “A” adalah “A.”

Jika dalam logika formal berbunyi: Ada adalah Ada

maka dalam dialektika jadi berbunyi : Ada adalah Ada, tidak Ada, dan Menjadi.

3. Jika ditinjau secara historis, “Apakah dialektika hanya dikenal setelah hukum identitas?” Tidak. Kita bisa baca sejarah, istilah-istilah itu muncul kapan dan di mana.

Saya sudah mengatakan di atas, istilah “Dialektika” sendiri adalah istilah yang lahir dari hasil negasi atas istilah hukum “Identitas.” Jadi yang ada adalah gerak dan perubahan. Dan dialektika dalam konteks itu hakikatnya tidak ada. Konsep Dialektika hanya mungkin difahami dan disebut ketika kita mengikutsertakan konsep-konsep sebelumnya yang sudah diperkenalkan dalam logika fomal: Identifikasi identitas, pencarian esensi dsb. Maka konsep dialektika, hanya bisa difahami, sekaligus selain sebagai antitesis dari prinsip-prinsip dasar yang ada dalam logika formal, juga berbarengan dengan penggunaan prinsip-prinsip itu.

Nuruddin Asyhadie : Dialektika adalah negasi dari prinsip identitas atau penegasan operasi prinsip identitas? smile emoticon Apakah A = A dan bukan yang lainnya? Apakah sama dengan mengatakan “gelas adalah gelas”?

Shiny Ane El’poesya : Sekali lagi, (konsep) Dialektika hanya bisa “difahami,” “diabayangkan” dalam-kesertaannya juga membayangkan konsep-konsep Identitas itu sendiri dalam kontradiksi-kontradisksinya; Tapi di luar konsep-konsep itu, yang ada adalah gerak dan perubahan.

Dalam dialektika–hukum perubahannya, “A” = Bukan hanya A. Atau lebih jelasnya “A”= “A”, dan Negasinya serta A + Negasinya.

Jadi gelas = gelas hanya ada dalam (konsep) yang mengasumsikan hukum identitas A = A. Dalam hukum gerak dialektis, “gelas” = “gelas” yang terus berubah

Nuruddin Asyhadie : Apakah perbedaan antara dialektika dengan dialektika historis? smile emoticon

Shiny Ane El’poesya : Dialektika : rumusan logika–dalam hukum gerak. Dialektika Historis penerapan konsep tersebut untuk membaca gerak sejarah.

Nuruddin Asyhadie : Apa perbedaan antara dialektika hegelian dengan dialektika aristotelian?

Shiny Ane El’poesya : Aristo menjelaskan dialektika untuk menjelaskan apa yang dilakukan oleh Socrates di Athena. Hegel menjelaskan hukum gerak (roh) sejarah.

Nuruddin Asyhadie : Apa perbedaan antara dialektika hegelian dengan dialektika aristotelian = perbedaan usaha atau tujuan usaha Hegel dan Aristotle menjelaskan dialektika?

Shiny Ane El’poesya : Jadi yang dicari dalam diskusi ini apa? setelah bertanya ke sana ke mari? squint emoticon”

Nuruddin Asyhadie : Problem2 dalam penjelasanmu mengenai relasi dialektika dengan retorika, mengenai diskusi dengan monolog, mengenai dialektika yang kamu campuradukkan dengan kekerasan epistemologis dan sesat kategori, mengenai apa yang kamu sebut fakta tertutup.

Apa yang kulakukan dialektika atau bukan? smile emoticon

Pertanyaan2ku stasis bagian dari apa dalam dialektika Hegelian, Aristotelian, maupun Socratean?

Shiny Ane El’poesya : Merupakan bagian dari apa yang dilakukan Socrates jika pertanyaan-pertanyaan itu (diasumsikan) untuk terus mencari kontradiksi-kontradiski dan kesalahan dalam diri saya.

Merupakan bagian dari Dialektika Hegel jika dianggap sebagai sebuah proses realisasi objektif dari roh.

Merupakan bagian dari bentuk praktik Aristoteles dialektika jika mas Nurudin terus berasumsi bahwa ungkapan saya itu banyak ngawurnya.

Nuruddin Asyhadie : Apakah aku berasumsi atau memberi bukti?

Shiny Ane El’poesya : Bertanya-tanya

Apa tujuan bertanya-tanya dengan menekankan konsekuensi2 dan relasi2 error pernyataan2mu? smile emoticon

Buktikan dengan argumen. Sejauh ini, mas Nurudin masih terus bertanya-tanya dan kekeuh bahwa saya ngawur, error dan sejenisnya.

Nuruddin Asyhadie :

1) sesuatu didefinisikan oleh yang bukan sesuatu itu sendiri

2) yang bukan sesuatu itu sendiri adalah antitesis atau oposisional atau kontras dengan sesuatu yang ia definisikan.

Bagaimana sesuatu yang oposisional atau kontras itu dapat mendefinisikan oposisi atau kontrasnya?

Itu sama dengan mengatakan panas adalah dingin. Apa ini?

Mau lagi? Jika langkah pertama dalam dialektika Hegelian adalah tesis, yang artinya afirmasi terhadap suatu tesis, bagaimana mungkin bisa mengajak pada kekerasan epistemologis atau sesat kategoris?

Shiny Ane El’poesya : Panas dan dingin adalah hasil dari sensasi indrawi. Dalam fisika modern kita sudah bisa megatakan sekaligus bahwa Energi sama dengan Materi.

Saya akan kasih contoh bahawa panas adalah juga bersamaan dengan dingin:

Ketika kita ada dalam ruangan yang menggunakan AC, maka dalam tempat itu pada hakikatnya kita bukan sedang “dingin” tetapi sedang diserap “panasnya.”

Apakah mas Nurudin bisa menyangkal jawaban saya?

Saya perjelas, bahwa langkah pertama dalam dilektika Hegel bukanlah Tesis–asumsi pada sesuatu yang “tetap”, tetapi justru pada antitesisnya, yaitu perubahan.

Nuruddin Asyhadie : panas bersamaan dingin itu apa? Dingin itu tak ada. Kalau kamu mau bicara fisika.

Shiny Ane El’poesya : Bahkan panas pun tidak ada, kalau kita tidak membahasakannya dengan ukuran Sensasi indrawi. #aneh.

Nuruddin Asyhadie : Langkah pertama dari dialektika hegelian adalah antitesis? grin emoticon jadi dialektika Hegel adalah dual dialektika, bukan triade?

Shiny Ane El’poesya : Apakah saya mengatakan seperti itu? bahwa dialektika hegel adalah dual?

Nuruddin Asyhadie : Apa langkah pertama dialektika Hegel?

Shiny Ane El’poesya : Antitesis.

Nuruddin Asyhadie : apa langkah ke dua?

Shiny Ane El’poesya : langkah kedua pun, Antitesis.

Nuruddin Asyhadie : langkah ke tiga?

Shiny Ane El’poesya : Langkah ketiga dan seterusnya adalah antitesis!

Nuruddin Asyhadie : Jadi dialektika Hegelian adalah antitesis–antitesis–antitesis?

Shiny Ane El’poesya : Apakah saya mengatakan seperti itu?

Nuruddin Asyhadie : Lalu bagaimana menginterpretasikan langkah 1 sampai dengan 3 adalah antitesis, jika kemudian dialektika Hegelian bukanlah antitesis–antitesis–antitesis?

Shiny Ane El’poesya : Langkah adalah pertanyaan tentang gerak. Dalam hukum dialektika, yang dimaksud gerak adalah hanya Antitesis, sedangkan Tesis adalah sesuatu yang dianggap sebagaimana dikatakan di awal–sesuatu yang diangkap “mapan” dan belum bergerak sebelum datangnya antitesis, sedangkan sintesis sendiri adalah “tesis” yang diasumsikan hadir sebagai tesis baru setelah datangnya antitesis tersebut; hakikatnya, semua dan keseluruhannya adalah gerak dan perubahan ( : antitesis).

Silahkan jelaskan apa yang difahami oleh mas Nurudin tentang hukum dialektika itu apa?

Nuruddin Asyhadie : Apakah dialektika Hegelian adalah suatu metode?

Shiny Ane El’poesya : Hegel menganggapnya itu real. Sekaligus cara untuk menjelaskan realitas objektif: Demokrasi Jerman.

Nuruddin Asyhadie : Apakah menganggapnya real artinya dialektika hegelian bukanlah suatu metode?

Shiny Ane El’poesya : Apakah saya (tidak) berkata seperti itu?

Nuruddin Asyhadie : Ya, jika ditanya apakah dialektika Hegelian adalah suatu metode dan jawabannya adalah Hegel menganggapnya itu real, maka satu2nya relasi yang bermakna adalah yang real dan yang metode berlawanan. Jika tak berlawanan, maka tak ada pentingnya atau relevansinya penjelasan Hegel menganggapnya real.

Shiny Ane El’poesya : Itu kan menurut mas Nurudin. Buat saya dalam dialektika, yang berlawanan itu dua-duanya real.

Nuruddin Asyhadie : “Dalam dialektika yang berlawanan itu riil” respon terhadap yang mana?

Shiny Ane El’poesya : “jika ditanya apakah dialektika Hegelian adalah suatu metode dan jawabannya adalah Hegel menganggapnya itu real, maka satu2nya relasi yang bermakna adalah yang real dan yang metode berlawanan.”

Nuruddin Asyhadie : “yang berlawanan itu dua-duanya riil” itu untuk merespon ” yang real dan yang metode berlawanan”?

Shiny Ane El’poesya : Iya.

Nuruddin Asyhadie : menjelaskan apakah “yang berlawanan itu dua2nya riil”?

1) berlawanan

2) Yang real dan Yang Metode
Shiny Ane El’poesya : Iya silahkan jelaskan (kalau) keberatannya.

Nuruddin Asyhadie : apakah responmu sudah bisa diberikan keberatan atau dukungan?

Shiny Ane El’poesya : Kalau tidak diberi dukungan berarti silahkan disanggah, kalau juga tidak disanggah sebab keberatannya atau keanehannya berarti diapakan dong?

Nuruddin Asyhadie : Pertanyaannya adalah apakah responmu sudah bisa diberi keberatan atau dukungan. Kenapa pertanyaan itu lahir? Lihat bagaimana kamu diminta menjelaskan “yang berlawanan itu dua2nya riil” menjelaskan apa, 1) menjelaskan mengenai “berlawanan” 2) menjelaskan mengenai yang real dan yang metode?

Shiny Ane El’poesya : Sekarang saya mau bertanya, apa maksud dari kata-kata ini: “satu2nya relasi yang bermakna adalah yang real dan yang metode berlawanan.”

Pertanyaan pun, bahkan perlu pertanggung jawaban. Sebab pertanyaan-pertanyaan pun mengasumsikan pemahaman di dalamnya yang seharusnya diajukan di balik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mas Nurudin semenjak awal hingga sejauh ini. Apakah sudah cukup dan proporsional antara jumlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan pertanggung jawaban di belakangnya?

Nuruddin Asyhadie : Apakah mungkin ada relasi lain dari kemunculan jawaban “Hegel menganggapnya itu riil” jika bukan berlawanan dengan “Apakah dialektika Hegel adalah suatu metode”?

Pertanyaanku selalu relevan dan bertanggung jawab, karena ia merunut konsekuensi2 dari pernyataan2mu.

Shiny Ane El’poesya : Hegel menganngapnya sebagai sesuatu yang real–real tentunya dalam pengertian Hegel sebagaimana real yang berada dalam dunia roh. Dan sebagia sebuah metode sebagai realisasi dari dunia yang Real. Dan sebagai sebuah metode untuk membaca sesuatu yang dianggap oleh hegel sebagai objektifikasi dari yang roh. Dimana Hegel menganngap dunia di luar dunia roh sebagai dunia “objektif” yang sama realnya tapi real dalam pengertian keberadaannya sebab adanya yang dunia Real dengan “R” besar. Jadi tidak ada relasi lain. apakah saya harus selalu menjelaskan sedetail ini? sedangkan saya menganggap saja seluruh pernyataan dan pertanyaan mas Nurudin sejauh ini baik-baik saja? sebagaimana mas Nurudin menganggapnya demikian.

Di sisi lain, mas Nurudin sendiri selalu menghindari membuat penjelasan-penjelasan yang bertanggung jawab atas setiap pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan?

Nuruddin Asyhadie : Di mana kurangnya?

Shiny Ane El’poesya : Silahkan mas Nurudin track saja sudah berapa pertanyaan balik dari saya yang tidak juga dijawab oleh mas Nurudin.

Nuruddin Asyhadie : benarkah tak dijawab atau dijawab dengan mengajukan pertanyaan untuk memperjelas apa yang kamu mau?

Shiny Ane El’poesya : Sekali lagi, pertanyaan pun, memiliki asumsi pemahaman di belakangnya, yang perlu juga diajukan sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam diskusi. Atau apakah mas Nurudin menganggap bahwa semua yang ada di kepala mas Nurudin sudah “benar semua?” dan semua hasil dari bacaan mas Nurudin itu sudah “benar semua?” sehingga tugas mas Nurudin hanya tinggal mempertanyakan pernyataan-pernyataan saya dari a sampai z?

Nuruddin Asyhadie : Kamu berasumsi bahwa pertanyaan memiliki asumsi yang lepas dari teks? Buktikan. Apa yang kulakukan adalah menarik konsekuensi2 dari pernyataanmu.

Kita bahas dulu komentarmu soal Hegel menganggap dialektika itu riil dan hubungannya dengan dialektika sebagai metode. 1) Jawabanmu sebelumnya yang kekurangan predikasi akan membuat yang riil dan metode berlawanan karena tak ada yang munghubungkannya. 2) Bahkan ketika kamu jelaskan hubungan antara Hegel yang melihat dialektika sebagai yang riil, bahwa dialektika SEBAGAI SEBUAH METODE sebagai realisasi dari dunia yang Real, itu tak menjawab pertanyaan APAKAH DIALEKTIKA HEGELIAN ADALAH SEBUAH METODE.

Shiny Ane El’poesya : Saya tidak menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan itu lepas dari teks (loh). Tapi pertanyaan-pertanyaan itu punya relasi dengan yang di luar teks; permahaman.

“APAKAH DIALEKTIKA HEGELIAN ADALAH SEBUAH METODE” jawaban saya ini:

Hegel menganngapnya sebagai sesuatu yang real–real tentunya dalam pengertian Hegel sebagaimana real yang berada dalam dunia roh. Dan sebagia sebuah metode sebagai realisasi dari dunia yang Real. Dan sebagai sebuah metode untuk membaca sesuatu yang dianggap oleh hegel sebagai objektifikasi dari yang roh. Dimana Hegel menganngap dunia di luar dunia roh sebagai dunia “objektif” yang sama realnya tapi real dalam pengertian keberadaannya sebab adanya yang dunia Real dengan “R” besar. Jadi tidak ada relasi lain. apakah saya harus selalu menjelaskan sedetail ini? sedangkan saya menganggap saja seluruh pernyataan dan pertanyaan mas Nurudin sejauh ini baik-baik saja? sebagaimana mas Nurudin menganggapnya demikian.

Nuruddin Asyhadie : kamu berasumsi bahwa pemahaman adalah yang di luar teks? smile emoticon Jika di luar teks, maka ia pemahaman yang salah atau disebut ketakpahaman, kegagalpahaman, absennya pemahaman. Pemahamanku berbasis pada teks, terkonfirm oleh teks.

Shiny Ane El’poesya : Pemahaman yang saya maksud adalah pemahaman di balik pertanyaan itu. Lebih jelasnya lagi, pemahaman yang bukan terkait dengan teks ( : pernyataan-pernyataan saya) dalam diskusi ini. tetapi pemahaman tentang seluruh meteri dan tema yang diajukan dalam diskusi ini: dialektika, logika dst. yang sudah ada (dan masih ada) di kepala mas Nurudin sebelum diskusi berjalan.

Nuruddin Asyhadie : “APAKAH DIALEKTIKA HEGELIAN ADALAH SEBUAH METODE” jawaban saya ini:

Hegel menganngapnya sebagai sesuatu yang real–real tentunya dalam pengertian Hegel sebagaimana real yang berada dalam dunia roh. Dan sebagia sebuah metode sebagai realisasi dari dunia yang Real. Dan sebagai sebuah metode untuk membaca sesuatu yang dianggap oleh hegel sebagai objektifikasi dari yang roh. Dimana Hegel menganngap dunia di luar dunia roh sebagai dunia “objektif” yang sama realnya tapi real dalam pengertian keberadaannya sebab adanya yang dunia Real dengan “R” besar. Jadi tidak ada relasi lain. apakah saya harus selalu menjelaskan sedetail ini? sedangkan saya menganggap saja seluruh pernyataan dan pertanyaan mas Nurudin sejauh ini baik-baik saja? sebagaimana mas Nurudin menganggapnya demikian.

—————————–

Ini yang mau kamu tekankan yang mana? Ada kemungkinan kamu mau menekankan JADI TIDAK ADA RELASI LAIN. Daripada menjawab “apakah dialektika Hegelian adalah sebuah metode?”

Shiny Ane El’poesya : Yasudah kalau gitu saya jawab dengan bahasa yang sangat sederhana: “Bisa digunakan sebagai metode.”

Nuruddin Asyhadie : jika kita bicara langkah pertama dalam dialektika Hegelian, mungkinkah berbicara dialektika Hegelian di luar konteks metode?

Shiny Ane El’poesya : Kalau kata langkah itu sudah dimaksudkan semenjak awal sebagai metode, maka ia mau tidak mau bicara mengenai metode. Sedangkan saya semenjak di atas, juga selain bicara “langkah” dalam pengertian metode, tapi langkah dalam pengertian bagaimana proses gerak dialektis itu terjadi. Saya sudah bilang berkali-kali, pertanyaan mas Nurudin itu sudah mengarahkan jawaban pada pemahaman yang mas Nurudin tuju, ini yang saya maksud semenjak awal apa yang dilakukan oleh mas Nurudin itu mirip dengan dialektika yang dialkukan oleh Socrates yang pada dasarnya sudah menyiapkan jawaban-jawaban di balik kantong baju sendiri yang tidak mau ditunjukkan di muka.

Nuruddin Asyhadie : Pertanyaanku adalah memperjelas pernyataan2mu, karena seperti ditunjukkan di depan, bahkan barusan, pernyataanmu vague, dan penjelasanmu kerap irrelevan dan/atau insignifikan.

Kita lanjutkan, apakah “langkah” jika kita bicara “metode”? Apakah langkah dalam metode dapat diartikan sebagai “perubahan” atau step, stage?

Shiny Ane El’poesya : Vague, irrelevan dan/atau insignifikan itu kan sebab mas Nurudin punya pemahaman sendiri, makanya saya berkali-kali silahkan ajukan pemahaman (dasar) mas Nurudin. Dan nyatanya, ketika saya mencoba menjelaskan berjam-jam pun tetap saja dianggap seperti itu, dan terus “dipertanyakan” tanpa juga dilanjutkan dengan penjabaran yang sebanding detailnya dengan penjelasan-penjelasan yang saya buat. Saya tak masalah sebenarnya apakah penjelasannya kelak akan bertentangan sama sekali atau seperti apa. Yang jadi masalah adalah, mas Nurudin hanya terus bertanya-tanya dan terus bersembunyi dibalik pertanyaan-pertanyaan itu.

Dalam metode tentunya Step. lantas?

Nuruddin Asyhadie : vague, irrelevan, bukanlah karena pemahamanku sendiri, tetapi lebih pada relasi2 dan fungsi makna dalam pernyataan2mu. Misalnya, ketika pertanyaan apakah dialektika adalah suatu metode, kamu respon dengan menjawab hanya bagi Hegel ia adalah sesuatu yang riil, maka relasi yang terbangun antara pertanyaan dengan jawaban itu adalah berlawanan.

Jika step, dan step pertama adalah negasi, bagaimaina negasi itu dimungkinkan?

Shiny Ane El’poesya : Berlawanan sebab mas Nurudin menganggap dan menafsirkan penjelasan saya sebagai tidak relevan. Dalam jawaban saya di atas, saya berusaha menjelaskan lebih dulu bagaimana dialektika dalam konsep dan dialektika dalam gerak. Seharusnya, penjelasan-penjelasan saya sudah memuat jawaban yang mas Nurudin inginkan, hanya saja mas Nurudin tergesa-gesa menganggapnya vague, tidak relevan dsb., bahkan ketika saya menjelaskannya berkali-kali, menjelaskannya ulang, hingga saya gunakan bahasa yang sangat sederhana tanpa penjelasan apapun: “Bisa digunakan sebagai metode.”

Pertanyaan mengenai step tersebut, saya sudah menjelaskannya di awal, bahwa dielektika sebagai sebuah “logika berfikir,” maka diharuskan dengan adanya lebih dulu “A” sebagai “A” dan yang bukan “A” sebagai negasinya. Jadi, sebagai sebuah metode berfikir, dialektika dimulai dari mengasumsikan lebih dulu Tesisnya apa, dan kemudian kita menghadirkan antitesisnya. #semoga yang ini lebih bisa difahami.

Selamat malam. Saya cukupkan sampai di sini, dan seperti biasanya, diskusi ini akan di bagikan ke teman-teman sebagai bahan belajar. Dan terimakasih untuk semua pertanyaan-pertanyaannya.

Nuruddin Asyhadie : itulah yg kemudian harus diklarifikasi dengan pernyataanmu bahwa langkah pertama adalah negasi, langkah ke dua negasi, langkah ke tiga negasi.

Shiny Ane El’poesya : ya

Nuruddin Asyhadie : berkaitan dgn posisi tesis, pada step pertama dialektika, itu tesis yang diasumsikan atau suatu afirmasi terhadap suatu proposisi?

Shiny Ane El’poesya : Dalam dialetika sebagai metode seperti yang Socrates lakukan, tandanya ia adalah asumsi bahwa pretama-tama preposisi yang diajukan oleh lawan bicara itu eksis sebagai titik tolak kita mengajukan “gugatan.” Pengakuan akan eksisnya preposisi tersebut bukanlah sebuah afirmasi ( : persetujuan), sebab ketika kita setuju maka kita tidak akan melakukan langkah ke 2, yaitu antitesa.

Jadi salah kaprah, kalau saya berkali-kali “menyuruh” mas Nurudin mengajukan konsep-konsepnya berarti mas Nnarudin dengan sendirinya mengafirmasi apa yang saya katakan. Mempertanyakan adalah cara menggugat tesis itu, tapi mempertanyakan pun, sesuatu yang tidak mungkin tanpa adanya pemahaman sebelumnya mengenai apa yang dipertanyakan. Pemahaman inilah yang saya minta semenjak awal dari mas Nurudin.

Nuruddin Asyhadie : dalam retorika (alat mencapai kebenara–jika melepaskan bias Socratian yg melihat retorika sebagai tricky something), dalam dialektika dari zrno, plato, aristotle, hegel, ricour, stasis, pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui topos, topik, secara baik, dgn pertanyaan2 definisional, yuridiksional, konjugasional, dsb. Tidak ada asumsi yg mendahului. Ini disebut afirmasi.

Shiny Ane El’poesya : Pada faktanya, sebagaimana terjadi di atas tidak demikan. Selalu ada kata “ngawur” dan sejenisnya, yang mengasumsikan adanya pemahaman sebelumnya to? apakah bisa mengelak?

Haji Misbah :  Gw baca dari awal sampe akhir dengan seksama:  1. Pada penalaran kita sendiri. Kita tidak bisa menutup diri dari adanya kerancuan atau kekurangutuhan. Ini positioning pertama yg hendaknya kita ambil sebagai sesama relatif (manusia). Nurudin momposisikan dirinya sudah kebal dari hal ini.

2. Pada pertanyaan yg diajukan Nurudin Arranirii dan ketidaksediaannya memberikan penalaran atas asumsi dibalik pertanyaannya sudah tidak ada standing point sebagai orang yg berdiskusi dan mengasah pikiran, tapi memaksakan pikiran sendiri. Hal ini membuatnya terlihat semakin goblok dan saya jadi punya pertanyaan, yg punya lapak siapa? Kalau Arraniri yg punya, dia tentu punya penjelasan lebih panjang…. Bukan berpura2 jadi Sokrates tapi gagal. Yg bisa jadi socrates di indonesia itu cuma gw sama nandang

3. Pembahasan logika membutuhkan abstraksi dan sedikit imajinasi…. Nurudin Arraniri gagal berabstraksi saat murid dan junior saya dalam soal filsafat, sastra, jurnalisme, pergerakan sosial, dan merebut hati perempuan, ….menjelaskan Dialektika Hegel..agung sini ane sana ente menjelaskan dengan sangat baik melebihi apa yg saya bisa jelaskan kalau diberi pertnyaan tersebut….

4. Pelajaran dari kasus di atas mirip iblis yg disuruh tuhan sujud pada adam…. Tapi menolak karena merasa lebih mulia dan pintar dari adam……adam malik

Shiny Ane El’poesya : Diskusi ini sudah berjalan selama 2 malam, dan saya coba bertahan dengan niat berdiskusi dengan baik, dengan mengajukan argumen-argumen saya. Tapi dia hanya mengatakan saya itu ngawur, ngawur dan ngawur. Dengan mengajukan pertanyaan2 sampai gabada juntrungnya, dan tanpa alasan yang jelas.

Haji Misbah :  Lah…arraniri kenapa gw bilang goblok…. Ngebongkar penalaran orang kan cukup satu atau dua pertanyaan…. Kita cermati…kalau penalarannya bagus masak kita terus mau jadi socrates….. Jadi Cepot aja kita….itu yg benar dan cerdas. Dalam studi logika ada bab tahap kegiatan akal budi….. Verifikasi tahap satu yakni aprehensi sederhana dan tahap dua membuat putusan yg hasilnya proposisi, kalau kawan diskusi kita sudah ngerti apa yg dipikirnya…di sini masak kita kasih pertanyaan lanjutan yg implisit ingin bilang kita lebih punya banyak wawasan trhadap materi diskusi. Jadi Socrates mah gampang…. Satohat kita udah sampe ilmunya Diogenes dari Sinope dan Crates dari Thebes

 

#8 Desember

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s