SISA CIUM DI TAMAN, SISA CIUM DI ALUN-ALUN WENI SURYANDARI.

Oleh: Shiny.ane el’poesya

Penulis tak mengenal siapa Weni Suryandari. Pada malam itu (9/Juni), setelah usai acara malam tadarus puisi untuk memperingati bulan lahir Abdul Hadi W.M., di selasar auditorium Nurchlish Madjid, tepat di bibir taman peradaban univ. Paramadina, Sofyan R.H. Zaid atau “Kang Sofyan” (penulis biasa memanggilnya seperti itu) memberikan sebuah buku kumpulan puisi. “Untuk dibaca,” tuturnya. Buku kumpulan puisi (yang pada akhirnya malam itu penulis genggam adalah buku puisi yang) berjudul Sisa Cium di Alun-Alun (2016), karya Weni Suryandari.
Buku puisi tersebut tidak pertama kali penulis lihat. Paling tidak dalam dua-tiga hari ke belakang sebelum malam itu, penulis menemui foto cover dengan beberapa catatan mengenai buku tersebut pada salah satu beranda Kang Indra Kusuma, sahabat kang Sofyan sendiri, yang sekaligus juga tercatat sebagai lay-outer buku tersebut.
Buku tersebut, judul dari buku tersebut, pada akhirnya untuk kedua kalinya, membuat penulis kembali tertegun. Judul yang mengingatkan penulis akan sesuatu, dan paling tidak lagi, butuh waktu sampai dua-tiga hari yang sama untuk juga pada akhirnya penulis bisa “berjarak” dengan judul buku tersebut.
Judul buku Weni Suryandari adalah Sisa Cium di alun-alun, sedang judul tulisan ini hanya menambahkan satu kalimat saja di depannya dengan kalimat keterangan Sisa Cium di Taman. Dua buah kalimat yang secara sintaksis tidak begitu berbeda, tetapi secara semiotis dan paradigmatis, sebenarnya memiliki reference (medan makna) yang bisa jadi amat berjauhan.
Kata “alun-alun” misalnya, menghadirkan kepada kita sebuah landskap kebudayaan Jawa di dalamnya; sebuah tempat lapang di mana masyarakat berkumpul untuk menghabiskan waktu di sore hari. Sebuah tempat yang berdekatan dengan masjid utama (masjid agung) dan tentunya sekaligus masih berada di dalam wilayah ke-keratonan sendiri. Sedangkan kata “taman” memberikan kepada kita sebuah gambaran mengenai sebuah situasi perkotaan dengan suasananya yang telah tersentuh, artinya lebih “modern”; lampu-lampu, kendaraan, dan sekumpulan kaula muda.
***
Tetapi kehadiran adalah sebuah “janji”, yang, di dalam puisi, bisa dan boleh saja tidak ditepati; Kehadiran seringkali ditukar dengan sebuah alusi, sebuah “ilusi”, yang “menipu”, yang tak jarang pula memancing, menguji kesadaran aesthetic kita sebagai pembaca.
Misalnya, meskipun digunakan kata “alun-alun” sebagai pilihan judul buku ini, tetapi justru pada buku Weni Suryandari ini hampir sembilan puluh bagian halamannya menceritakan mengenai pengalaman penulisnya bersama laut: Taman Laut (2014), Kepada Pantai (2014), Ombak Air Mata (2014), Pada Sebuah Laut (2015), Laut Kenangan (2015), dsb; Sebuah landskap yang lain.
Pertanyaannya adalah, mengapa judul buku tersebut tidak ditulis saja demikian, “Sisa Cium di Laut”? atau andai hendak lebih lengkap, “Sisa Cium di Laut, Sisa Cium di Alun-alun”, sehingga kita akan mendapatkan sebuah landskap yang “tak tertindih”?
Tetapi itu memang hak dan telah menjadi pilihan pemilik manuskrip puisi ini sebelum-mana diterbitkan. Terlebih, sebagaimana sudah diungkapkan, sebuah “janji” akan “kehadiran” sesuatu dalam puisi tidaklah mesti ditepati. Ya meskipun “jalan buntu yang menipu” itu terkadang bisa diretakkan oleh seorang “pemabuk” yang sedang “minum anggur” dan “rindu berat”, seperti dengan baik digambarkan dalam penggalan puisi berjudul Ilusi di bawah ini,
ILUSI
Aku mendekap jalanan malam, membunuh angan
Menerjang lampu-lampu asing, keriangan palsu di sudut ruang
Sedang kesunyian tekun mengiringi langkahku
Seperti tahun-tahun silam penantian
Kulihat kata-kata beterbangan di udara
Musik berbunyi sayup, hatiku kian kuncup
menanti kecup bayangmu redup
Ah! Rinduku retak di meja kafe!
segelas anggur dan croissant
Kutelan pelan pelan bersama
angan yang berjatuhan
dari masalalu
2014
Namun, andai kita mencoba memperhatikan bangunan semantik yang ada dalam puisi-puisi awal hingga akhir milik Weni Suryandari ini–puisi dalam buku ini ditulis dalam rentang waktu 2009-2016, paling tidak secara stilistis kita akan menemukan bagaimana puisi-puisi yang ditulis pada tahun 2014 pada akhirnya menentukan cara penulisnya melangkah kepada puisi-puisi selanjtnya; pada tahun inilah, Weni Suryandari pertamakali menggunakan (kembali) kata “cium” dalam puisinya, yang kemudian kerap digunakan pada puisi-puisi penting lainnya. Seperti pada penggalan puisi Pulang ke Tanah Garam berikut,
Dalam keramaian kucium tanah kapur
Berhembus seiring nafas leluhur
Aku pun berjalan meniti kesunyianku
Di rantau, di rantau kerinduanku sebisu batu
… …
Berpagar jarak aku bersembunyi dari kecemasan
demi kecemasan, perjalanan ke masa depan
orang-rang sembahyang, suara alam bertasbih
Anak-anak bermain sapi-sapian, menghalau kemarau
Hening malam berpijar bulan, hanya laut berdeburan
;Seribu ciumku untuk mimpi-mimpi patah
bersama Sloppeng dan pasir putih usai lebaran
2015
Pada tahun 2009 kita pertamakali akan mendapatkan puisi (bulan) manis ini,
BULAN MANIS
Di wajah laut kulihat bulan sedang manis
Terbitkan jarak pantai menantang gerimis
Pasir-pasirnya adalah seluruh getar
Menelusuri seluruh senja di selasar
Lalu meninggalkan bayang-bayang
Ketika rindu mengamuk begitu berang
Pada sunyi yang kian menipis
Doaku adalah bibir gemetar menerima ciumMu
Lalu kusembunyikan rindu di balik kerudungmu
Yang terbuat dari bungkus bulan yang sedang matang
2009
Dan pada tahun 2014 ia manulis puisinya yang berudul Sisa Cium di Alun-alun itu.
***
Puisi-puisi di atas adalah contoh puisi Weni Suryandari yang menggunakan landskap laut, sebagaimana banyak puisi-puisinya pada tahun 2014 lainnya yang ditulis juga dengan landskap yang sama. Menariknya, pada tahun-tahun selanjutnya (2015-2016) ketika penulisnya telah “kehilangan” laut dalam puisi-puisinya, seperti pada puisi, Di Venesia (2015), Momiji di Kawaguchiko (2015), Solilukoi Malam (2015), ia ternyata tidak kehilangan “kecupan”nya.
… …
Seorang penyair termenung di tepi danau
Matanya lebih terang dari kirab cahaya langit
”Berjagalah untukku di segala musim, kekasih.” bisiknya
Kini malam-malamku selalu dirasuki kata-kata yang kukira puisi
padahal, kita tak pernah beranjak dari lebar jarak
dan waktu.
(Bait akhir, Momiji di Kawaghuciko: 2015)
“Cium” dalam puisi-puisi Weni Suryandari pada akhirnya adalah sebuah ungkapan yang sebenarnya tidak hanya melulu sebuah ornamen stilistis, tetapi juga sekaligus sebuah ungkapan performatif dari penulisnya terhadap dunia-kehidupan-nya. Dengan kata lain, bukan pada lautnya, tetapi pada keterbukaan penyairnya pada laut; bukan pada keinginannya untuk “pulang”, atau pada “melulu keinginannya” untuk bermain-main dalam puisi sebagaimana diungkapkan Jokpin dalam pengantar buku ini, tetapi justru pada keinginannya untuk kembali pada momen yang dalam bahasa “romantik” disebut sebagai “pertemuan”, sebagaimana ia telah “kembali” untuk terbuka pada keindahan laguna (danau dekat laut) di Venesia, atau ketergodaannya pada (ide mengenai) “keabadian” di tempat lain.
Aku melihat keindahan laguna
Pada langit membentang sepanjang
… …
(Dua larik awal, Di Venesia: 2015)
… …
serupa mawar menagih hujan
;pada cium mesra keabadian
(Dua larik akhir, Solilukoi Malam: 2015)
Pertanyaannya adalah, mengapa Weni Suryandari amat begitu menginginkan peristiwa “pertemuan” tersebut? Mari kita sama-sama baca puisi Sisa Cium di Alun-alun, di penghujung kesempatan ini,
Suatu masa, angin kesiur di buritan, geladak sesak
Di amis laut, aku menitip kemelut, saat aroma kapal
Jokotole dan nafas nelayan tak mampu mengusik
Perjalanan peradaban, masa lalu ke masa depan
Perahu ikan baris berbaris menanti jantung gerimis
Jalanan panjang membelah perahu, menuju ujung
Semenep, tempat leluhur menyimpan jejak hingga
tedas waktu pada takdir bergulir
Karapan, lebaran ketupat membius luka batin
Isak membasah, beban rindu tak pernah usai
Ingatan sisa cium di alun-alun, kerap melambai
Kini puisi menyelsuri jalan kembali ke kotaku
Aroma kapal dan amis nelayan pudar
Kenangan lantak oleh Suramadu, aspal yang kekar
Ingatan pingsan di kepala
Sepasang pecut melecut kabut di mataku
2014
Ya, sekali lagi, lebih jauh lagi, “cium” dalam pembicaraan kali ini, jika kita ingin setia pada puisi Sisa Cium di Alun-alun, pada akhirnya adalah sebuah kenangan akan sebuah peristiwa. Sebuah pristiwa lebih tepatnya yang dialami oleh penyairnya sebagai sebuah “pemberian” dari “yang antah”. Peristiwa itulah yang membuat pengalaman-pengalaman selanjutnya seakan terus diikuti oleh “bayang-bayang pemberian” tersebut–untuk diulangi. Apakah itu buruk? Tentu tidak. Sebab puncak dari segala “pengembaraan”, segala “keterbukaan” jiwa dan batin umat manusia kepada langit, dunia dan yang tegak di antara keduanya, adalah pada perjuampaannya atas “pemberian” dari yang antah itu. Sebuah penerimaan kita yang ujung, atas cinta dan kasih; atas penyerahan-Nya (giving moment), sebuah peristiwa yang kadang tak terduga; sebuah moment puitik: sebuah Agápē.
Jakarta, Juni 2017
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s