ANGIN DAN ARAH CINTA NACITA SALSABILA: MEMBICARAKAN (KEMUNGKINAN) PENYAIR PEREMPUAN MADURA

Kita semua mungkin sudah tidak asing lagi ketika mendengar bahwa tanah Madura adalah salah satu tanah yang telah melahirkan (bahkan tidak hanya sekedar melahirkan, tetapi juga memproduksi) sejumlah penyair bagi berjalannya tradisi kesusastraan Indonesia. Bahkan hingga ada sebuah joke kecil yang mengatakan demikian, “orang Madura, kalau bukan dia berprofesi sebagai seorang penjual sate, pebisnis besi, ya dia pasti adalah merupakan seorang cendekiawan bagi bangsanya.” Dan kita juga tahu, dua wujud kecendikiawanan orang-orang Madura itu selain sebagai seorang “kiyai”, ya sebagai seorang “penyair.”

Tetapi terlepas dari “mitifikasi” (di sini penulis sengaja menggunakan kata mitifikasi ketimbang kata stereotipe) yang muncul demikian, kita sebenarnya masih dapat untuk bertanya-tanya, mengapa justru di tengah-tengah “kebanggaan” tersebut, kita malah sulit menemukan daftar cendekiawan–atau dalam kontkes ini penyair, yang merupakan perwakilan dari seorang perempuan; ketimbang kecenderungan yang bisa kita temukan terhadap daftar nama sosok lelaki di sana. Sehingga, misalnya jika kita menilik sebuah situs daring yang di dalamnya berusaha mencoba mendaftar dan mengarsipkan sejumlah penyair asal tanah garam ini (cek laman web http://www.arsippenyairmadura.com/), kita hanya akan menemukan lagi-lagi, “melulu” lelaki.

Nah, pertanyaannya adalah, ada apa dengan perempuan-perempuan Madura? Atau, mungkin lebih tepatnya, bagaimana struktur masyarakat Madura menempatkan sosok perempuan dalam setting kebudayaan masyarakatnya? Tetapi sebentar, rangkaian pertanyaan itu tak perlu kita jawab di sini. Sebab itu (mungkin) tugas kalangan “feminis”, atau para ahli/pengkaji kritik budaya dan ideologi, atau mungkin merupakan bagian dari pekerjaan rumah para perempuan Madura itu sendiri. [?]

****

Dalam situs Arsip Penyair Madura, pada tagar penyair tahun kelahiran 1925-1944, (tentunya) kita menemukan nama besar Abdul hadi W.M. dan penyair “nyentrik” Zawawi Imron di sana, yang kemudian di susul oleh nama Syarifudin Dea, tetapi tidak disusul oleh nama dari seorang perempuan. Pada tagar penyair kelahiran 1945-1964, kita baru menemukan sosok penyair perempuan yang diwakilkan oleh Weni Suryandari, melengkapi nama-nama seperti Jamal D. Rahman, Ahmad Nurullah, Syaf Anton, Harkoni Madura, dan Hidayat Raharja. Pada tahun kelahiran 1965-1984, kita kembali tidak menemukan nama seorang perempuan di sana. Pada tahun kelahiran 1985-2005, lebih dari seratus pernyair “muda” asal madura terpampang tetapi hanya terdapat tidak lebih dari 3 nama: Yuni Kartika Sari (1993), Nurul Ilmi Elbanna (1993), Salama Elmie (1993); Bahkan nama Nacita Salsabila (Sumenep, 1992) yang akan jadi pembahasan di sini dan sempat menerbitkan antologi tunggalnya pada akhir tahun 2015 tidak “saya dapati” di sana.

Di sisi lain, pada akhir tahun 2016, beberapa waktu yang lalu, kita mendengar adanya sebuah penerbitan buku antologi puisi yang bertajuk Perempuan Laut yang memuat di dalamnya 10 (saja) daftar penyair perempuan asal Madura–lintas generasi yang empat di antaranya sudah disebutkan di atas (Weni Suryandari, Yuni Kartika Sari, Nurul Imi Elbanna, Salama Elmie), kemudian Maftuhah Jakfar, Juwairiyah Mawardy, Nay Juireng Dyah Jatiningrat, Linda autaharu, Nok Ir, Tika Suhartatik, dan Benazir Nafilah. Artinya kita hanya medapatkan 7 nama perempuan tambahan sebagai representasi dari “penyair perempuan” Madura yang, lagi-lagi nama Nacita Salsabila tak terdapat di sana; Padahal pada akhir tahun 2015 yang lalu, Nacita Salsabila menerbitkan bukunya pada sebuah terbitan yang sedang “naik daun”, Ganding Pustaka, milik Raedu Basha seorang calon kritikus muda, dan dalam antologinya tersebut dipengantari oleh Narudi Pituin yang juga sejauh ini dikenal giat mengkritisi (aspek linguistik) banyak penyair pemula tak terkecuali penyair-penyair senior. Aneh bukan?

Atau jangan-jangan memang benar, menjadi “penyair”, itu hal yang berbeda dengan kegemaran seseorang dalam menggubah sejumlah puisi dalam masa hidup yang kita semua punya; Mennggubah puisi, berarti merupakan aktivitas kesubliman yang hanya berurusan dengan dunia personal-kreatif pelakuknya, sedangkan menjadi penyair, berarti turut serta (artinya setia) pada hukum-hukum komunitas dan masyarakat dalam membangun legitimasi atas kerja-kerja budaya yang telah dilakukan tersebut [?]; Kesusastraan dan diskursus mengenai “yang kanon”. Lantas, jikalau demikian, bagaimana kemudian nasib dari mereka yang luput?

Jangan-jangan … sebenarnya kita sudah punya stok yang cukup banyak penyair perempuan Madura, sehingga kita bisa begitu mudah untuk “abai” dan kurang peduli, padahal seharusnya kita melakukan berbagai penelitan atasnya. Masihkah?

****

Setiap penyair selalu memiliki kecenderungan dalam menulis puisi-puisinya. Seperti pada kesempatan sebelumnya, pada tulisan yang berjudul Sisa Cium Di Taman, Sisa Cium Di Alun-Alun, penulis menemukan kecenderungan model penulisan “romantik” dari Weni Suryandari yang mirip dengan kecenderungan puisi-puisi Abdul Hadi W.M. di awal masa kepenyairannya. Meskipun ia menulis dengan gaya yang lebih modern (dengan enjambemennya) dan terkadang lirikal yang berbeda dengan Abdul Hadi W.M. yang lebih naratif dan seringkali metaforis ketika ia banyak menggambarkan kedekatannya dengan alam (laut). Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan bahwa pada puisi-puisi Nacita Salsabila memiliki kecenderungannya tersendiri dibandingkan misalnya puisi-puisi yang ditulis oleh perempuan Madura sezamannya: Benazir Nafilah (1988), Yuni Kartika Sari (1993), Nurul Ilmi Elbanna (1993), Salama Elmie (1993), dan Nay Juireng Dyah Jatiningrat (1996).

Perempuan Madura Yang Menulis Cinta I

Andai kita membaca kumpulan puisi dari kelima perempuan penyair Madura yang baru saja disebutkan namanya, baik yang tertuang dalam Arsip Penyair Madura maupun yang tertuang dalam (Arsip 10) Perempuan Laut (http://lautperempuan.blogspot.co.id/) maka kita pula akan mendapatkan kecenderungan-kecenderungan (awal) “energi kepenyairan” yang dimaksud yang patut kita cermati. Sebagai contoh:

Dari Benazir Nafilah, maka kita akan menemukan “kelirihan” seorang perempuan dalam menghadapi asam dan asin garam kehidupan (domestik) sehari-hari. Dari sana kita nampaknya juga mendengarkan lamat cinta dan spiritual Benazir muncul dari kuncup “kelihirannya” itu. Seperti pada dua puisi berikut,

PEREMPUAN DESA

Aku perempuan desa
Menyusu pada sawah
Saat matahari bertamu
Tubuh tak izinkan rebah
Meski lelah itu ada
Dibawah pohon asam
Kunikmati kecut manis hidup ini
Berharap anak cucuku akan memanen permata
Aku hanya perempuan desa
Menyusu pada sawah
Saat matahari pulang
Kuhapus keringat dan cucur air mata
Dalam sajadah semua tumpah
Malam yang menerima bayang
Dalam suara dzikir yang samar
Anak anak mengaji mesra
Bercengkrama dengan pencipta
Aku hanya perempuan desa biasa
Segalanya menjadi sederhana
Kecuali cinta kita

Sumenep, 8 Maret 2016

TELUR DADAR

Hampir tiap hari kau memakan telur
Telur yang menyatu dalam kocokan penuh cinta
Kau berucap telur ini seperti kita “kau kuningnya dan aku putihnya” sambil nyengir
Entah yang kau maksud adalah kita menyampur berbaur sampai tak ada batas bahwa aku kuning dan kau putih
Semuanya menyatu

Dan ketika telur sudah habis, kau berkata tadi sedikit asin sayang

Sumenep, 12 April 2016

TUHAN

Tuhan…
Aku juga pernah duduk bersimpuh dalam sajadahmu
Menghitung dosa yang tak pernah selesai
Dosa besar dan halus yang berhembus
Mengukus diri dalam gelisah panjang

Tuhan…
Gugur jemari dalam astaghfirullah
Tak akan mensucikan diri dalam lemak dosa
Menghapus angkara yang rebah di kepala
Mengubur kecewa di antara dada

Tuhan…
Ampuni aku sebelum dadaku dikoyak jeritan

Sumenep, 12 Oktober 2016

Kita bandingkan dengan puisi yang ditulis oleh Nacita yang “memulai” perjalanan cinta dan spiritualnya dari sesuatu yang sifatnya lebih metaforis dan abstrak yang ia ungkapkan dalam puisi berikut:

BATAS YANG TAK DIKENAL

Jika dunia ini lautan, biarkan aku dekap gelombang
Kabut-kabut menyamudra menyatu dengan tubuhku,
Dan tubuhmu bergolak oleh kerasnya karang
Sampai hujan membanjiri awan mengelukan
Namamu dalam dahsyatnya keinginan
Aku terbiar di terjalnya waktu, meratap, kian sesak
Terseret dalam batas yang tak dikenal
Bumi ataupun surga

Jika dunia dapat kutembus dengan penglihatan
Tabir-tabir kuretas, kutuliskan menjadi benang kerinduan
Menyatukan mimpi kemarin
Juga kehidupan yang kita jelang
Bumi bukan bumi
Udara pun membiru
Wujudmu dan wujudku tertimbun dalam musim tak berwaktu
Kita: makin tiada dalam fana
Tersesat di gurun tanpa nama

2015

Dari puisi yang ditulis oleh Benazir, kita melihat bagaimana pengalaman puitik muncul dari tingkat kepekaan penyairnya terhadap “alam yang kecil”, dari serpihan-serpihan yang dialaminya sebagai sesuatu yang romantik (baca: banyak melibatkan unsur perasaan antar lawan jenis, juga seiring kedekatannya dengan alam) dan sentimentil. Sedangkan pengalaman puitik Nacita agaknya muncul dari keterbuakaannya pada “alam yang besar” yang membuatnya berada di jalur yang lebih reflektif dan filosofis. Meskipun dalam puisi yang berjudul Ketika Aku Mencintaimu, kesan “romantis” dan sentimentil (sebagai seorang perempuan yang sedang beranjak dari keremajaannya) itu juga muncul,

KETIKA AKU MENCINTAIMU

Ketika aku mencintaimu
Sesuatu yang mungkin dan tak selalu mengepungku.
Ibarat menghitung bintang
Takkan pernah bisa mengumpulkan angka.
Kadang begitu dekat di pelupuk mata,
Tapi secepat kilat hilang tiba-tiba.
Cinta, begitu tergesa-gesa menjerat sukma.
Yang kecil jadi tiada daya,
Yang kecil jadi dewasa,
Yang pendiam suka tertawa,
Yang tak bisa menjadi bisa.
Yang tak terpikirkan menguasai perasaan,
Yang teramat sukar mampu ditaklukkan.

Ketika aku mencintaimu,
Laut bagai menyatu dengan daratan.
Segala bayangan seperti utuh dengan badan,
Hingga tak ada tabur tersembunyi
Karena rahasiamu menjadi rahasiaku.

Ketika aku mencintaimu,
Adakah kau juga mengagungkan pertemuan?
Saat mimpi jadi bandara persinggahan,
Siang menjadi malam, malam pun berlalu di titik khayal.

Ketika aku mencintaimu,
Tak ada lagi yang perlu kujelaskan.

Madura, 27/09/2015

Andai kita menggunakan periodisasi kepenyairan milik Abdul hadi W.M., maka watak kepenyairan Benazir dimulai sebagaimana Abdul Hadi W.M., memulainya di tahun 60-an dan awal 70-an, sedangkan apa yang ditulis oleh Nacita lebih dekat dengan puisi-puisi Abdul Hadi W.M., pada tahun-tahun perkembangan setelahnya, tahun 70 pertengahan hingga tahun 80-an. Atau mungkin, arah “cinta” dan “spiritual” Benazir, secara kreatif, lebih seiris dengan puisi-puisi yang ditulis oleh Zawawi Imron dan-atau Taufik Ismail sepanjang masa kepenyairannya.

Mari kita bandingkan sekali lagi puisi Banazir dan Nacita, ketika mereka mencoba menulis puisi “teoritik”nya:

PENYAIR GAGAL
Oleh: Benazir

Meski jalan tampak ada
Rasanya tubuhku hilang ditelan sunyi
Nafas ugal sesegukan dalam jantung yang kembang kepis

Meski wajahmu kutemukan berulang
Melipat diri dalam bisu aksara
Aku masih bisa mendengar nafasmu merintih rindu dalam namaku
Aku yakin kau bertasbih aku
Meski bukan hanya namaku

Apa ini kutukan?
Atau hanya rindu yang membeku
Aku bukan perayu
Aku hanya membuatmu candu
Apa salah itu selalu aku?

Rasanya aku telah menjadi penyair gagal
Sebab aku telah menjadi penyihir dalam hidupmu
Mungkinkah aku mengutukmu untuk cintaiku?

Aku tak bermaksud itu

Sumenep, 7 Maret 2016

TEORI CINTA
Oleh: Nacita

Mari bermain, Sayang!
Kita siapkan metode pertandingan
Yang ter-ramu dari rasa dan keinginan
Membaca tubuh, juga pikiran
Masihkan tersembunyi kelalaian dari rindu dan bimbang?

Kita berteka-teki, Sayang!
Seperti barisan kata, silang-menyilang
Bukankah ada tanjakan pun jalan mendatar?
Itu teori: simbol dari keteguhan hati

Lepaskan gairahmu, Sayang!
Biarkan mengembara hingga batas pertarungan rasa
Banyak celah jadi jeram, juga sisi yang bertautan
Tidakkah itu keindahan; lahirnya senyuman

Rebahkan ambisimu, Sayang!
Biarkan nyenyak dalam mimpi panjang
Keheningan akan mengajarkan cinta dan pengorbanan
Tanpa syarat juga jaminan

Madura, 26/08/2015

Dari dua puisi di atas kita bisa melihat bagaimana Nacita lebih “maju” paling tidak selangkah ketimbang Benazir dalam mengembangkan puisi mengenai “Cinta” sekaligus pada konsep mengenai “kepenyairan”. Di mana ketika dalam puisi Penyair Gagal, Benazir seakan hendak menggambarkan konsep mengenai “cinta yang ideal” melalui pengalaman-pengalaman “kebertubuhan” yang masih ia tempatkan dalam ide-ide yang begitu tetap membingungkan; serta melalui dikotomisasi antara konsep “penyair dan penyihir” di mana ia mencoba meretrospeksi konsep kepenyairan dan pengalaman pribadinya sebagai seorang yang “kurang” mampu menggunakan kata-kata secara proporsional, tetapi Nacita, telah menggunakan gaya “permainan bahasa” (Wittgenstein) dalam menjelaskan kedua konsep cinta dan kepenyairaannya sekaligus. Ini menunjukkan bagaimana Nacita dalam konteks demonstratif tertentu ia kembali mampu memberikan “penjarakan” reflektif atas subjek yang hendak ia sampaikan: “Mari bermain, Sayang!/ Kita siapkan metode pertandingan/ … Kita berteka-teki, Sayang!/ Seperti barisan kata, silang-menyilang/…”

Perempuan Madura Yang Menulis Cinta II

Boleh dikatakan Yuni Kartika Sari, Nurul Ilmi Elbanna, Salama Elmie, adalah tiga penyair perempuan Madura yang benar-benar seusia dengan Nacita dalam tahun-tahun kelahirannya (1992-1993). Perbedaannya, baik Yunita Kartika Sari, Nurul Ilmi Elbanna dan Salama Elmie, nampaknya mereka tengah “rajin” mengirimkan puisi-puisi mereka ke media cetak, sedangkan (paling tidak) sepengetahuan penulis Nacita lebih menempatkan kerja-kerja kreatifnya di tengah-tengah audiens yang berkumpul secara realtime di media-media sosial, seperti pada beberapa grup Sastra di Facebook. Sedang umtuk mendapatkan perbedaan lainnya, maka alangkah baiknya kita kembali menyertakan masing-masing sampel dari setiapnya sebelum membicarakannya lebih lanjut;

Yunita Kartika Sari:

LENGKING PERMEN PLUIT

yang terkenang darimu

: bunyi permen peluit
ketika kududuk di komedi putar
yang sama bundar
bola matamu hidup yang lingkar.

sayang, lengkingnya tak sempat
kujamah dengan benar
menguap di gendang telinga
dini. sebelum manis
larut dalam kabut, keningmu.

dari permen peluit itu
ada yang jauh melengking
di hatimu.

2013

BALON MARIA

yang datang dari celah-celah pulang
yang terkadang tak bisa diterka akal
: balon maria yang meletuskan isa
di rahimnya.

2014-2016

 

Nurul Ilmi Elbanna:

MAZMUR MALAM HARI

apa yang dirasakan api
ketika harus membakar dirinya sendiri?
barangkali hanya kepasrahan
seperti juga bebintang yang tak pernah tahu
untuk apa ia terasingkan di langit.

dalam bulan telanjang
ingin kuberjalan sendirian
mencari di mana Engkau bersedia
membuka pintu
untukku

jangan biarkan aku terbakar api
atau terasingkan di langit
sebelum tahu labirin mana tempat berpulang

Dunia Kecil, 24-02-14

BERJALAN KE ARAH GELAP

dalam dirimu hidup satu perempuan yang tak kukenal
bahkan aku tak pernah berjumpa dengannya di dalam hatimu
ia pandai bersembunyi
dan engkau selalu menganggapnya telah mati
tetapi aku tahu ia tak lelah berusaha
membatalkan rencana yang telah kita sepakati

saat kau habiskan waktu bersamaku
di kedalaman lautmu, ia diam-diam membangun istana surga
dan menutup seribu pintunya untukku
di taman kecil kita,
ketika pagi menjatuhkan matahari ke dalam gelas kopi
kita menyeduh sampai candu
rindu yang menggumpai berlepasan dari tubuh serupa debu

kita segera menyatu, kalau perempuan itu tak datang
dari rimbun mawar berduri
ia melangkah gontai meminta dikasihani
perempuan itu,
kini aku tahu.

dia yang sering lewat dalam buku puisimu
pernah kau tulis namanya dalam batu pualam yang hilang
sering bersanding dengan rembulan
pada langitmu yang kini tetap biru; utuh

pada perempuan itu, aku menemukan namamu
selalu berloncatan di antara rumbai rambutnya
perempuan yang menurutmu telah mati

di dalam hatimu, akulah yang selalu datang dan pergi
menyeduh kopi atau meerenungi puisi
rebah dan beristirahat
juga berlari dari sunyi api

semenjak perempuan itu tak kujumpai
debu tak henti mengotori
malam-malam kita jadi gelap
denyar lampu mulai lamur, padahal kita tak pernah alpa
mensucikan cinta yang karat usia.

Dunia Kecil, 01-08-14

 

Salama Elmie:

DI RUANG PUISI

Di kota ini aku merapatkan segala genggaman
dari getar gemuruh para pahlawan
dari banyak kata yang tak usai kujelajahi

Di kota belantara aku terus berjalan
menata kata dan menata hidup dalam kehidupan

Aku kembali membaca bentuk-bentuk luka
menebar segala cahaya dan rasa
di atas dingding setiap asa
dari jejak buku yang terus aku baca
menuju perkampungan cahaya

Kos Bali, 2014

PENGADUAN

Matamu mulai nanar dengan sepi
mengajakku mengembara
rindu yang mengendap di ruang dada
dari kata yang mulai menyisahkan luka

Sementara tak kutemukan apa-apa
kecuali tubuh sepi yang mati

Pada malam aku mengadu
pada sepi aku bertemu
pada jejak aku meminta waktu untuk setia
pada perjumpaan di satu titik yang bernama rahasia

Jogja “UIN SuKa”, 2014

 

Nacita Salsabila:

CINTA MATI

Tuhan, senyumku terukir di bibirnya
Mataku mendekam di matanya
Wajahku dalam wajahnya
Aku mencintainmya

Tapi, ia matahari langit
Aku hanya embun gugur di daun
Menanti sejuk belaian fajar
Yang tertatih membendung angin
Menuju-Mu

Tuhan, aku mohon!
Lepaskan saat wujudnya mewujud diriku
Mengerangkeng jiwaku
Tercekik
Tersisa napas satu-satu
Lungai dalam dekapan rindu

Madura, 2015

SUARA SUNYI

Di kamar ini, sedih selalu tak bisa kita bagi rata:
Matamu baru berkaca-kaca,
Mataku telah meneteskannya
Segalanya (mungkin) sudah terlambat,
Saat kuputuskan mencintai yang mencintaimu
Di jalan itu, sejauh kau menoleh, tak ada siapa-siapa

Dalam kamar ini, saat lampu mati,
Segalanya akan nampak hilang, kecuali engkau–
Dalam diriku yang terang
Hanya gerimis tipis
Serupa tangis

Madura, 24/09.2015

Membaca dua–dua–dua–dua puisi di atas, (para pembaca) sejarah kesusastraan Madura layaklah untuk berbahagia, dan percaya untuk memberikan tepukan hangat kepada keempat bahu perempuan-perempuan ini. Bagaimana tidak, dari keempat perempuan ini, kita tidak dibawa kepada masa depan kesusasteraan yang “gelap”, meskipun (mungkin oleh banyak penyair senior–lelaki Madura) mereka bisa jadi masih dianggap sebagai “pemain baru” dalam kesusastraan Madura, atau lebih jauh kesusasteraan Indonesia. Dalam puisi-puisi di atas, kita bisa melihat bagaimana “pendar-pendar” model perpuisian penyair kawakan bisa tercermin dengan kuat dalam wujudnya yang amat positif; Bukan ingin mengatakan epigon tetapi “mewujud kembali”.

Dalam puisi Lengking Permen Pluit, dan Balon Maria, milik Yunita Kartika Sari, kita melihat betapa model stilistika ala Joko Pinurbo begitu “menggoda” perut kita. Tak hanya pada bentuk permainan metaforikalnya, tetapi pada area ber”main-main”(rasa bercanda)nya yang sama-sama bergerak (hingga) pada ranah isu “teo-hermeneutis” keagamaan yang mungkin bagi sejumlah kalangan akan dianggap cukup sensitif. Dalam puisi Mazmur Malam Hari, dan Berjalan Ke Arah Gelap milik Nurul Ilmi Elbanna, kita akan benar-benar diingatkan pada gaya religio-romantik puisi-puisi Meditasi Abdul Hadi W.M., yang menengahi fase awal dan fase filosofis kepenyairannya pada tahun 70-an akhir dan tahun 80an waktu itu.

Pada dua puisi yang ditulis oleh Salama Elmie, Di Ruang Puisi, dan Pengaduan, kita menemukan bagaimana bentuk “perhatian” pada hal-hal “yang kecil” dan “yang luka”, “yang kosong,” “sepi,” “tak pasti,” sekaligus menjadikannya sebagai sesuatu “yang subtil” dengan cara “menabrak-nabrakkannya” dengan “yang kokoh” dan “yang besar”, mengingatkan penulis pada “gaya” ketebukaan eksistensial Goenawan Mohammad dalam puisi-puisinya. Sedangkan dalam puisi-puisi Nacita Salsabila, sekali lagi kita akan menemukan bagaimana ia tetap begitu setia dalam mengeksplorasi “cinta” sebagai kunci utama puisi-puisinya; pada dua puisi Cinta Mati, dan Suara Sunyi, ia mencoba bicara secara puitis mengenai konsep “wujud,” dan proses “peluruhan” diri pada yang wujud itu, sebagaimana Abdul Hadi W.M. ketika menuliskan puisi Tuhan, Kita Begitu Deka, yang sarat dengan faham filsafatnya.

Ini cukup menarik menurut saya. hemat penulis, kita melihat kecenderungan awal kepenyairan yang benar-benar memiliki energi kreatif yang sama-sama “concern” dan berjalan dalam aras “ontologis”nya masing-masing. Yang menunjukkan, bahwa tradisi perpuisian yang tengah tumbuh (jika memang mereka terus berusaha berkutat makin serius dengan puisi-puisinya, semoga …) dari rahim perempuan-prempuan tanah garam ini, tidak hanya merupakan sebuah fenomena kepenyairan belaka, tetapi awal dari sebuah khazanah intelektual yang baru, dan tentunya tidak “lagi-lagi” mengenai lelaki. Sebab, sebagaimana diungkap Nacita dalam puisinya Ketika Aku Mencintaimu: “Ketika aku mencintaimu,/ Laut bagai menyatu dengan daratan./ Segala bayangan seperti utuh dengan badan,/ Hingga tak ada tabir tersembunyi/ karena rahasiamu menjadi rahasiaku./” Artinya, perempuanpun, pada dasarnya menggenggam mata “Angin dan Arah Cinta” yang sama.

Perempuan Madura Yang Menulis Cinta III

Barangkali setiap penyair memang menulis tentang cinta. Memang benar. Terlebih berbagai definisi tentang cinta telah banyak diturunkan dari begitu panjang ekspresi kemanusiaan yang telah berjalan jutaan tahun. Ada yang mengatakan, bahwa cinta adalah perasaan yang berhubungan dengan keinginan untuk saling berbagi antar satu sama lain, sebuah perasaan untuk terus “menyatu”, atau sebuah “gairah” akan dan mengenai sesuatu, atau bahkan sebuah energi kreatif dan kemanusiaan itu sendiri. Cinta amat begitu universal sekaligus begitu ragam. Sebagai contoh, misalnya pada puisi milik Nay Juireng DJ (yang mungkin dalam batas-konteks pembahasan kali ini merupakan “Perempuan Laut” yang paling bungsu–kelahiran 1996), yang mengekspresikan perasaan-perasaan “cinta” kepada Ibundanya dengan gaya yang ekperimental,

MERINDUKANMU IBU ADALAH ISAK YANG KERAP

Fabiayyialaairobbikumatukaddzibaan..

Ibu’..
Rabalah dadaku
Episode ke episode
Menderu keras di dalamnya.
Sebagai denyut yang tak berhenti
Sebagai lampu yang tak padam
Dan lilin yang membakar
.
Aku ingin berenang pada air matamu yang menderas bu’…
.
Aku ingin menciummu
Hingga tak
Ku temukan riwayat rumit manusia.
.
Ingin aku tabur benih,
tanam tunas.
Merawat pohon-pohon,
Dan menulis sejarah, bercerita bahwa cinta ini adalah dirimu
.
Bu’….
Adalah ketidakadaan yang tak akan menjadi ada
Bila keluhku di rantau masih beradukan hening..
KERUH RINDU, RINDU BERKEPANJANGAN
Ibu, hal yang masih terngiyang dalam hidupku
Adalah ketika aku mengingat kisah salah satu sahabat yang mendatangi rasulullah
Laludenganlirihsahabatitubertanya

“Wahai Rasulullah Siapakah Yang Wajib Saya Hormati?”
Maka Rasulullah Menjawab “Ibumu”
“Siapa Lagi Ya Rasulullah?”
Rasulullah Masih Menjawab “Ibumu”.
Dan Sahabat Masih Bertanya “Siapa Lagi Ya Rosulullah?”
Pun Rosulullah Menjawab “Ibumu, Lalu Bapakmu”

Aku tidak tahu wujud Malaikat
Tapi aku tahu dirimu; bu
Malaikat yang jelas tampak di depan mata
Malaikat yang tak bersayap namun memikul beban
Malaikat yang menyimpan garis-garis bahagia
Pada garis keruh keningmu
Dan luka-luka pada telapak kakimu

Ibu, kepulanganku mungkin terlambat, bukan berarti jauh dari rindu, bu..
Tapi ini adalah luap luas ratapan hati…
Bahwa kita akan bahagia…
Ibu….

Aku sudah dewasa, sudah lupa bagaimana cara minta gendong dengan manja,
Sedang, jarak adalah kerinduan yang tak memiliki tafsir lain selain kejam. Perantauanku kali ini, bukan untuk menjauh dari bahagia bersamamu, bukan untuk menghindar dari senyum dan pelukmu, tapi, ini untuk kita, bu….. Bahwa kita akan bahagia..

Dada ini kerontang bu’…. Menekan kerinduan yang mendalam, kerinduan yang mencekam, hingga jari-jari adalah sangsainya fisik yang terkikis tajam.

Aku rindu padamu bu,…
Maafkan aku masih menyimpan waktu dengan jarak yang tersembunyi

Malang 2014

Terlebih kesan eksperimental yang lebih mencolok pada puisi berikut,

LELAKIKU

Bar…

Alif layyin tubuhmu lentur
Seolah-olah pantai malam dimalamku
Bisik-bisik nafasmu membinarkanku
Menarik-narik mataku disuhu-suhu waktu
Lagi-lagi desah ombak
Keruh otakku
Bising tubuhku
Hingga jagat adalah tubuhmu cahaya mataku
Kau selalu disini
Tidur dan mencari
Seperti luas taman bunga dengan lari-lari anginnya

Bar……….

Alif layyin tubuh airmu membilasku
Berilahs akal dahiku
Sambunglah huruf didadaku
Atau kau gigit bahuku
Dan lilittubuhku dengan hasratmu
Suaramu, bibirselembutbulan
Membuatku sah, sih, suh
Aku peluh dikeras siang
Aku darah dilembu tmalam
Oleh muaku cakar dengan jari-jari rindu
“kita hening, kita sebab, kita adalah isyarat angin, meluruh dada dan segala rasa”

Dan betapa berpelanginya puisi ekperimental Nay Juireng DJ ketika ia menulis sajak cinta kepada (mungkin) sesama remaja seusianya; penuh dengan fantasi, seperti “rancauan” si mungil Alice dari wondeland,

Halaman Kosong

Disini ada halaman kosong sebab merindumu.
kala-kala-waktu-waktu, masa depanpun berlalu
dan aku masih menyimpan larik sajak pada halaman itu
soal waktu
soal aku
pada larik sajak dari sebuah halaman,
ada serupa waktu memintaku berlari
ada hal-hal pada puisi
ada bersikuku menghampiri
ada ruas berkepanjangan
ada santun senyum
ada pelabuhan dermaga
ada aku yang berwaktu lugu

kala-kala-waktu-waktu, masa depanpun berlalu
suara karat, lambat, berkerusuhan parau
waktu berlalu
irama-keirama menghimpit bulu kecil di keningmu.
lalu waktu berlalu

kala-kala-waktu-waktu, masa depanpun berlalu
aku kuas melukis biru
aku gunung berapi tinggi, aku air dikepung mata-mata
kereta itu menjemputku mengajak menari di stasiun kota
lalu berbisik kala-kala-waktu-waktu, masa depanpun berlalu bangun tengah malam lebih indah dari kisah Cinderella
kereta itu menyeret dan memaksaku menghitung panjang lorong tajam.
kemudian bersuara lirih di telingaku
kecewalah sayang biarkan rasamu berkepanjangan tahun bersamaku
kebanggaan dan kesedihan.
kecewalah sayang biarkan rasamu menikam
kebahagiaan dan kesedihan.
kala-kala-waktu-waktu aku pun berlalu.

(Malang 2016)

Tetapi justru dari situlah terkadang mengapa kita menjadi sulit “menentukan” subjek mana untuk mengkaji mengenai “cinta” secara khusus dan melakukan diskursus atasnya; ketika dituntut untuk meraih setiap objek yang menyinggung mengenainya. Dalam keuniversalannya, perasaan-perasaan kemanusiaan yang seringkali disebutkan (atau), diungkapkan sebagai cinta oleh banyak pihak itu, pada akhirnya secara epistemologis kita akan dihadapkan pada kondisi di mana kita akan memilih pada apa subjek-subjek yang memang secara eksplisit memenuhkan suaranya bagi “nomotetikal cinta” itu sendiri: Puisi cinta tanpa titik, yang menjadi manisfestasi ontologis daya kreatif penyairnya.

Bertanyalah pada rasa, lalu katakan akulah belulang,
Pemangsa keindahan
Pengisap darah

Jika setelah semua itu aku tetap suci dalam doa,
Itulah cinta.
Bawa aku dalam kepastian-Nya,
Ikrarkan aku sebagai keabadian,
Sejati dalam satu tarikan napas.

Madura, 25/09/2015. ITU CINTA, Nacita Salsabila.

 

  Jakarta, 12 Juli 2017. Shiny.ane elpoesya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s