BATAS PUISI DAN SURAT CINTA (UNTUK STARLA)

Tidak setiap yang “puitis” bisa dikatakan sebagai sebuah puisi, atau sebaliknya, tidak setiap puisi, ditulis sebagai sesuatu yang “puitis”.

Seperti, terkadang, sebuah puisi ditulis oleh penulisnya dalam wujud yang sama sekali sulit dipersepsi unsur-unsur aesthetic-nya dalam common sense (kepekaan umum); Letak keindahannya mesti lebih dahulu diteropong dengan seperangkat pendekatan-pendekatan yang tertentu.

Dalam sejarah kesusastraan kita misalnya, di era Balai Pustaka, kita pernah mengenal “perbedaan” bentuk puisi (meskipun pembagian ini cukup bermasalah bagi sebagian kalangan) antara puisi-puisi yang “ber-adab” dan puisi-puisi (yang ditulis secara) liar yang banyak menggunakan bahasa-bahasa yang kasar, senonoh dan dianggap menabrak-nabrak batasan etis penerimaan sebuah masyarakat, tetapi menjadi lebih terang aspek “puitiknya” ketika puisi-puisi tersebut dipandang dengan sudut pandangnya sendiri sebagai sekumpulan sastra arus pinggir yang ditulis di luar jalur kanonik-kolonial pada saat itu.

 Hal serupa pula terjadi di tahun 70-an ketika Remy Silado menuliskan sajak-sajak mbelingnya yang menggunakan bahasa-bahasa “keseharian” saja dan bukan bahasa-bahasa akademik yang pada tahun-tahun itu cenderung dianggap sebagai bahasa yang rumit. Di era sastra Cyber seperti sekarang, kita juga mengenal sosok Saut Situmorang yang kontrversial, yang juga kerap menggunakan diksi-diksi “liar”nya , yang hanya akan dapat kita nikmati jika kita mengenal “kredo perlawanannya”: Politik Sastra.

Dengan halnya memahami akan dunia yang ada di luar karya sastra itu, justru kita dapat mengenal sebuah puisi itu dengan baik. Begitu pula, ketika kita menemukan sebuah “tulisan” yang berasal dari dunia-kehidupan (komunitas sosial) yang lain, yang bagi sebagian kalangan tidak berada di jalur “sastra yang semestinya”; dunia tarik suara.

***

Dalam “mengenali” sebuah tulisan, tentunya hal yang biasa pertamakali kita lakukan adalah membacanya dengan baik. Dan benar-benar dengan baik. Maka setelah hal tersebut kita lakukan, biasanya kita akan menghadapi sebuah “pengalaman membaca” yang di dalamnya sekaligus pula ada pengalaman “kehadiran makna”. Namun, tak jarang, pengalaman tersebut merupakan sebuah pengalaman yang “hanya” sentimentil (note: tidak dengan nada peyoratif), yang muncul akibat persentuhan bersama puisi tersebut, yang dalam sebuah tradisi pembacaan “modern” perlu dijaraki; sebab kerap akan menjebak kita pada proses pembacaan yang tak berlanjut.

Keberlanjutan pembacaan merupakan sebuah proses yang lain, ketimbang pertemuan pertama kita terhadap puisi. Pada tahap ini   proses pemilahan (analitis) berperan untuk memperinci setiap bagian-bagian yang terdapat dalam puisi, untuk memperoleh tidak hanya makna gestalte (keutuhan makna dalam persepsi yang awal), tetapi juga makna gehalte (makna struktural, makna stilistis), dan makna estetik yang terkandung di dalamnya.

Tetapi, proses “perburuan makna” pun, seringkali tak dapat dihentikan begitu saja sampai pada tahap itu. Tak jarang, sebagaimana puisi-puisi “non kanonik” dari tiga genarasi di atas, agar kita sampai pada memahaminya, kita memerlukan satu langkah dialektis (pemeriksaan historis) yang adil sehingga, bahkan makna eiditis (makna yang “tertanam” dari kesadaran penulis)nya bisa diungkapkan secara proporsional; tak berlebihan.

***

SURAT CINTA UNTUK STARLA

Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu

Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini

Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini

Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi

Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu

Dan tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Untukmu
Hidup dan matiku

Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci
Ku kan tetap disini

Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu

Tlah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Pada lirik lagu Virgoun di atas, seorang sahabat (yang tengah studi di bidang filsafat islam) menyampaikan pada penulis, bahwa lirik lagu yang ditulis oleh Virgoun tersebut dirasa memiliki nada “spiritual” yang dalam, sebab memiliki berbagai kemungkinan-kemungkinan bahasa yang bisa didemonstrasikan sebagai ungkapan-ungkapan filosofis di dalamnya seperti, pada larik-larik, “Kutuliskan kenangan tentang/ Caraku menemukan dirimu/ Tentang apa yang membuatku mudah/ Berikan hatiku padamu”, yang menurutnya sebagai ungkapan yang mirip dengan keinginan kuat untuk menemukan dan menyerahkan diri pada “Tuhan” sebagaimana para sufi pernah melakukannya.

Lalu pada larik-larik, “Telah habis sudah cinta ini/ Tak lagi tersisa untuk dunia/ Karena tlah kuhabiskan/ Sisa cintaku hanya untukmu”, yang menggambarkan sebuah perasaan pencarian akhir dari seseorang untuk menyerahkan energi (cinta) penghabisanya kepada sosok yang hakiki, juga pada larik-larik, “Aku pernah berpikir tentang/ Hidupku tanpa ada dirimu/ Dapatkah lebih indah dari/ Yang kujalani sampai kini”,  yang menunjukkan kesadaran bahwa adanya kenyataan seluruh alam semesta ini bergantung pada kenyataan tunggal yang mendasarinya di mana semua kenyataan dunia ini bergantung, dan pada larik-larik, “Aku slalu bermimpi tentang/ Indah hari tua bersamamu/ Tetap cantik rambut panjangmu/ Meskipun nanti tak hitam lagi”, yang dimaknainya sebagai simbol dari kehidupan dunia (sebagai seorang wanita) yang sudah semakin tua, dan telah mengalami peluruhan atribut-atribut(sifat-sifat)nya yang hakikatnya semu; keindahan-keindahannya luruh pada warna aslinya, atribut-atribunya hilang kembali pada hakikatnya yang tunggal.

Kita bisa membayangkan, sebagaimana kita membayangkan kondisi eidetik sahabat penulis ketika berhadapan dengan lirik lagu Virgoun, bagaimana seorang berhadapan dengan sebuah puisi di tempat lain, atau sesuatu sesuatu yang “penulisnya” dianggap telah “mati” (The Death of Author) oleh banyak orang, tetapi di sisi lain, orang tersebut masih menghadapi kuburan dengan daun-daunnya yang masih tumbuh dan basah sepanjang tahun dari alam bawahnya. Puisi itu akan memiliki kemungkinan untuk “dipaksa” tunduk, atau bahkan “menyerah” pada detik-detik awal pada pembacanya melalui sifat bahasa yang begitu terbuka. Atau puisi, atau sebuah “catatan indah” apapun, tetap akan selalu menjadi sebuah yang ambigu, sesuatu yang tidak bisa kita kenali dengan sekali duduk sehingga memerlukan sebuah perjalanan untuk sampai pada destinasi tertentu.

Tapi pertanyaannya adalah, dimana batas itu? Dimanakah—dalam pembahasan ini lirik lagu Surat Cinta Untuk Starla, memiliki garis akhir pemaknaan? Dan sampai mana lirik lagu tersebut memiliki “idea-teleo-logis” (tujuan ide penciptaan) yang masuk ke dalam tubuh generatifnya (gehalte)? Lebih jauh, apakah lirik lagu yang telah diciptakan oleh Virgoun tersebut pada akhirnya merupakan sebuah karya sastra, atau hanya sebatas sebuah “surat cinta” saja sebagaimana judulnya?  Nah!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s